Senin, 10 Februari 2014

Kuliah Jurusan Bahasa dan Sastra

Kepada Vanda Kemala

Hai, Onty!
          Aku mau cerita!
          Tempo hari aku dikejutkan dengan pernyataan siswaku yang kelas 6 SD. Apa itu?
          Dia bilang dia mau kuliah di jurusan bahasa dan sastra!
           Waw banget, menurutku.
          Teman-temannya yang lain keinginannya jadi arsitek, dokter, pemain bola, atau duta besar. Yang mau jadi duta besar itu alasannya biar dia bisa menikah dengan bule! Nggak ngerti deh, dengan anak zaman sekarang.
          Ah, balik ke siswa yang ingin kuliah di jurusan bahasa dan sastra. Kita sebut saja Mawar. Waktu itu kami tidak sedang membahas cita-cita. Ia tiba-tiba saja bilang mau kuliah di jurusan bahasa dan sastra.
          Mendengar Mawar bilang mau kuliah di jurusan bahasa dan sastra, teman sebelahnya tanya, “Ah? Emang nanti kalau kuliah di jurusan bahasa dan sastra jadinya kayak apa?”
          Temannya yang lain menyahut, “Penerjemah, ya?”
          Yang lainnnya lagi menjawab, “Hah? Bukannya jadi yang ngomong-ngomong di film kartun bisa juga?”
          “Dubber? Ya, ya… bisa jadi,” jawabku setengah geli. Habisnya, keinginannya itu tidak biasa. Terus, lihat respon teman-temannya? Mereka lalu membahas akan jadi apa setelah kuliah jurusan bahasa dan sastra. Nggak sampai di logika mereka “kuliah di jurusan bahasa dan sastra”. Itu asing.
          Aku bertanya kepada Mawar, “Memang kamu mau kuliah di jurusan bahasa dan sastra apa?”
          “Lah, memang ada banyak, Kak?” temannya yang menyahut.
          “Iya,” jawab Mawar. Dia lalu beralih kepadaku dan berkata dengan mantap, “Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Kak.”
          “Loh, kayak Kak Ikaf, dong?” respon temannya. Dia lantas bertanya kepadaku, “Kakak kuliah bahasa dan sastra Indonesia, kan?”
          Aku mengangguk sambil senyum-senyum.
          Teman Mawar itu langsung berkata kepada Mawar, “Eh, ntar kamu jadi kayak Kak Ikaf, lhooo~” (Kalimat terakhir ini diucapkan dengan irama nakut-nakutin).
          “EMANG KENAPA KALAU JADI KAYAK SAYA, HA?”
          “Iya. Aku mau kayak Kak Ikaf!” seru Mawar.
          Woh. Mataku membesar. Aku terharu banget, Onty, ada siswaku yang bilang gitu. Aku senyum-senyum GR. Senyum GR-ku pudar mendengar alasannya. Apa dia bilang?
          “Aku mau kayak Kak Ikaf. Bisa marah-marahin orang!”
          DUAR!
          KENAPA-MAU-JADI-KAYAK-AKU-BIAR-BISA-MARAH-MARAHIN-ORAAAANG?
          Terus, untuk marah-marahin orang kuliah di jurusan bahasa dan sastra dulu gituu?
          Duuuuuhhh… .
          Em, konon katanya aku memang galak, Onty. Sempet punya rencana bikin perkumpulan orang-orang galak dan judes seluruh Indonesia juga sik. Eh?
          Mendengar Mawar bilang begitu, kelas mendadak riuh. Mereka kemudian mengobrol berdua-bertiga dengan teman sebelahnya. Ada yang masih asyik dengan seputar pekerjaan yang cocok untuk lulusan bahasa dan sastra (“Penerjemah, kan?” tanya yang satu; “Masak penerjemah doang?” sahut yang lain). Si Mawar dan teman sebelahnya masih ngomongin aku. Mereka ngobrol dengan suara yang tidak pelan, tapi seolah merasa aku tidak mendengar atau tidak ada di situ.
          Mawar bilang, “Iya tauk, aku suka suaranya Kak Ikaf.”
          “HEH, SUKA SUARA SAYA GIMANAAAA?”
          “Nah, tuh. Kayak gitu, Kak,” jawabnya kalem.
          Grrrrr… .


8 komentar:

  1. MWAHAHA, dikerjain anak-anak,
    semangat bu guluuu
    - ika, tukangpos

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaaaa...
      semangaaaaaattt...
      (9 ',')9

      Hapus
  2. kenapa selalu "mawar"? bukan melati, anggrek, kenanga, atau yang lainnya? #Persoalan

    TERIMA KASIH!!!! *KETJUPIN IKAF*

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa mawar?
      karena aku sayang dia.
      *cups*

      Hapus
  3. Aku jadi wakil ketua deh kalo kamu mau bikin perkumpulan orang-orang galak-judes-jutek-nakutin-negis-menyeramkan. Hemmmm.

    Salam buat mawar!
    Durinya ngga cukup tajam bikin Ikaafff (jadi) baik hati dan (ngga) galak

    BalasHapus
    Balasan
    1. okeh. nanti kususun dulu berkas-berkasnya.
      kita nanti tentukan pengurus harian dan kepala diklatnya.
      jadi orang galak judes nakutin menyeramkan itu perlu dilatih agar sesuai kaidah.
      nggak asal galak dan judes tanpa arah.
      (',')9

      Hapus
  4. kalo "perkumpulan orang-orang galak dan judes seluruh Indonesia" udah jadi, aku daftar, ya? ;;)

    BalasHapus