Tampilkan postingan dengan label MagicalRamadan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MagicalRamadan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

#Magical2013 Day 3: Hal yang Paling Kuinginkan Tahun ini


Yang paling kuinginkan tahun 2013 ini?
Adikku lulus dan wisuda.
Semoga Allah memberi berkah dan memberi kelancaran untuk niat itu.
Semangat, Sist!
Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Jumat, 03 Agustus 2012

#MagicalRamadan #Day 13


Visualisasi 13 harapan/cita-cita seolah sudah dalam genggaman

1.    Punya “Roema Matari”
Tok-tok-tok. Suamiku baru saja selesai mematok plang “Roema Matari” di depan gerbang. Itu nama rumah kami. Dengan bahagia yang meluap-luap kusisir rumah dengan mataku: rumah utama berbahan kayu, lapangan bola (aku tak menginginkan generasi setelahku mengetahui sepak bola hanya dari game), panggung teater, masjid, museum pribadi, kolam renang, dan taman labirin (oh, semoga aku sendiri tidak tersesat). Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

2.   Punya museum pribadi
Ternyata bukan cuma aku yang memiliki kenangan terhadap barang-barang pribadiku. Pengunjung museumku pun merasa punya ingatan masa lalu tentang barang pribadi mereka. Saat melihat bantal-guling masa bayiku, misalnya, mengingatkan mereka dengan bantal-guling mereka sewaktu bayi dan mulai mengingat-ingat bagaimana nasib keduanya. Sungguh aku merasa bahagia bisa mengingatkan sejarah hidup mereka—apalagi jika mereka selalu pandai mensyukuri segala hal dalam hidup mereka. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

3.   Kegiatan di masjidku
Anak-anak yang duduk di depanku ini sebelumnya belum pernah kulihat. Entah mereka datang dari mana.  Aku senang mereka bisa datang ke kelas “menulis cerita”-ku. Ya, sudah kujadwallkan: ada kelas menulis cerita, tari nusantara dan dunia, mendongeng, musik nusantara dan dunia, cooking class untuk para ibu, membuat kerajinan untuk para lansia, dan seterusnya. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

4.   Punya sekolah “Roema Matari”
Mereka, murid-muridku, sangat bergembira saat kuberikan krayon warna-warni kepada mereka dan memperolehkan mereka menggambar apa pun di lantai kayu kelasku. Selanjutnya, saat kelas selesai kubilang pada mereka harus menghapus kembali coretan mereka, mulanya mereka cemberut dan kesal. Namun, sejak itu, obsesi mereka mencoret-coret tembok dan fasilitas umum pun punah. Mereka sudah tahu bahwa keinginan mencoret-coret selaras dengan konsekuensi sulitnya menghapus coretan. Selain kelas menggambar, di sekolahku ini juga ada makan siang bersama yang diawali dengan pidato (1 hari 1 anak), siswa berpakaian jelek (tanpa seragam), belajar di “ruang kelas” yang sesuai (kebun untuk belajar tumbuhan, misalnya), belajar dari bidang yang mereka minati, kelas musik yang membuat mereka bergerak sesuai dengan keinginan hati, dan sebagainya. Orang-orang menyebut sekolahku sebagai sekolah Totto-chan karena menurut mereka jelas aku jatuh cinta pada sekolah yang dipimpin Sosaku Kobayashi itu. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

5.   Belajar ke Leiden
Aku berfoto di depan bangunan bertuliskan University of Leiden. Ini minggu terakhir aku belajar di sini. Minggu depan aku sudah harus balik ke Indonesia. Selama di Leiden aku teryakini bahwa sekitar 26.000 naskah kuno Indonesia di sini dirawat dengan baik. Tapi ya itu… saking dirawatnya, aku yang orang Indonesia ini saja tidak diperbolehkan melihat langsung (apalagi menyentuh) naskah kuno Indonesia itu. Menurutku, ini seperti meminjam gelas sendiri di rumah tetangga. Oh, ya, di sini aku bertemu dengan profesor asal Indonesia. Ia mengajar aksara Batak, Jawa Kuno, dan Bugis. Ilmuku bertambah. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

6.   Membeli naskah-naskah kuno Indonesia
Syukurlah. Sekitar 1000 naskah kuno di Leiden berhasil kubeli. Kuingat-ingat sederet panjang syarat pembelian dan surat kesanggupan perawatan surat-surat kuno tersebut. Untungnya, aku dibantu banyak orang yang sevisi denganku dan mereka mau membantu merawat naskah-naskah kuno tersebut. Para mahasiswa pun berlomba-lomba mempelajari naskah-naskah itu. Mereka terpacu untuk mempelajari warisan nenek moyang dalam naskah-naskah itu dan tidak rela ilmu itu jatuh kepada yang justru bukan orang Indonesia. Oh, ya, aku juga membeli berbagai naskah, foto, dan uang kuno Indonesia yang dijual di internet. Aku sekarang sedang mengincar naskah yang disimpan di London—dengan naskah-naskah di Leiden tetap yang utama. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

