Senin, 28 Januari 2013

untuk Tukang Kue Putu



Hai abang tukang kue putu,
            Apa abang tahu betapa takutnya aku dulu tiap abang melintas di depan rumahku?
           Tuuu… tuuu… suara bambu yang menyayat-nyayat seperti suara anak yang menangis itu membuat anak seatraktif aku—bukan bandel, lho, ya?—lari ke rumah dan bersembunyi di tirai jendela.
      Mama selalu bilang, kamu itu perwujudan tukang cekok: orang yang memasukkan ramu-ramuan tradisional ke sebuah kain lalu menjejalkan kain itu ke atas mulut agar obatnya masuk. Mana mau aku yang tidak suka obat dan jamu ini berurusan dengan tukang cekok? Hih. Kain kumal tukang cekok selalu melintas di benak saat kau lewat—apalagi berhenti—di depan rumahku. Jantungku rasanya mau kabur. Takut aku.
            Abang tukang kue putu,
            Tahukah kau, hingga aku besar, aku baru mengenal putu dan kelepon. Itu pun setelah mengalami proses penyelidikan—ala aku sendiri tentu. Aku lihat orang-orang yang mendekatimu, pulang dalam keadaan menangis atau tidak. Aku cari asal suara “tuuu, tuuu” itu, ada anak nakal yang menangis yang kausembunyikan di gerobak atau tidak. Aku yang semula tidak mau melihatmu sama sekali mulai memberanikan diri mengintipmu dari balik tirai. Sebisa mungkin tidak terlihat.
            Uh, syukurlah, kamu tidak benar-benar menakutkan, Bang. Itu semata ulah Mama yang menurutnya aku tidak bisa dinasihati dan hanya kapok jika merasakan sendiri; dan aku takutnya hanya cekok. Semoga tidak ada anak yang takut lagi kepadamu sehingga mereka bisa merasakan kue buatanmu yang sangat Indonesia itu.
            Sekian suratku. Selamat berjualan, Bang. Semoga orang-orang tetap menyukaimu sehingga daganganmu laris.

Salam cekok,

aku

4 komentar:

  1. Surat yang indah dan keren. hehehe salam kenal teh dari abdi ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mas. Salam kenal juga.. :)

      Hapus
  2. Ayeee. heheheku tunggu postingan untuk hari yang ke 29 teh. heheheh ^_^

    BalasHapus