Kamis, 14 Februari 2013

Ada Hujan

Hujan.
Orang-orang menepi.
Aku tetap berlari.
Dengan begitu, aku bisa beramah tamah dengan mereka: hujan, angin, halilintar, dan aroma tanah.

Eh, ada hujan menginap di sepatu. Ada juga hujan di balik batu.

Apa kautahu,
payung itu sembilu bagi hujan yang turun dengan rindu menggebu; menyapamu.

Tentang halilintar itu,
dialah sang Bapak
yang panik karena anaknya belum pulang
padahal malam kian larut.

Bukan karena aku mencintai hujan, aksara ini berbaris di sini.
Bukan.
Aku nggak suka hujan dan kehujanan.
Oleh sebab tidak suka itu,
Aku berusaha memahami tingkah lakunya hujan.
Begitu.


(13 Februari 2013)

8 komentar:

  1. ibu guruuuu... ini bagus, aku sukaa... :D

    BalasHapus
  2. Jadi kamu sedang berusaha memahami aku. Soalnya aku Dewi Hujan, begitu ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah, jadi kamu dewi hujan? ya, ampun.

      Hapus
  3. takut basah ya jadi ga suka ujan?

    BalasHapus