Sabtu, 11 Juni 2016

Trip 3 Pulau (4): Perkampungan Nelayan Muara Kamal

          
Salah satu kapal nelayan

Tulisan ini merupakan bonus. Hahaha. Karena ikut trip 3 pulau, aku mendapat bonus trip ke Muara Kamal. Lha, kan itu tempat berkumpulnya?
          Nah, itu dia! Gini ceritanya.
          Kalau pinjam istilahnya Payung Teduh, waktu kami tiba itu pagi terlalu pagi. Hahaha. Pukul 08.30 kami dijadwalkan berangkat, pukul 07.00 kami sudah tiba. Karena malam sebelumnya tidur pukul 12-an dan bangun pukul 3-an, aku nguantukk banget! Itu sebab, ketika sampai di Masjid Nurul Bahar (titik kumpulnya), aku langsung… makan piza! Haha. Kami memang beneran bawa piza sisa semalam. Ada yang ulang tahun dan traktir piza.
          Habis makan piza… ya tidur!
          Entah anugerah atau apa, aku yang emang pada dasarnya gampang tidur di mana saja, langsung tidur begitu badan rebah. Sampai pukul 08.00. Lumayan satu jam. Mata nggak gitu jendul. Eh, apa malah tambah? Bodolah. Bukan itu fokusnya.
Pemandangan yang kutangkap sambil tidur-tiduran (terus tidur beneran) di Masjid Nurul Bahar
          Bangun pukul 08.00. Voila! Kirain peserta yang lain (dan tour leader dari tukang jalan dot com) sudah datang, nyatanya… masih kami! Dengan berat mata, aku bangun. Celingak-celinguk dan tidak berapa lama satu per satu bermunculan peserta lain.
          Aku senang sekali ketika tour leader sudah datang. Berarti registrasi dan cepat berangkat, dong? Dong. Mas Rae, tour leader kami bilang, kalau sudah kumpul semua, kami jalan pukul 08.30 (sesuai jadwal). Sayangnyaaaa, ada grup peserta yang telat! Mas Rae datang lagi dan bilang kami berangkat pukul 09.00.
          Uh.
          Terus ngapain dong kami selama menanti?
          Kalau aku tidur lagi, nggak cukup deh kayaknya tidur setengah jam. Aku keluar masjid dan… jalan-jalan. Aku ajak seorang temanku untuk mengeksplorasi Dermaga Muara Kamal. 
          Mulanya aku hanya melihat-lihat perahu yang tertambat di dermaga. Banyak perahu nelayan di sana. Berbagai model, berbagai ukuran. Ada yang semacam kano, ada yang perahu besar dengan lampu-lampu yang banyak. Nun jauh di sana, agak tertutup kabut, Yayasan Budha Tzu Chi. Hm, kupikir berarti aku di sisi lain hutan bakau yang ada di Pantai Indah Kapuk.
          Dari sisi kiri aku mendengar sekelompok ibu-ibu sedang berbicara. Aku tidak mengerti kode bahasa mereka. Belum pernah kudengar. Kalau yang bicara itu orang Betawi, Sunda, Jawa, Minang, atau Batak, aku pasti tahu. Kuduga mereka orang Sulawesi dengan berdasar aku melihat sebuah perahu bertuliskan “Putra Bone”.
          Ibu-ibu itu menurunkan sesuatu dari atas. Cara mereka menurunkannya seperti menurunkan bendera. Apa itu? Ternyata ikan! Ikan-ikan itu dijemur! Aku masuk masjid dan memanggil Kak Evi, temanku. Dia punya ketertarikan yang sama denganku. Kami banyak menduga-duga hingga akhirnya memutuskan berkeliling.
Menjemur ikan
          Perkampungan nelayan di Muara Kamal ini tampaknya dari suku yang sama. Kode bahasa mereka senada. Aku makin penasaran.
          Rumah-rumah mereka dibuat dari kayu dan bambu. Jalanannya pun. Ada sih beberapa rumah yang berdinding keramik, tapi rumah itu terendam air—kemungkinan besar air laut. Apalagi?
Jalanan di perkampungan nelayan Muara Kamal
Rumah mereka dibangun di atas laut yang berwarna hitam dan baunya warbiyasak!