7.   Pergi haji bersama keluarga
Aku sedang asyik tawar-menawar harga dengan pedagang Arab yang bisa bahasa Indonesia ini. Kami—aku, suamiku, orang tuaku, dan adikku—sedang berbelanja untuk kerabat di Indonesia. Mereka pasti sangat senang mendapat oleh-oleh haji ini. Tentu bagiku ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagiaanku bisa memenuhi rukun Islam yang kelima: haji. Semoga makin banyak orang yang diberi kesempatan berhaji. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

8.   Mengembangkan warung Bapak
Sudah tahun ketiga sejak aku mendirikan warung ini. Rencananya bulan depan aku mau membuka cabang kelima di Riau—dekat bandara. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

9.   Nonton Mak Yong
Meskipun bulan lalu aku sudah melihat di Sidney, tetap saja menonton Mak Yong di tanah leluhurnya, Riau, lebih asyik—dekat rumah nenek pula jadi aku bisa sekalian mengunjungi rumah nenek. Setelah Mak Yong, aku akan menonton La Galigo, blantenan, ikut dugderan, sekaten, dan budaya Indonesia yang lain. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

10. Menjadi penulis terkenal yang produktif
Setelah melahirkan 85 buku dengan berbagai genre, kini aku dipercaya untuk melakukan salah satu hal yang sangat menyenangkan: menulis kartu. Ha! Kata-kataku akan berhamburan di kartu ucapanmu, kartu posmu, pembatas bukumu, dan di kepalamu. Oh, tentu Tuhanku sangat baik, mau mempercayakan aksara-aksara itu menetes dari benakku. Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

11.   Punya taman bacaan dan toko buku
Acara di taman bacaanku hari ini adalah tawuran aksara: adu pantun antarsiswa SMA. Mungkin bila melihat taman bacaanku kau akan teringat “Rumah Dunia”-nya Gola Gong. Em, kira-kira berkonsep serupa. Kubuat taman bacaanku tak hanya untuk mereka yang mau membaca, tapi berbagai kegiatan kuadakan di sini: dari adu pantun, pementasan, hingga nonton bareng ala layar tancap. Aku jual kacang rebus, lho! Hehehe… . Di tengah-tengah taman ada dua bus tingkat model jadul. Itu toko bukuku! Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

12.  Berkendara dengan sepeda
Turun dari sepeda aku masuk rumah. Lamat-lamat kudengar berita menyiarkan kemacetan melanda Malaysia. Aku seperti ingat kata itu: kemacetan. Ah, ya, macet, saat semua kendaraan tumpah ruah di jalan. Itu masa lalu kelam Indonesia, terutama Jakarta. Kini tiap orang di Jakarta berkendara dengan sepeda: sepeda lipat, sepeda gulung, sepeda terbang. Jika kauhendak bepergian dengan beberapa orang, kau bisa gunakan bebek-bebekan terbang. Udara bersih, badan sehat, umur efektif (tua di rumah, bukan di jalan). Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

13. Berbahagia bersama pangeranku dan pangeran-putri kami
Badanku menggendut untuk yang kelima kalinya. Kami menghormati rukun Islam, menganut asas balonku, dan mengamalkan pancasila. Suka dengan angka lima. Hehehe… . Pangeran-putri cilikku berlomba-lomba mencari perhatian ayahnya yang sedang sibuk bercakap-cakap dengan calon anggota baru keluarga yang masih di perut. Cara mereka mencari perhatian bermacam-macam, yaitu: ada yang menunjuk-nunjuk matahari yang mulai rebah, ada yang memamerkan istana pasir buatannya, ada yang mengajaknya bermain ombak, ada juga yang meminta pendapat untuk nama pantai temuan kami ini. Ah, kutatap langit dan kugumamkan, “Semoga tiap orang tidur dalam keadaan bahagia malam ini—seperti kami.” Sepertinya suamiku mendengar karena ia menyahut, “Ya, bahagia malam ini, malam besok, besoknya lagi, besoknya besok, dan seterusnya. Aamiiin… .” Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .

Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih… .
Alhamdulillah, alhamdulillah.. all praises to Allah, all praises to Allah..

Rabu, 01 Agustus 2012

#MagicalRamadan #Day 10


          Aku seorang putri dari Negeri Hujan Bunga-bunga yang punya hobi terbang mengunjungi mimpi orang-orang. Aku dipercaya Tuhan menaburkan serbuk agar orang-orang yang kuingini memiliki energi ekstra dan kebahagiaan. Hanya saja, aku harus diam-diam melakukan ini. Jadi, kumohon padamu agar kaurahasiakan juga dari mereka. kalau kau mau, kau juga bisa lho mengamini doa-doaku agar terkabul. Ah, tentu ini tak sulit, bukan?
          Mereka yang kudatangi itu adalah:
1.     Orang yang membangunkan sahur
“Hai, Bapak yang baik, bangunlah! Bukankah kau akan membangunkan orang-orang untuk sahur?” *menaburkan semacam serbuk berwarna-warni* *cring* *si Bapak mengerjap-ngerjapkan mata, membersihkan diri, lantas ke musolla*

2.    Para Ibu
“Sst.. Bu, sudah waktunya menyiapkan makan sahur,” bisikku di telinga tiap ibu. *menaburkan serbuk* *cring* *Ibu pun membangunkan anggota keluarga yang lain dan menyiapkan sahur*

3.     Ayam
“Om ayam, bukankah pagi itu baru pagi jika ada kokokmu? Bangunlah… .” *menaburkan serbuk* *cring* *ayam pun berkokok*

4.    Adikku
“Adikku yang baik, terima kasih sudah mengantarkanku. Semangat, ya!” *menaburkan serbuk* *dia bersin, mungkin agak berlebihan aku menaburkannya* *cring* *matanya mengerjap-ngerjap semangat dan ia tampak seperti orang yang tak memiliki lelah*

5.     Teman-teman pengajar
“Hai, teman, mari kita melaksanakan tugas kita. Kita harus semangat agar siswa kita pun semangat.” *menaburkan serbuk* *cring* *tubuh pun menegak*

6.    Siswa-siswaku
“Memang sedang puasa, Dik, tapi kita justru harus lebih semangat menimba ilmu. Ayo, tegakkan kepalamu… .” *menaburkan serbuk* *cring* *semua semangat* *tunjuk jari mau bertanya* *ada yang tanya kapan pulang, ada yang tanya kapan buka* -__________-“

7.     Ibe, Imas, dan Nuniek
“Hai, ibu dan calon ibu, kita nanti jadi ya buka puasa bersama. Sudah berapa lama kita tak berjumpa dan bertukar cerita? Semoga rencana kita direstui Allah.” *menaburkan serbuk* *cring* *kita pun berkumpul dan tertawa bersama*

8.    Ibu-ibu hamil yang tetap puasa
“Hai, Ibu, semoga Allah memberimu kekuatan untuk menjalankan rukun islam yang ketiga ini, ya… . Semoga tetap sehat.” *menaburkan serbuk* *cring* *orang yang tidak hamil tentu malu jika tidak berpuasa, kalah dengan yang hamil*

9.    Petugas pengangkut sampah
“Pak, Bu, semoga hidupmu diberkahi Allah dan selalu diberi kebahagiaan.” *menaburkan serbuk* *cring* *senyum tulus mereka membuatku semakin yakin doaku diterima Allah*

10.  Orang yang buang sampah sembarangan
“Warga yang baik, semoga kau diberi kekuatan oleh Allah untuk berjalan menuju tempat sampah sehingga tidak mengotori jalan, kali, dan tempat-tempat umum; dan semoga Allah memurahkan rezekimu agar kau bisa membeli tempat sampah; serta semoga Allah memberi ide kepada para ilmuwan agar menciptakan tempat sampah yang bisa praktis dibawa ke mana-mana jadi tidak ada orang yang sembarangan membuang sampah .” *menaburkan serbuk* *cring* *Indonesia bersih dari sampah*

11.    Supir angkot
“Pak supir yang baik sedunia persilatan—sayangnya Bapak nggak ikut silat, ya?—terima kasih sudah mengantar penumpangmu ke tempat yang dituju dengan selamat. Semoga Allah memberi kekuatan padamu agar tetap bisa berpuasa.” *menaburkan serbuk* *cring* *Pak supir itu mematikan rokoknya*

12.  Pramusaji restoran
“Mas dan Mbak pramusaji, semoga kau diberi kekuatan untuk melayani pelangganmu dan selalu diberi kesabaran.” *menaburkan serbuk* *cring**mereka hilir mudik dengan senyum terkembang*

13.   Pelanggan restoran
“Bapak dan Ibu yang terhormat, semoga kau tetap diberi kesabaran untuk menunggu pesananmu tiba. Bukankah puasa itu salah satunya melatih kesabaran?” *menaburkan serbuk* *cring* *mereka asyik bertukar cerita dengan teman berbukanya*

14.   Orang-orang yang LDR
“Hai, pelaku LDR di mana pun, semoga kau diberikan solusi agar tetap bersama dengan orang yang kaukasihi dan semoga ia menjadi jodoh yang terbaik untukmu.” *menaburkan serbuk* *cring**mereka pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama*

15.   Orang-orang yang berbuka sendirian
“Hai, Mbak yang di sana, jangan risau, jangan gundah, bukankah satu ditambah satu jadi dua ditambah satu jadi tiga, dan seterusnya? Jadi, tidak ada yang sendiri (satu), bukan? Semoga kau diberi kebahagiaan oleh Allah.” *menaburkan serbuk* *cring* *dan orang yang paling ia harapkan meneleponnya* *ia tak lagi sendiri*

16.   Sang pangeran
“Hai, Nge, semoga kita selalu diberi petunjuk oleh Allah agar kita cepat bertemu.” *menaburkan serbuk* *cring* *aku bertemu dengan pangeranku* *kami pun bahagia sampai akhir hayat kami* *the end* *eh, Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih, ya Allah… . ^^

Jumat, 27 Juli 2012

#MagicalRamadan #Day 7

10 hikmah dari emmm.. saat roda di bawah:
     Ini dia hal-hal baik dari hal  buruk yang aku alami:
1. Pererat hubungan keluarga
    Syukurlah hubungan emosi keluarga kami semakin erat sejak roda kami berada di bawah. Tadinya mah hubungan keluarga bagiku hanya formalitas: aku punya ayah, ibu, adik. Itu saja.

