Rabu, 26 Februari 2014

Posesif


          Setelah membaca suratmu yang ini dan surat Evi yang ini, aku teringat sahabatku yang kukenal sejak TK. Aku mengenali perasaanmu, Eva. Aku bahagia dan dalam waktu yang sama aku kehilangan. Maklum, kami terbiasa ke mana pun dan melakukan apa pun bersama-sama, terutama waktu SMA. Orang akan heran kalau salah satu dari kami tidak ada.
          Aku masih ingat waktu ia berpacaran dengan salah satu kawan yang satu sekolah. Aku kesal, Eva. Hahaha… barangkali aku egois, aku lupa kalau dia punya hidup sendiri. Aku jadi sering pulang sendiri sedangkan dia bersama pacarnya.
         
          Eva, akhir 2011 ia bilang berencana menikah dengan salah satu teman kampusnya.
          Aku bahagia sekali—dan cemas sekaligus.
          Berbagai kekhawatiran muncul. Kukira perempuan di mana saja, ah tidak, SIAPA PUN, sama: akan protektif terhadap orang yang dikasihinya. Aku sahabatnya, tetapi bukan orang yang selalu ada untuknya. Tidak seperti kau dan Evi barangkali. Aku hanya mengetahui hal yang ia ceritakan kepadaku.
          Dengan mata penuh cinta, ia kerap menceritakan calon suaminya yang belum kukenal baik. Dia akan mengomel bila si kekasih membuatnya kesal dan seterusnya lalu aku memilih untuk menghadap makanan sambil mendengar ceritanya. Kami mempersiapkan beberapa hal terkait pernikahannya, seperti memilih undangan dan mencari suvenir.

          Eva, di mataku dia perempuan dewasa (tidak seperti aku yang kekanak-kanakan) dan dalam penglihatanku bisa kulabeli perempuan yang salihah. Sampai kapan pun aku sadar betul tidak akan bisa sejajar dengannya dalam hal ini. Aku kagum kepadanya.
          Mei tahun 2012 ia menikah. Ia berjalan tanpa aku. Ia selangkah di depanku.
          Aku ini egois, Eva. Nanti aku ke mana-mana akan dengan siapa? Padahal biasanya aku sering lupa kalau aku ini jomblo kala pergi dengannya. Hahaha… .
          Namun, aku teringat waktu sekolah: ia memiliki hidupnya sendiri.
         
          Eva, ia akan bahagia.
          Itu yang selalu aku yakini. Aku datang ke pernikahannya, menginap sejak malam sebelum pernikahannya, menggenggam tangannya tak kasat mata. Bila aku merasa takut, kurasa ia lebih takut menghadapi besok yang mengubah hidupnya.
          Dia akan bahagia.
          Itu selalu aku yakini. Aku sangat berharap lelaki yang amat dicintainya sadar betul bahwa sahabatku mencintainya dan menghormatinya. “Jaga temanku baik-baik, ya! Jangan nakal,” begitu pesanku kepada si Lelaki.
          Mereka menikah.
         
          Sampai berita itu datang.
          Setahun kemudian pernikahan mereka harus berakhir. Kurasa yang retak bukan cuma hatinya. Hati orang-orang yang yang mencintainya itu tentu ikut patah. Termasuk aku.
          Kalau kau pernah berpikir kau tidak akan menikah, pikiran itu pernah juga datang kepadaku. Hidup bersama orang yang kita cintai bukan jaminan kita tidak akan tersakiti. Namun, lihat sahabatku! Dengan gagah berani (kubayangkan ia seumpama Laksamana Malahayati menghadapi Belanda), ia menjalani hidupnya.
          Ia akan bahagia.
          Sahabatku itu.
          Itu yang aku yakini hingga saat ini. Innallaha ma’ana (Allah bersama kita). Aku selalu bilang kepadanya, “Jika tanganku tak kunjung cukup memelukmu, Allah akan selalu bisa merangkul hingga jiwamu.”
          Eva, genggam tangan Evi baik-baik—hal yang tidak selalu bisa kulakukan kepada sahabatku. Menikah memerlukan keberanian yang besar, keberanian untuk menjalani hidup. Bismillah, maka semua baik-baik saja.


Peluk jauh,


Ika Fitriana


n.b.: surat ini kukirimkan dengan seizin sahabatku yang cantik dan hatinya selalu terpelihara. Innallaha ma’ana, Sayang. Selalu kuat.


8 komentar:

  1. 1. Hidup bersama orang yang kita cintai bukan jaminan kita tidak akan tersakiti.
    2. Menikah memerlukan keberanian yang besar, keberanian untuk menjalani hidup.

    dua kalimat itu menggelitik sekali, Ka.. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya, Onty.. :')

      Hapus
  2. Balasan
    1. Pun aku baca suratmu dan surat Eva. Selalu bahagia, Sailormoon!

      Hapus
  3. Balasan
    1. Iya, Prie. Bisa jadi ia baca salam darimu.. :)

      Hapus
  4. menggenggamnya tak kasat mata. itu dalam sekali maknanya :') aku sukaa \(´▽`)/
    - ika, tukangpos

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaay! Terima kasih, Kak Elikaaah.. \(´▽`)/

      Hapus