Kamis, 14 Maret 2013

Jemari


          Sebuah akun puisi menantang dengan kata “jemari”. Aku lantas teringat kepadanya. Dia yang dulu pernah mengulurkan tangan kepadaku dua kali. Ya, dua kali. Itu pun aku tak sanggup memandang wajahnya.
          Pertama, saat latihan paskibra. Kala itu kami diminta baris-berbaris di selokan. Dalamnya kira-kira sebetis. Tangannya terulur sewaktu aku membutuhkan bantuan untuk naik ke jalan.
          Tangan-tangan kurus itu menyapa jemariku.
          Kedua, ketika berkeliling Pulau Rambut. Aku sekelompok dengannya. Ah, apa kautahu senangnya aku? Tangannya berperan membantuku melewati hutan bakau yang sedang pasang. Air mencapai pinggul. Kakiku sempat terperosok—saat itulah jemarinya menyapa.
          Mengingatnya, dengan kata kunci “jemari”, aku anggit sebuah puisi:

          Melalui jemari
          segala rasa terulur,
          tersampaikan
          —kita tak perlu bicara apa-apa.

          Kautahu,
          jemariku selalu ingat jejak tanganmu
          —dan mereka sudah tahu,
          tangan itu tak lagi menyapa mereka
          seterusnya. 

7 komentar:

  1. Cie cieee... yang lagi kangen ;-)

    BalasHapus
  2. Kemanakah si pemilik jemari itu?

    BalasHapus
  3. Akkhhh, Emaaakkkkk keren deh puisinya .............

    BalasHapus
  4. makasih infonya, ada cerita seru, ga nyesel deh kalo dah baca(blog saya juga dofollow auto aprove lho) main ke sini yuuk http://www.bukuhidupandre.blogspot.com

    BalasHapus