2. Bertemu dengan malaikat-malaikat
    Dari kejadian berat yang kita alami, kita pasti akan mengetahui orang-orang yang peduli permanen dan orang yang peduli nisbi. Tentu kita harus bersyukur Allah masih sayang kepada kita dengan mengirimkan mereka kepada kita. Semoga Allah membalas kebaikan mereka.

3. Pengalaman kerja
    Yap. Kalau roda tidak di bawah, aku si anak manja yang manajemen waktunya berantakan ini belum akan kerja sebelum lulus. Jika aku tidak kerja, belum tentu aku akan bertemu dengan malaikat-malaikat lain di tempat kerjaku dan bisa berbagi pengalaman hidup mereka--yang beberapa nggak lebih ringan dari pengalamanku.

4. Lebih memerhatikan sekitar
    Rasanya aku lebih melek. Dalam banyak arti.

5. Ngerti berbagai kenikmatan
    Kalau sebelumnya makan bisa tidak dihabiskan tanpa berpikir apa-apa, sekarang pasti menyesal jika tidak habis. Syukurlah sekarang bisa mengerti nikmatnya makan nasi, mie instan, ikan, ayam, dst. Dan mengertilah, Marisol, makanan itu akan menangis jika tidak kamu habiskan. Oh, ya, kenikmatan itu banyak, lho, ya, cuma aku ngasih contohnya di sini makanan. Kan lagi puasa (loh?)

6. Diingatkan untuk tidak sombong
     Tiap orang punya bakat sombong, termasuk aku. Kalau lagi susah, apa yang bisa disombongin? Meski begitu, lagi "ada" bukan berarti bisa sombong juga. Emang "kepunyaan" kita punya kita? Diri kita aja bukan punya kita. Diri kita milik Tuhan. Jadi, apa yang mau disombongin?

7. Lebih sehat
    Hahahaha.. aku jadi lebih sehat. Sering jalan kaki, sih! Mengurangi risiko osteoporosis. Hidup sehat!

8. Merasa lebih kuat
    Kurasa, siapa pun tidak akan bisa merasakan nikmatnya bangkit kalau dia tidak pernah terjatuh. Rasanya senyum lepas aja jadi sebuah anugerah. Betapa pukpuk itu jadi berarti banget. Yang harus kuyakini kini adalah tiap orang itu kuat. Masalah besar hanya untuk jiwa yang besar. Semangat! Merdeka! Serang! Terjang! (halah!)

9. Memaafkan
    Memaafkan. Tidak menyalahkan siapa pun. Hal yang terjadi adalah proses pengembangan diri. Itu saja.

10. Ikhlas
    Kita nggak bisa jalanin hidup dengan tenang, kita akan selalu komplein, kalau kita nggak ikhlas. Tapi selama kita ikhlas, aku ngerasa hidupku lebih ringan, punggungku tegak, pundakku tidak merosot, dan langkahku mantap. Innallaha ma'ana (Allah bersama kita).

    Dengan adanya masalah, hidup jadi lebih seru. Kalau kata Lenka the sun is hot in the sky just like a giant spotlight. Just enjoy the show. Nikmatin aja hidup.

Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih, terima kasih..

Kamis, 26 Juli 2012

#MagicalRamadan #Day 6

Mensyukuri 6 hal yang berhubungan dengan pekerjaan kita.

1. Magang 
    Seperti yang sudah saya ceritakan di #MagicalRamadan #Day 5, saya pernah mencicip beberapa pengalaman kerja, dari yang nyambung sampai yang nggak nyambung dengan sastra. Pernah freelance jadi interviewer poling Kompas, magang di Indosat (star one dan matrix), dan magang di Penerbit Desantara. Saya merasa semakin kaya dengan pengalaman itu. Waktu poling, misalnya, macam-macam orang yang saya telepon. Dari ibu rumah tangga yang di tengah wawancara masakannya gosong, orang bule yang nggak bisa bahasa Indonesia, sampai mbah-mbah yang cuma butuh teman curhat.

2. Kuliah Kerja Nyata (KKN)
    Saya kedapetan KKN di Cirebon. Syukurnya saya ditempatkan di desa yang enak dengan kepala desa yang ramah. Dari KKN sejuta pengalaman baru saya dapat. Ternyata kepala desa sebelah punya bukit, minimarket, pemandian belerang, hingga beberapa mobil (salah satunya jaguar). Dari KKN juga saya tahu, banyak anak yang nggak sekolah. Dengan berbagai alasan. Di sana kami juga sempat ke desa di atas gunung. Untuk mencapainya, kami nyewa angkot dengan perjalanan kira-kira 30-60 menit dengan kualitas perjalanan seperti naik rolerkoster: naik-turun-nikung ektrem.

3. Menulis Skenario
    Syukur juga saya punya pengalaman ini. Saya suka ngoceh di tulisan. Jadi, ketika ada kesempatan ini, ya diambillah. Hehehe..

4. Di warung
     Bapak saya punya warung. Dulu, terutama waktu kecil, pas libur kami sering bantu-bantu di warung. Kami diperlakukan seperti pekerja. Dapet duit juga udahannya. Hehehe..

