Kamis, 14 Juni 2012

Mau marah-marah

sayah mo marah.
benar, sodara!
sayah marrah.

gimana bisa seorang ibu (kalo emang bener-bener ibu)
ngamen di metro bawa-bawa bayi?
orang tua beneran apa bukan, sih?
masak tega gitu bawa-bawa bocah?
biar apa?
biar orang jatuh iba?

sungguh terlalu.

apa itu yang disebut usaha?
apa itu yang disebut cari nafkah?

udah bawa-bawa bayi + bocah umur 4 tahunan,
ngamen pake suara yang kurang dari pas-pasan.
kaga jelas nyanyi apah.

coba sekarang kasih tau sayah,
untuk alasan apah sayah harus memberi dia uang?
untuk rasa kasihan yang akhirnya jadi pembiasaan?
untuk seni? seni bagian mana?

terus,
kalo sayah nggak ngasih uang,
apah sayah ini pelit?
ya, sayah tau pelit emang pangkal kaya.
tapi, apah sayah jadi medit, lokek, bolkuning?

sayah nggak menyalahkan anak-anak yang di jalan
yang dengan santainya bilang,
"Mbak, bagi duit, doonggg.."
yang malak seenak udelnya,
yang malang melintang di tengah kendaraan lalu lalang seenak jidatnya.

http://3.bp.blogspot.com/_NeoLJUDfJFs/Sg6HoL9mtsI/AAAAAAAAAAM/d7b6FQBu7dI/s320/anak_jalanan_1.jpg

sayah nggak menyalahkan mereka--anak-anak itu
karena mungkin itulah nilai kebenaran dan nilai realita versi mereka.

sayah tidak menyalahkan mereka--anak-anak itu
sayah sangat MARRAH pada orang yang ada di balik punggung mereka.
orang yang memotong-motong amplop dan menulisi amplop untuk dibagikan pada penumpang,
orang yang meletakkan mereka di jalan dan menjadikan jalan sebagai rumah untuk mereka.

aduuuhhhhhhhhhhh...
sakiiiit, saaaaakiiiiitttttttt....


http://arrosyadi.files.wordpress.com/2010/07/anak-jalanan.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar