Selasa, 07 Juni 2011

ATAS NAMA KEBAHAGIAAN

Perempuan itu tahu sang lelaki menyukainya
dan lelaki itu pun tahu sang perempuan menyukainya.

Suatu kali,
sang lelaki mengetahui ada pihak lain
yang ingin memiliki sang wanita.
Sang lelaki pun lantas membiarkan
—bahkan mendorong—
pihak lain itu untuk mendekati si perempuan.

Menurut sang lelaki,
“Saya rela kamu bersama dia..
Yang penting kamu bahagia.
Ini yang terbaik untuk kamu.”

Perempuan bilang,
“Bodoh!
Dari mana kamu tahu dia yang terbaik atau bukan?
Bagaimana kamu bisa bilang aku akan bahagia dengan dia?
Yang aku inginkan itu kamu!
Kamu pikir aku barang,
yang bisa kamu serahkan kepada pihak lain?
Sejak awal kamu tahu perasaanku
dan aku juga tahu perasaanmu.
Mengapa kita tidak bersama saja?”

“Ini demi kebahagiaan kamu..”

“Omong kosong!
Kebahagiaan bagian mana?
Aku sakit,
Kamu sakit,
Lalu kamu harap aku berbahagia
dengan orang yang jelas-jelas bukan orang yang ingin kubagi hati??
Jangan jadi pengecut!
Kalau kamu suka ya suka.
Mari berjalan bersama.
Bukan malah menjual aku
Pada pihak
Yang—kaubilang—terbaik dan akan membahagiakanku.
Lagipula,
Biar aku yang menentukan
apa yang terbaik bagiku,
apa yang membahagiakanku,
dan dengan siapa aku ingin wujudkan itu.”

(Jaticempaka, 11 April 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar