Kamis, 06 Februari 2014

Penjual Balon Bermata Kaca

Pak, Bapakku yang sedang pegang setang motor,
          Lihat nggak di jalan tadi ada penjual balon yang duduk agak memeluk lutut? Lihat matanya yang berkaca-kaca kala memandang keluarga Pak Raden yang bermobil tiga?

Pak, Bapakku yang duduk di depan,
          Penjual balon itu tinggalnya di mana, ya? Dia mesti jalan berapa jauh untuk berjualan, ya? Apa dia sudah punya keluarga?

Pak, Bapakku yang konsentrasi lihat lalu lintas di depan,
          Kalau matahari sedang senang dan memancarkan sinar paling terik, penjual balon itu bagaimana, ya? Apa dia punya topi? Kalau hujan yang lagi pesta, penjual balon itu bagaimana, ya? Apalagi kalau halilintar ikut-ikutan. Akan berteduh di mana dia? Apa dia selalu dapat tempat berteduh?

Pak, Bapakku,
          Terus lagi… Oh, ya, Pak, sebagai penjual baso yang pernah keliling, Bapak sudah merasakan itu semua ya, Pak?


8 komentar:

  1. aku terenyuh bacanya. duh! :'(

    BalasHapus
  2. kemaren nasgor, sekarang baso. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku cinta makanan Indonesia, yay!

      Hapus
  3. bagus sekali surat ini, aku suka.
    sederhana, tapi dalam maknanya.
    semangat terus yaa :D
    -ika, tukangpos

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, ah, makasih, kak elikah.
      semangat untukmu juga.. :D

      Hapus
  4. Akh, kenapa sih si Ikaff ini selalu menemukan cerita dari hal-hal yang sederhana sekali pun. Hemphhhh, aku ngiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. well, aku nganan, sih.
      hahahaha..
      nggak lucu, kaf!
      ._.

      Hapus