Sabtu
pagi (14 /9) gaduh. Si adek mau nonton konser girl band Korea itu. Ini pertama kalinya ia menonton
konser—sekaligus pengalaman pertama keluarga kami ada anggota yang mau nonton
konser. Mama sibuk memberi komando semacam, “Pak, itu telurnya digoreng buat
bekal!” atau “Kamu tempatin minumnya, Dek. Itu tempatnya udah Mama siapin”.
Ya.
Bapak ikut nyemplung ke dapur menyiapkan sarapan dan perbekalan
adek nonton konser—ehm, sebenarnya emang Bapak biasa terjun ke dapur, sih... .
Doi lebih jago masak dibanding semua perempuan di keluarga kami (Mama, aku, dan
adek).
“Daripada
jajan di sana. Mahal doang, kenyang nggak,” begitu alasan Mama.
Sambil
menyiapkan ini-itu, Mama komat-kamit memberi pesan, “Hati-hati di sana, Dek.
Waspada. Gini hari berangkat, emang konsernya jam berapa, sih? Apa? Konsernya
masih kapan tahu kok gini hari udah sibuk? Nanti kamu di sana ngapain? Duduk apa
berdiri? Duduknya di mana? Lah, kalau jalan-jalan, ntar tempat duduknya
didudukin orang gimana? Terus, itu kalau nonton, ngapain aja? Eh, kamu mau nasi
uduk? Itu roti tawarnya dibawa.”
Menurutku,
adalah sebuah keajaiban Mama bisa melepas anaknya nonton konser. Biasanya, itu
hal mustahil! Mama pencemas keterlaluan soalnya. Dengar anaknya jatuh aja bisa
bikin jantungnya melorot sampai ke kaki (ehm, naudzubillah min dzalik, tapi maksudku, beliau memang pencemas
banget!). Sebelum pergi ke mana-mana, selalu akan ada interogasi. Pertanyaan
pasti: ke mana, sama siapa, anak mana, rumahnya di mana, ngapain aja, pulang
jam berapa, kalau beliau bisa nelepon atau SMS mungkin akan tanya nomor telepon
kawan pergi kami. Begitulah.
Keluarga
kami memang begitu. Satu punya acara, semua repot. Mama dan Bapak akan berupaya
kami keluar rumah dalam keadaan siap dan memastikan kami aman.
Oh,
ya, sementara Mama dan Bapak sibuk menyiapkan keperluan adek itu, aku
tidur-tidur ayam. Ketika akhirnya bangun dan keluar kamar, melihat penampilan
si adek dan bawaannya, aku ketawa ngakak.
Si adek siap berangkat konser dengan tas ranselnya dan goody bag berisi makanan: roti tawar
seplastik, minum dua botol, nasi uduk dan lauk (aku malah pernah datang ke
pesta buku Jakarta dengan bekal sayur asem! Sayur favoritku, sih, emang,
hehehe..), dan entah apalagi.
“Kamu
mau kemping di mana, sih?” komenku. “Hahahaha… .”
Em,
meski begitu, aku tahu dan sadar betul, yang dia bawa itu bukan sekadar bekal,
melainkan cinta orang tua kami. Entahlah, kurasa, orang tuamu begitu juga. Cuma
mungkin caranya yang beda. Ya, kan?
Terima
kasih, Mama dan Bapak. Kami siap keluar. :)
Untuk
adek:
Ciye
naik angkot ciyeee~
Mabok,
nggak? Hahahaha..
*biasanya
doi nggak lepas dari Abang (motor kami) soalnya*
Btw,
syukurlah keinginanmu terwujud, dudz.. :’)
(14 September 2013)
huahahahaha aku dijadiin bahan cerita, hih..
BalasHapushohohoho alhamdulillah, tinggal ngeliat pacarnya Seohyun aja nih yang belom..
mabok sih, nggak, puyeng doang hahahaha
aku cuma mau cerita, bukan sengaja ngejadiin kamu bahan cerita.. *apeulah* :b
Hapus