Sabtu, 16 Februari 2013

Kamu pernah benar, kamu juga pernah salah

Kamu pernah benar, kamu juga pernah salah.
Kamu manusia, Sayang… .

Aku setuju cinta harus memiliki.
Sayangnya, yang kau “harus”-i tampaknya bukan aku… .

Aku takut, kamu takut.
Barangkali kita selamanya akan begini,
bercakap-cakap di ruang sendiri-sendiri
hingga waktunya bagi kita pergi.

Aku sempat berusaha tanpa kamu.
Kamu sudah sempat tampak bahagia kala itu.

Berikutnya, dengan satu sapamu, runtuh lagi aku.
Kembali aku cari kamu.

Sejak semula aku merasa aku hanya waktu luangmu.
Terlebih waktu itu.
Hatimu masih kautitipkan pada masa lalumu.
Kamu tidak tahu seruntuh apa aku saat
kata-kataku kaugunakan untuknya.

Kata-kataku untuk kamu, bukan untuk dia.

Sebut aku pengecut yang lari.
Aku terlalu takut hatiku yang kaucuri
hanya untuk kauremukkan
lalu kaukembalikan lagi kepadaku.

Barangkali benar aku menjadikanmu satu-satunya
prioritasku saat ini
sedangkan aku hanya salah satu prioritasmu.
Namun, satu yang perlu kausadari benar-benar,
berapa kali pun daftar prioritasmu berubah,
tetap ada aku.

Aku adalah “kamu”-mu.

Aku bukan kamu, yang bisa tak pakai hati,
tetapi tenang saja, saat kau tak lagi butuh aku,
aku akan berlalu,
meskipun untuk itu aku pasti berdarah-darah.

Bukankah terkadang bahagia tidak melanda dua orang secara bersamaan?

Tentang bertemu,
bertemu kamu mungkin aku diam.
Ini karena aku pasti menghayati betul waktu itu
juga karena toh kamu sudah tahu semua kataku.

Kamu itu,
kamu tidak sempurna.
Kamu tidak sabaran.
Kamu sensitif.
Kamu ekspresif di tulisan.
Kamu pemikir.
Kamu terkadang menjelma sebagai alien dari dimensi berbeda
yang tak terkejar logikanya.

Egomu tinggi.
Gengsimu tinggi.
Keras kepala.
Omong tak mau kalah.
Suka dipuja.

Dan, satu yang jelas,
Kamu butuh aku.

(Angkot M-26, 24 Oktober 2012, malam)

6 komentar:

  1. Suka ni yang kayak gini.. bahasanya gak ribet..karna gue gak terlalu paham dengan sastra..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehe.. emang nggak pengen ribet..
      makasih apresiasinya.. :)

      Hapus