Rabu, 13 Agustus 2014

Di Sana Patah Hati; Di Sini Jatuh Hati

Bekasi, 12 Agustus 2014

Teruntuk Riesna Kurnia

Riesna yang baik,
          Tulisanmu ini tiba di mataku dengan selamat. Aku tidak akan berusaha menghiburmu atau berkata, “Sudahlah.” Aku lebih memilih berkata, “Selamat menikmati.”
          Ya, nikmati saja patah hati sebagaimana kau menikmati jatuh hati. Ini karena akan ada saatnya kau lupa rasanya patah hati ketika kau kembali jatuh hati. Saat itu relakan dirimu, relakan dirimu bahagia lalu hanyutlah dalam jatuh hati.

Riesna yang baik,
          Aku tidak akan berusaha menyuruhmu untuk menulis, tidak akan memberimu tips-tips untuk menulis. Aku percaya, kamu (dan orang-orang patah hati di mana pun yang kehilangan selera menulis) akan menemukan jalan bagi penamu. Kembali menulis. Ketika waktu itu datang, kau bahkan tidak akan bisa menghentikan dirimu. Bebaskan saja dirimu, tidak perlu dipaksa.

Riesna yang baik,
          Aku pernah patah hati dan aku pernah kehilangan selera menulis. Sangat tidak menyenangkan. Setahuku, ketika ada satu hal yang sangat dalam dan berlimpah rasa, kau justru akan kesulitan menuliskannya karena biasanya mereka akan berebut ingin ditulis. Kau malah akan terbengong-bengong lalu bertanya, “Apa yang mesti kutuliskan? Mulai dari mana?”
          Iya, pernah aku meminta—memaksa lebih tepatnya—diriku menuliskan tentang seseorang karena aku memang sangat ingin mengabadikannya melalui tulisan. Apa aku berhasil? Tidak.
          Tidak perlu memaksa dirimu, Riesna. Lakukan saja hal-hal yang menyenangkan. Dengarkan musik riang atau sedih sesukamu. Bersedihlah sepuasmu. Setelah itu, senyum untuk dirimu; bahagiakan dirimu. Bertemulah dengan orang baru dan buka hatimu.

Riesna yang baik,
          Tentu tulisan ini tidaklah seberapa berarti, barangkali. Aku tidak dapat menghayati benar patah hatimu (dan sangat tidak ingin mengingat patah hatiku). Aku malah tersenyum-senyum membaca tulisanmu bagian kilas balik: kala kau jatuh cinta. Aku paham benar itu karena aku sedang menjalaninya. Menelepon hingga (dia) tertidur? Ya. Berdebat masalah sepele? Ya.
          Aku tidak tahu harus minta maaf atau tidak karena kau kuminta menikmati patah hatimu sedangkan aku menikmati jatuh hati. Aku tidak tahu ini akan adil atau tidak—bahkan aku tidak tahu adil itu apa. Aku cuma merasa ini siklus: kala kau patah hati kau akan  ingat jatuh cinta; kala kau jatuh cinta tak ingin ingat patah hati.

Riesna yang baik,
          Aku bahagia. Aku memiliki kekasih yang baik hati sekali, yang bersedia mengalah dalam banyak hal kecuali yang prinsip dan berusaha melakukan hal-hal baik untuk kami. Kautahu, ia melakukan semua itu seperti ia tidak pernah patah hati. Aku mesti belajar banyak darinya.

Riesna,
     Mari berjalan maju. Semangatlah. Mengutip kata TikaKarlina, “Mari berbahahahagia!”



Penuh cinta,


Ika Fitriana


7 komentar:

  1. So sweet sekali Ika.
    Biasanya kalau lagi patah hati, banyak ide datang Na ^^V

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaaakkkk~ Terima kasih, Eviiiii~

      Hapus
    2. ahahaha makasih Ika, makasih Evi :*

      Hapus
  2. Aku sedang patah hati dan jatuh cinta sekaligus

    BalasHapus
  3. udah tiga kali baca tulisan ini, dan tetap larut sama rangkaian kata-katanya.

    satu hal yang jauh lebih penting...



    IKA BAHAGIA SOALNYA SUDAH PUNYA KEKASIH YANG BAIK HATI SEKALI!!! CIYEEEEEEEE... :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, Onty duuuh.. aku jadi maluuuuu.. *nutup muka pake panci*

      Hapus