5. Belajar dari siswa
     Seperti @kikisuriki, saya juga mengajar. Cuma bedanya, saya ngajar bimbel. Mengajar bukan pekerjaan yang saya inginkan. Awalnya saya sungguh tersiksa. Saya begitu takut mengajar (dengan beberapa alasan). Kini, setidaknya saya merasa nikmat karena bisa mendapatkan berbagai pengalaman dari mengajar. Salah satunya ya itu kita bisa belajar dari siswa. Tentang banyak hal, misalnya: tekno (mereka biasanya punya alat-alat tekno tinggi) sampai bisa apdet pengetahuan.

6. Sabaaaaarrr
    Saya bukan orang yang sabar. Tapi bukankah dengan mengajar kita bisa belajar (salah satunya) sabar? Dan, sampai sekarang saya masih belajar.

Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.. ^^

#MagicalRamadan #Day 5

Rezeki tak pernah tertukar
        Bicara tentang rezeki (dan saya), kita tidak akan banyak membicarakan uang. Saya tidak seberuntung "itu" (contoh dalam PR MagicalRamadan Day 5). Meski demikian, saya percaya keberuntungan saya besar. Ini bisa terlihat pada lima hal dari sejuta hal berikut:

1. Bersekolah sesuai keinginan
    Bisa bersekolah saja bersyukur. Kedengerannya klise tapi ya emang benar. Saya merasa beruntung. Tahun 2006, saat saya KKN ke Cirebon, saya menemukan banyak anak usia SD putus sekolah. Alasan mereka? Mulai dari sekolahnya jauh, lebih pilih kerja, sampai ada juga--ini yang paling mengenaskan menurut saya--yang tidak bersekolah karena harus menjaga adik. Menjaga adik, pemirsa. Kedengarannya nggak penting banget, kan? Kita (oke, saya, deh) mana pernah kepikiran nggak sekolah cuma untuk jaga adik? Ke mana orang tuanya?
     Ternyata, anak itu tinggal bersama neneknya. Neneknya sibuk jadi buruh petik sayur untuk makan sehari-hari. Ibunya? Jadi TKI di Arab--ia tidak menceritakan tentang ayahnya.
      Oke, kembali ke subjudul saya: bersekolah sesuai keinginan. Benar-benar, deh, saya bersyukur untuk ini. Betapa tidak, hampir semua rencana pendidikan saya terealisasi. Waktu SMP saya menginginkan masuk MAN (Madrasah Aliyah Negeri--setingkat SMA) dan itu terwujud. Ketika duduk di kelas 1 SMA, saya sudah memutuskan untuk kuliah di jurusan sastra Indonesia atau jurnalistik. Syukurlah keinginan itu terwujud. Saya diterima di jurusan Sastra Indonesia meski bukan di universitas yang saya idam-idamkan. Sekarang ini, saya memendam keinginan untuk belajar lagi. Di Leiden. Semoga Allah--dan orang tua saya--mengizinkan.

2. Rezeki tak terduga
    Saya rasa kamu juga pernah merasakan ini. Seringkali saya menginginkan sesuatu--bahkan sangat--dan dengan cara yang ajaib Allah mengabulkannya. Misalnya, saya menginginkan pepaya (terutama jika saya demam) lalu Bapak pulang dengan membawa pepaya--tanpa saya minta (verbalkan). Syukurlah!

3. Pengalaman kerja
     Saya bersyukur punya pengalaman kerja magang di Kompas, Penerbit Desantara, hingga Indosat. Dari yang nyambung sampai yang nggak nyambung dengan sastra. Dengan begitu, aku merasa diriku semakin kaya. Ini tentu rezeki, bukan?

4. "Abang"
     "Abang" itu sebutan untuk motorku. Dulu, saya sangat menginginkan Honda Supra X 125 dengan tangan saya sendiri. Menurut saya ketika itu, saya tidak bisa mencapainya. Sekarang, saat saya benar-benar bisa mewujudkan itu, bagi saya itu seperti rezeki yang sudah diatur. Saya percaya, saat saya yakin saya bisa mendapatkan sesuatu, saat itu tangan Tuhan bekerja. Kita, manusia, tinggal mencari cara mendapatkannya.

5. Puas bermain
    Keluarga kami bukan orang ada. Tapi dulu, saat kami kecil, Bapak rajin mengajak kami jalan-jalan. Monas, TMII, sampai Yogya kami sambangi. Segala permainan pun pernah kami rasakan: bombom car sampai mandi bola (ingatkah, kalian, generasi masa lalu, betapa happening-nya permainan itu di kalangan bocah kencur. haha..). Bukankah itu rezeki?

     Oh, ya, baru inget, saat kecil, rezeki kami begitu lancar begitu lebaran menjelang. Paling seneng deh beli baju berkantong banyak. Ngerti, kan, ya? Kita bisa masukin duit dan kue semuatnya kantong.
     Kalau sekarang, waktunya gantian. Kitalah yang menjadi orang yang mengisi baju berkantong millik anak-anak kecil itu. Hahahaha.. Tapi syukurlah, kita masih bisa memberi. Bukankah itu kenikmatan juga?

Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Rabu, 25 Juli 2012

#MagicalRamadan #Day 4

Tujuh hal mengenai kondisi kesehatan yang kusyukuri

Tanpa babibu, aku bersyukur atas:
1. Masih bisa bernafas
      Pernah (em, oke, kayaknya agak sering, terutama deket-deket asap), aku sangat susah bernafas. Oksigen seperti enggan masuk ke hidung seolah baru sampai lubang hidung lalu ia putar balik. Ini sangat menyiksa, Kawan!
     Begitu juga kalau flu. Terlalu banyak cairan di hidung membuat pernafasan terganggu. Perlu bantuan mulut untuk mengambil oksigen dari sekitar--yang padahal bukan cuma oksigen aja yang masuk dan nggak bisa disaring.
     Jadi, kalau sekarang kita bisa bernafas dengan lega, bebas, dan teratur, tentu ini hal yang patut disyukuri. Ya, kan?

2. Masih bisa menelan
     Pernah beberapa tahun lalu aku kesulitan menelan makanan. Betul-betul susah. Susah-susah betul. Bubur aja nggak bisa nelan. Bubur lho bubur... apalagi makanan lain? Minum susah. Apalagi ngomong. Yang aku ingat, waktu itu aku hanya bisa menelan regal yang sudah dihaluskan sehalus-halusnya. Betul-betul bayi. Bahkan bayi pun masih bisa minum dengan lancar. Huft, syukurlah masa itu telah berlalu. Fix aku nggak  mau mengulang masa-masa itu. *Kurangi nelen kulit duren bulat-bulat

3. Sembuh dari tipes
    Hasil lab tahun 2003 bilang ada Salmonella Thyphio di tubuhku. Aku divonis kena tipes. Aku ingat betul waktu itu aku dalam masa ujian praktik SMA. Alhasil, karena kena tipes aku tidak ikut praktik olahraga (kayaknya sih akhirnya susulan).
    Tahun 2004 aku divonis kena tipes lagi. Harus beristirahat di rumah lagi. Obatku adalah cacing. Hiy! Tapi yang menggelikan dari kisahku minum kapsul (yang ternyata isinya cacing) adalah adikku (akhirnya) kapok minum obat sembarangan. Adikku emang punya hobi minum obat apa pun punya siapa pun meski dia nggak sakit. Namun sejak dia minum kapsul cacingku, dia kapok minum obat seenaknya karena dia geli dengan cacing. Hahahaha.. Sembarangan, sih! *celingak-celinguk semoga abis ini nggak dijitak*

 4. Merasakan sakit perut menstruasi
     Awalnya aku nggak pernah sakit perut saat menstruasi. Teman-temanku sering bercerita tentang pengalaman sakit perut mereka bahkan ada yang tiap bulan pasti absen sekolah gara-gara sakit perut. Mereka bilang sakit banget kayak mau melahirkan (yang kemudian mereka ralat, kan belom pernah ngelahirin). Yang lainnya bilang kayak pengen kentut tapi nggak keluar dan kentutnya kayak masuk lagi ke badan. Nah, lo?
    Saat itu aku sangat berharap aku bisa sakit perut juga. Yah, habis, yang lain punya cerita masa aku nggak? Sekarang, syukurlah, cita-citaku tercapai. Hampir tiap bulan aku sakit perut, kadang-kadang disertai demam. Jadi punya cerita deh akuh. Hehehe..
dan jadi tahu betapa nikmatnya tidak sakit perut saat menstruasi. Hehehe..

5. Pingsan 
    Tentang ini aku pernah nulis di sini.
Tahulah aku kini bahwa tidak pingsan itu sangat nikmat. Syukurlah!

6. Asam Urat
    Aku divonis kena asam urat oleh dokter. Padahal umurku baru 12 tahun. Em, oke, ngaku deh, aku kelahiran 1901 seangkatan Bung Karno dan Edward Cullen. Hehehehe... .
    Kalau kumat, kakiku membengkak dan nyeri bukan main. Teman-temanku sering menertawakanku karena menurut mereka asam urat adalah penyakit orang tua. Aku sering membantah mereka. Bagiku ini semacam dekonstruksi. Asam urat bukan monopoli kaum tua. Orang muda juga bisa dong kena asam urat? Yeay! Hahahaha... .
    Bagaimanapun, aku bersyukur belakangan kakiku tidak sering kumat dan berkat si asam urat ini aku jadi lebih memperhatikan kakiku. Allah memberi dua kaki untukku dan seharusnya aku jaga mereka  sebaik yang aku bisa.

7. Kesehatan mereka
    Sebetulnya kalau dideretkan penyakitku sendiri ada banyak. Ini jerawat belum masuk. Jangan kaupikir aku akan menulis bahwa jerawat mengganggu. Sebaliknya. Bagiku jerawat itu sangat mengagumkan. Menghias wajah seperti langit bertabur bintang, bukan seperti kali bertabur sampah bungkus somay, mie instan, dan sebagainya.
   Oh, oke, subjudulnya kesehatan mereka. Aku bersyukur, sangat, orang-orang di sekitarku diberi kesehatan  oleh Allah. Merekalah yang pertama-tama memperhatikan kondisi kesehatanku. Betapa tidak tahu berterima kasihnya aku jika tidak melakukan sesuatu untuk mereka--walaupun itu sebatas doa. Ya, semoga mereka selalu dilindungi Allah dan diberi kesehatan. Juga semoga aku selalu ada saat mereka  membutuhkanku.


Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih, terima kasih ya Allah... . ^^

Senin, 23 Juli 2012

#MagicalRamadan #Day 3


  Tiga Orang yang Disyukuri Keberadaannya

            Tiga orang?
            Hmmm... .
            Begini saja. Aku mau berlaku curang. Kusebut orang yang kusyukuri kehadirannya yang memberi pengaruh sangat besar dalam hidupku sebagai 3 pihak: keluarga, sahabat, dan dia. Yang penting angkanya sama. Hehehe... .

1.       Keluarga
Dari sekadar “dia ibuku, dia bapakku, dia adikku”, jadi  “syukurlah dia ibuku, dia bapakku, dia adikku.” Kami semakin rekat. Gara-gara jalan yang harus kami lalui jelek, rusak, dan bocel-bocel. Kami harus berpegangan satu sama lain.
Dulu kami tidak terlalu peduli dengan kegiatan kami masing-masing. Sekarang, satu orang jadi pemantau pemilu, 4 orang yang sibuk. Satu orang yang ikut pelatihan, 4 orang yang repot. Begitu seterusnya. Semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kami dan semoga hati kami senantiasa lapang dan bahagia.

2.     Sahabat
Bersama mereka yang kusebut “semoga jodoh kita tidak berakhir (lekas-lekas)”. Mereka yang menamparku. Mereka yang melecutku. Mereka yang mengulurkan tangan padaku. Mereka yang menyeka air mataku. Mereka yang duduk di sampingku. Mereka yang selalu memberi pundak padaku untuk kusandari. Mereka itu. Semoga jodoh kami tidak berakhir (lekas-lekas).

3.      Dia
Dia ya dia. Seorang teman bilang bahwa dia merupakan titik balikku. Nggak begitu ngerti sih aku. Tapi ya.. bersama dia berbagai rasa tercipta. Yang paling manis pernah kurasa bersamanya. Yang paling pahit pun berasal dari dia. Bukankah memang kita menjadi lebih peka—yang padahal di orang lain biasa saja—terhadap kata dan sikap orang yang kita... em... cintai?
Semoga dia bahagia di mana pun dia berada sekarang dan semoga Allah memberi jodoh yang terbaik untuk kami.
Okeee, untukmu, pembacaku yang budiman, juga deh... . Semoga bahagia! ^^

Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih... dan TERIMA KASIH!

