Sabtu, 14 Juli 2012

Percakapan kami di efbe :)

Senin, 09 Juli 2012

Efek~

Mungkin efek Sadgenic atau apa, voila, syahdu melanda. Tiba-tiba aku punya banyak stok kata. Serasa kaya, punya pabrik, begitu.

Aku masuk ke dalam diriku. Di tengah jalan aku bertemu rindu. Kucermati rindu di depanku. Menyeruak kataku, "Bukankah rindu itu peluru? Ia akan mencapaimu sebelum kau sempat bilang 'rindu'."


Oh, oh, aku menjelma sebagai rindu yang melesat menujunya: sebuah cerita, sebuah dunia, berjuta warna, berjuta aroma. Samar-samar muncul sosok Tuxedo bertopeng yang blur. Ia berdiri di atas kastil. Jubahnya yang terayun-ayun dibuai angin memanggilku. Kutanyai dia, "Siapa kamu?"


Dia tersenyum lalu mendekatkan mulutnya ke kupingku. Bisiknya, "Kautahu, kita cuma tinggal memetik tanda-tanda yang dikirim semesta."


Mendengar itu ada yang melonjak-lonjak gembira. Ia menatapku heran seolah bertanya, "Itu siapa?"


Sambil tersenyum malu-malu kujawab, "Iya, kupikir itu siapa yang melonjak-lonjak. Ternyata hati, yang tahu kamu akan pulang kepadanya."


Ups.

Kututup mulutku.

Aku takut salah bicara, mengingat.. em, mengingat sebelumnya pernah ada cerita mengenaskan. Cerita itu berjudul "Tiga Anak Kecil yang Dikubur".

.. Yang baru saja dikubur itu tiga anak kecil: "aku", "jatuh", dan "cinta". Kalau kamu bukan perasa, kamu tak kan tahu ada aborsi di sini.

Olala, tanpa sadar lagi-lagi aku berpikir sambil bicara. Kata-kata separagraf tadi itu ternyata kulisankan juga kepadanya. Tahulah dia apa yang terjadi.


Dengan baik hati, ia tersenyum dan berkata, "Tahukah kau, Tuhan selalu memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Buktinya, Ia selalu mengirimkan pagi untuk memulai hari... ."

:))


Kamis, 05 Juli 2012

Tidak Patah Hati


           Ya, memang. Keajaiban tidak pernah berhenti. Tangan Tuhan selalu bisa mengisi ranah yang logika saja angkat tangan. Salah satunya pertemuan kami. Aku dan Him.
          Seperti yang sudah diduga, aku bertemu dengannya di satu reuni dalam keadaan dia sudah memiliki pasangan. Sebelum bertemu, aku sudah berulang kali bilang pada hatiku untuk bersiap, bilang pada mataku agar menjaga tingkat nanar mata, bilang pada rangka tubuh untuk tetap berdiri, dan bilang pada kakiku untuk tetap menjejak bumi.
          Saat melihat Him bersama perempuan itu aku bersiap merasa cemburu. Kutunggu rasa itu muncul. Namun, tidak ada cemburu.
          Kupikir, ini tidak mungkin.
          Aku masuk lebih jauh ke dalam diriku. Mencari rasa cemburu. Mengumpulkan serpih hati yang patah. Sayangnya, oh... aku dikecewakan, bahkan oleh diriku sendiri.
          Tidak ada patah hati.
          Hampa.
          Tidak ada rasa.
          Tidak sedih, tidak kecewa, tidak gembira.
Aku menjelma menjadi astronot di ruang hampa udara. Namun, kurasa pikiranku pingsan. Alien sudah mengambil alih diriku.
Ia, perempuan itu, pasti orang yang sangat beruntung. Ia bersanding dengan Him.
Eh, tidak. Bukankah aku tidak percaya dengan keberuntungan sepihak?
Lalu kuputuskan begini, perempuan itu beruntung bersanding dengan Him, Him beruntung menggandeng perempuan mungil itu, dan aku beruntung bertemu dengan Him (akhirnya), bertemu keduanya.
Seandainya perempuan itu bermata segitiga atau berhidung seperti Voldemort, barangkali aku bisa dengan bebas mencercanya. Sayangnya, Tuhan terlalu sayang padaku dan membuat aku tidak bisa mengeluarkan makian paling halus sekali pun.
Him begitu rupawan, si perempuan begitu menawan. Adakah hal lain yang lebih adil dari ini?
Aku kosong.
Tidak, aku tidak patah hati.
Tidak, tidak patah hati.
Tidak, patah hati.
Tidak-patah-hati... . 



Rabu, 04 Juli 2012

Oh!


Oh!
Aku terpekik sendiri.
Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku bukanlah aku yang selama ini kukira. Ternyata betapa aku merupakan bentukan masa lalu. Ternyata karya-karyaku merupakan hasil terjemahan (dan kurasa bukan cuma itu!) atas karya-karya lain yang aku nikmati.

Ceritanya begini,
Aku sedang iseng membaca (kembali) kumpulan cerpen Zat. Ada karya Andryanto Swismo, M Rois Said, Ruslan Ghofur, Supardal, Wa Ode Wulan Ratna, dan Irsyad Ridho. Terutama pada bagian cerpen Cukuplah Sore Ini Untukku karangan Andryanto Swismo, betapa aku menyadari bahwa cerpennya telah merasuk jauh ke dalam diriku melebihi perkiraanku. Ada karyaku yang mirip dengan cerpennya, ternyata.

Sadarlah aku.
Ternyata aku kerasukan karya-karya lain yang pernah aku nikmati—yang kemudian menjelma menjadi nutrisi pengaya tubuh. Barangkali mereka—karya-karya itu—mengendap-endap masuk melalui berbagai lubang di tubuhku dan sewaktu-waktu keluar dengan atau tanpa kusadari.
Selanjutnya aku berpikir, menghitung, berapa banyak karya yang memengaruhiku? Seberapa  besar karya-karya itu merasuk tubuhku?
Oh!
Aku tak pernah tahu!

Ada rantai di sini.
Si orang yang memengaruhiku dipengaruhi orang lain lalu orang lain itu dipengaruhi orang lainnya lalu orang lainnya dipengaruhi orang lain lagi, dst.
Rantai menuju masa depan juga terhampar.
Ada orang lain yang dirasuki tulisanku kemudian aku terperanjat ternyata tulisanku dan tulisannya telah kawin menjadi pasangan hidup yang berbahagia.

Sampai di mana,
Aku tidak tahu pengaruh-memengaruhi ini berakhir.


Selasa, 03 Juli 2012

Di bawah Telapak Kaki Ibu


Saking dimuliakannya perempuan (baca: ibu), sampai-sampai diibaratkan “surga itu di bawah telapak kaki ibu”. Secara iseng kulihat kakiku dan kubayangkan ada surga di bawah telapak kakiku. Hanya saja, berhubung aku belum berkeluarga, belum jadi ibu, kupikir belum ada surga di sana. Lebih lanjut kubayangkan, barangkali saat ini sedang ada proyek pembangunan surga di telapak kakiku, berhubung aku masih menjadi calon ibu, belum jadi ibu yang sebenarnya. Hihihi... .

http://romokoko.com/images/mencuci_kaki_ibu.jpg