          Di depan masjid, aku sempat melihat pecahan cangkang kerang hijau. Setelah berkeliling, aku memahami bahwa masyarakat setempat memang membersihkan kerang hijau. Mereka tampak mengetuk-ngetuk kerang hijau dengan menggunakan alat. Ada beberapa titik tempat pembersihan kerang hijau.
Beberapa warga tampak membersihkan gunungan kecil kerang hijau
(ada lho kami lihat gunungan kerang hijaunya lebih tinggi)
          Di perkampungan tersebut ada kamar mandi umum berjumlah tiga pintu. Tampak seorang ibu sedang mencuci baju. Mungkin itu air bersih, bukan air payau. Di masjid sebelumnya aku melihat papan daftar nama warga yang sudah membayar “uang air bor”. Tiap bulannya Rp25.000,00.
          Air-air di tampung dalam wadah yang besar seperti tong atau ember-ember. Warga sekitar menempatkan air di depan rumah. Ada anak yang tampak sedang mandi menggunakan air tersebut. Untuk buang air besar, kami melihat seorang kakek buang air besar di jamban. Semacam empang sih. Batasnya setinggi dada. Tidak tampak ketika jongkok, tapi ya kelihatan ketika berdiri. Kotorannya? Ya langsung ke laut.
          Sampah banyak sekali di laut dan di jalan. Sudahlah lautnya hitam dan berbau (konon karena limbah), penuh sampah pula. Ada sepasang muda-mudi yang sedang melintas sambil minum. Saat minumnya habis, si perempuan membuang begitu saja gelas plastik yang ia gunakan. Cantik sih, tapi suka nyampah.
Kapal khusus pembersih sampah di laut
            Yang menarik, rumah-rumah warga umumnya memiliki rak sepatu di depan rumah. Jadi, selain air, mereka memiliki rak sepatu. Sepatu dan sandal di sana disusun rapi.
Tiap rumah memiliki rak sepatu yang diletakkan di depan rumah
          Kala kembali ke masjid, kami melihat seorang kakek berkoko, bersarung, dan membawa pisau sedang melihat sambil sesekali memerintah (kuduga sih, kode bahasanya aku nggak ngerti, ingat?) orang-orang yang ada di perahu paling besar dan berlampu banyak.
          “Mereka ngapain, Pak?” tanyaku.
          “Oh, bikin patok. Buat menambat kapal.”
          Orang-orang itu memang sedang menancapkan sesuatu yang panjang ke dalam laut. Sekitar 5 orang bergotong-royong.
          “Orang-orang di sini kebanyakan orang mana sih, Pak?” lanjutku. Nggak tahan pengin tahunya!
          “Oh… dari Sulawesi.” Yes, dugaanku benar! “Evi Masamba.”
          Kami tertawa. “Dia terkenal banget ya, Pak?”
          “Iya. Sama Ical.” Nah, yang ini aku nggak tahu. Kalau Evi Masamba itu kan yang ikut kontes dangdut (ada gunanya juga Mama setel acara dangdut, aku jadi tahu Evi Masamba, alhamdulillah).
          Kami lalu bertanya-tanya tentang ini-itu. Dari obrolan itu kami ketahui pandangan warga terhadap reklamasi. “Sekarang sih, nelayan memang menang, tapi nggak tahu nanti. Kami ini nelayan nggak punya duit. Hahaha.”

Reklamasi yang tampak dari Muara Kamal
          Bapak yang seharusnya kutanyakan namanya ini sudah 50 tahun di Jakarta. Lima puluh tahun! Kalau kata anak sekarang, gils!
          “Bapak kenapa ke sini? Bukannya di sana (Sulawesi) lebih enak ya? Lautnya lebih bersih pula.”
          “Dulu di sini juga bersih kok. Di sana banyak konflik.”
          Jadi, beliau menghindari konflik dan memilih merantau ke Jakarta. Beliau tampak khawatir betul dengan (efek) reklamasi. Aku lantas teringat sepanjang jalan mulai dari pelelangan ikan hingga di dermaga ini, banyak tulisan yang isinya menolak reklamasi atau hujatan terhadap Ahok.
          Memang, menurut seseorang di Onrust, akibat reklamasi, ketika pasang, rumah para nelayan di Muara Kamal akan banjir (kami melihat salah satunya).
          Aku yang nggak ngerti-ngerti amat tentang reklamasi dan efeknya, bingung harus merespons apa. Jadi aku merasakan saja emosi si Bapak narasumber kami. Beliau tidak marah-marah dengan berapi-api, nggak, justru sebaliknya, sangat tenang. Tapi ya itu, aku merasakan kecemasannya. Cemas terhadap masa depan.

          Sambil sibuk dengan pikiran masing-masing, kami melepaskan pandangan kosong ke laut. Sampai Mas Rae memanggil untuk briefing lalu mengajak kami berangkat. Ah, bangun tidur yang luar biasa. Terima kasih atas bonusnya, Allah. Saya bersyukur. :) 

Reklamasi tampak dari perahu kami

Dermaga pulau baru

Beberapa bagian laut diberi bambu-bambu.
Ini buat apa sih? Tahu?

Cantik ya? Semoga anak-cucu kita bisa melihat pemandangan bagus begini!


Terima kasih sudah berkunjung dan heiii... kami akan dibalap sama kapal yang di belakang!

Tulisan sebelumnya tentang trip 3 pulau:
1. Kelor
2. Onrust
3. Cipir

4 komentar:

  1. kenapa ya namanya perkampungan nelayan itu kumuh -kumuh ya dan bau. Coba kalau ditata bagus dan menjaga kebersihan lingkungannya , pasti tampak apik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berdasarkan asas sok tahu dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kata-katanya, menurutku, yang bau itu lautnya yang kotor. Limbah.
      Kalau masalah penataan, kurasa bisalah itu dinas tata kota kali ya yang lebih berperan menata daerah itu--kerja sama dengan para warga (nelayan) di situ. Eh iya nggak sih? Ya gitu sih. Hhehe

      Hapus
  2. Aaaa... Ikaaa. aku juga mau ke situuu :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. main-mainlah, Evaaa.. Seruuuuu..

      Hapus