#MagicalRamadan #Day 2



Satu peristiwa terbaik

         Belum-belum aku sudah seperti nano-nano. Beragam rasa. Seperti banyak bola-bola rasa bertuliskan: senang, sedih, haru, bahagia, dan kawan-kawan yang mengudara di kamarku. Mereka muncul dari benak, dari hati, dari mata, dari kuping, dari segala lubang, dari segala pori di tubuhku.
          Mungkin kamu bertanya-tanya, seberapa istimewanya peristiwa itu sampai-sampai berbagai rasa memenuhi udara. Ya, kan?!
          Mmm… dia (kita manusiakan saja peristiwa itu, ya?) sangat, sangat istimewa. Dia itu disebut: WISUDA (kuberi huruf kapital biar matamu bisa membesar dan berbinar. Hehe…). Menurutku itu satu pencapaian. Bukan cuma pencapaianku, melainkan juga pencapaian keluargaku dan orang-orang di sekitarku.      
          Kamu tahu, tidak seperti kebanyakan mahasiswa normal, aku perlu menghabiskan 8 tahun sebagai mahasiswa. Tanpa berniat begitu, tentu. Katakanlah, cita-citaku ideal: kuliah selesai 4 tahun, bekerja, lalu menikah (dengan tetap kerja).
          Awalnya aku berhasil. Aku bisa mengambil SKS lebih banyak dibanding kebanyakan teman-teman dan bisa semester pendek dengan tujuan percepatan (bukan perbaikan). Tahun 2003 aku masuk kuliah dan tahun 2006 akhir semua mata kuliah selesai. Tiga tahun. Tinggallah skripsi.  
          Namun, Allah berkehendak lain. Rencanaku bubar jalan. Aku yang notabene masih berantakan dalam mengatur waktu sehingga awalnya tidak mau bekerja dihadapkan pada kenyataan harus bekerja. Berbagai konflik seperti terasa kelereng se-truk dijatuhkan dari langit ke kepalaku. Mulanya masalah ekonomi, berimbas ke masalah keluarga, berimbas ke masalah internal diriku, dst.
          Aku kesulitan konsentrasi. Pikiranku pecah ke mana-mana. Bolehlah kau tahu, aku baru kembali ke kampus tahun 2010 (sejak tahun 2007 awal). Sebelumnya, aku ke kampus hanya untuk bayaran, tanpa kuliah, tanpa konsul, tanpa aktivitas apa pun—temanku selalu bilang: “Ika Fitriana sedang bertapa di gunung”.
          Aku rapuh, itu aku tahu. Padahal mungkin masalah-masalah yang kuhadapi adalah masalah umum yang cuma bernilai setitik dibanding masalah-masalah yang dihadapi orang lain. Yah, begitulah. Aku pengecut yang melarikan diri.
          Beruntungnya aku memiliki orang-orang yang peduli padaku. Mana bisa aku melupakan nama-nama seperti: Imas Uliyah, Indah Bakti, Nuniek Nurbayani, Anandia Eka Kencanawati, Wati yunita, Wahyu Nur Indah Kurniasari, Siti Asiyah, dan sederet nama lain yang kalau dituliskan serasa kata pengantar skripsiku pindah ke sini. Mereka memberi dukungan dengan caranya sendiri-sendiri. Kurasa, mereka sempat hampir patah semangat membangun semangat dan percaya diriku yang mati suri.
          Hal lain yang membuatku makin gentar menghadapi skripsi adalah pembimbingku yang idealis. Memilih beliau adalah kemauanku. Mengajar di beberapa universitas ternama dan aktif di berbagai organisasi membuat beliau berkacamata luas. Aku merasa beruntung bisa dibimbing beliau.
          Tapi ya… itu. Waktu beliau terbatas. Harus sering bolak-balik Jakarta-Jember. Pernah konsulku dibatalkan sampai 3 atau 4 kali baru bisa bertemu. Pernah beliau suruh imel, tapi baru dibahas saat bertemu. Pernah beliau suruh kirim dokumen ke Jember, pun dibahas saat beliau kembali. Minimal 1 tahun bimbingan dengan beliau. Sampai beliau benar-benar yakin kita siap sidang, barulah kita di-acc.
          Aku bersyukur, paling maksimal cuma disuruh konsul di bandara—ada yang pernah harus ke Jember menyusul beliau. Ya. Aku ke bandara hanya untuk konsul. Jangan kaubayangkan kami akan duduk dan membahas skripsiku di salah satu bangku di sana. Kami membahas skripsi sambil berdesakan antre masuk terminal!
          Aku, ketika sedang konsul waktu itu, hanya membawa satu pulpen, skripsi, dan goody-bag. Ponsel, dompet, dan tas kutitip pada Bapak yang duduk di salah satu bangku. Benar-benar tak terbayang jika aku dimintai tiket. Di depan sana tampak petugas memeriksa tiket orang-orang yang antre. Aku benar-benar khawatir. Bagaimana jika dimintai tiket? Bagaimana jika dimintai uang apa itu untuk bisa masuk? Padahal nggak punya tiket dan nggak bawa uang.
          Aku berusaha mengabaikan itu. Aku konsen ke skripsi, dan voila! Aku sudah di dalam. Entah Allah campur tangan bagaimana. Mungkin aku tidak terlihat di mata petugas atau apa, yang jelas aku bisa masuk. Aku mengikuti dosenku ke mana pun ia pergi—ke tempat menimbang barang hingga ke meja panjang entah meja apa itu.
           Nafasku belum lega sampai aku keluar dari situ. Aku mencari-cari pintu keluar. Ada satu pintu—mungkin itu pintu petugas atau apa. Aku lewat situ dan dengan tatapan aneh satpam di pintu yang tampak selalu tertutup itu aku keluar. Fiuuuuhh… syukurlah!
          Masih kuingat betul saat aku (akhirnya) aku di-acc sidang oleh beliau. Waktu itu sudah  malam. Dengan perjalanan kurang lebih 1,5 jam, aku di rumahnya hanya sekitar 5-10 menit. Tanda tangan. Selesai.
Masih kuingat juga waktu sidang. Salah satu pengujiku orang kependidikan—bukan sastra murni. Babak belurlah skripsiku. Karena tegang dan sebagainya, aku kebingungan menjawab. Pembimbingku yang terkenal sebagai orang sangaaatt objektif (tidak pernah membela anak bimbingannya; bahkan ada yang pernah dijatuhkan) untungnya membelaku—tentang hal ini, setelah selesai semua, ia menolak dibilang “membela”, menurutnya ia hanya “menormalkan keadaan”.
Nah, dengan semua yang aku hadapi, bagaimana bisa aku tidak mengatakan betapa istimewanya wisudaku? Kuliah 8 tahun, mahasiswa tertua (nggak benar-benar tertua denotasi, tapi ngerti kan maksudku?), juru kunci angkatan, celingak sana nggak ada yang kenal, celinguk sini nggak ada yang kenal, ditambah seharusnya aku tidak sendiri, seharusnya aku bersama temanku yang seorang lagi yang juga berjuang bersama—entah bagaimana kabarnya sekarang.
Aku sangat, sangat, sangat bersyukur. Bersyukur Allah memantapkan niatku lulus, bersyukur Allah mempermudah jalan menyelesaikan skripsiku, bersyukur aku diberi kelapangan hati menerima segala hal, bersyukur diberi kenikmatan bersyukur, bersyukur dikirimkan malaikat-malaikat berwujud keluarga, teman, saudara, bahkan orang asing, bersyukur diberi berbagai pelajaran, bersyukur atas… ya, semuanya. Semuanya.
Kini aku seperti langit.
Merdeka.
Alhamdulillah.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih… .
*salim*