Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Februari 2013

Momen Ibu dan Anak: Cabut Uban


    Cabut uban.
            Itu momen ibu dan anak, Kawan!
            Ketika cabut uban mama, kami biasa bertukar cerita. Mama akan menceritakan hal-hal yang terjadi di rumah selama aku bekerja dan aku akan bercerita tentang kejadian-kejadian di luar rumah. Bukankah tiap orang memiliki peranan yang berbeda-beda?
            Mamaku ibu rumah tangga biasa sedangkan aku tipikal orang yang hobi kerja di luar rumah. Waktu kami berjumpa sedikit sekali. Aku pergi pagi pulang malam. Pulang kerja aku hanya sempat makan malam bersama—mama selalu menunggu aku pulang untuk makan bersama; bisa kaubayangkan jika aku sudah makan di luar dan tidak makan di rumah, maka ia tidak makan. Setelah makan malam, aku biasa menonton televisi sambil bertukar cerita sebentar atau membaca sebelum terlelap.
            Nah, dengan waktu yang minimalis begitu, aku memanfaatkan waktu libur untuk keluargaku—terutama mama. Salah satunya untuk mencabut ubannya. Masa iya, dari satu minggu aku nggak bisa memberi satu hari untuk keluarga?
            Aku bersyukur aku masih bisa mencabut ubannya, bertukar cerita. Itu anugerah, Kawan!
            Terima kasih Allah… . :)

p.s.: berhubung fotoku dan mama yang lagi cabut uban nggak ada, jadi yang aku lampirkan fotoku dan mama di ulang tahunku yang ke-26, tahun 2011. 




Ini tulisanku untuk Mom's Happiest Moment

Senin, 07 Januari 2013

Oleh-oleh dari Akademi Berbagi: Guru Ketiga

 “Keterbatasan tidak membuat kita terbelenggu.”
          Mataku yang semula sayup-sayup rebah, mulai menemukan kekuatannya. Aku menatap pria yang rambut dan alisnya sudah memutih yang berdiri di depan itu. Namanya Dian Kelana—atau begitulah orang mengenalnya. Bagiku, ia guru ketiga yang hadir membagi ilmu selain narasumber yang memang sudah sengaja dihadirkan: Pak Wijaya Kusumah dan Pak Amril Taufik Gobel.
          Mulanya Pak Dian Kelana itu tampak “hanya” wara-wiri membawa kamera dan memotret sana-sini. Ketika Om Jay—sapaan untuk Pak Wijaya Kusumah—menjawab beberapa pertanyaan dari peserta, tanpa diduga ia mengundang Pak Dian yang sedang bersender di tembok belakang. Dengan langkah lugas dan senyum khas Pak Dian maju dan bicara di depan.
          Om Jay memaparkan bahwa Pak Dian merupakan lulusan SD, tetapi telah melahirkan banyak tulisan. Pak Dian membenarkan hal itu dan menegaskan kembali bahwa ia memang lulusan SD—drop out SMP. Ia cerita, ia tinggal di sebuah panti asuhan yang tak memungkinkan untuk memberinya uang guna membeli buku wajib dari sekolah—kala itu ia sekolah di SLB.
          Kisah itu bermula saat ia diwajibkan membeli buku oleh pihak sekolah. Ia menerima buku yang disodorkan gurunya lalu ia bawa pulang. Seorang temannya yang bersekolah di tempat lain meminjam buku tersebut. Temannya itu meminjamkan lagi kepada temannya yang lain. Singkatnya, buku wajib yang belum dibayar itu hilang. Tentu ia dimarahi gurunya. Tak lama sejak itu ia memutuskan untuk mengambil jalan lain yang bukan menuju sekolahnya. Sebuah langkah besar baginya—dan kupikir juga bagi siapa pun.
          Cerita yang membuatku menganga. Ia berhenti sekolah, tetapi—yang kita tahu sekarang—ia tidak berhenti belajar. Buktinya, ia melahirkan banyak tulisan. Mana ada orang yang berhenti belajar mau dan bisa menulis?
          Selain tentang Pak Dian Kelana, ini oleh-oleh yang bisa kubagikan kepadamu dari Akademi Berbagi yang aku ikuti di ruang 201 Gedung H Unisma, Bekasi, tanggal 5 Januari 2013:
1.      Dari Om Jay aku mengetahui bahwa penulis buku teks (sekaligus penggambar) “ini Budi, ini ibu Budi, ini Bapak Budi, ini wati” masih ada. Namanya Ibu Siti Rohmani Rauf. Usianya 93 tahun. Karier terakhirnya sebagai kepala sekolah. Om Jay cerita, ketika Bu Siti mengetahui bahwa Om Jay akan datang, ia sangat bersemangat akan membuatkan Om Jay rendang hingga ia terpeleset di depan kamar mandi. Kejadian tersebut membuat Bu Siti harus dirawat di rumah sakit. Om Jay menayangkan foto beliau saat dirawat. Tampak sangat bahagia, membuatnya berusia lebih muda dari yang seharusnya. Oh, akhirnya rasa penasaran siapa pengarang “ini Budi” terpuaskan sudah. Semoga Bu Siti dianugerahi keberkahan dan kesehatan.
2.    Ada seorang laki-laki, peserta, yang berbagi cerita bahwa istrinya gemar menulis bahkan menjadikan buku sebagai suvenir pernikahan mereka. Ini membuatku tersenyum diam-diam. Itu, suvenir buku, juga merupakan niatku. Bersyukurnya mereka bisa mewujudkan keinginan mereka itu. Semoga aku juga dapat (calon) suami yang sevisi dan semisi.
3.    Tempat pertemuan yang merupakan ruang kuliah membuatku rindu kuliah. Sesekali aku membiarkan konsentrasiku pecah dan mengelilingi ruangan. Niat untuk S-2 semakin tak tahu diri, apalagi itu ruang pascasarjana. Semoga niatku diridhoi Allah.
4.    Kedua narasumber, Om Jay dan Pak Amril, dengan gayanya masing-masing memotivasi peserta untuk menulis. Salah satunya dengan motivasi materi. Om Jay yang sering menjuarai lomba nonfiksi pernah mendapatkan 25 juta rupiah sebulan karena memenangkan dua lomba sedangkan Pak Amril yang lebih banyak menulis untuk media luar pernah mendapatkan 500-600 dollar sebulan bahkan pernah diundang ke Disneyland Hongkong dengan fasilitas nomor satu karena menulis. Semoga ide-ide mereka tetap mengalir hingga tidak berhenti menulis dan tetap bisa berbagi.
5.    Aku sendiri, makin semangat menulis dan menerbitkan buku! Semoga terkabul. Yeah! \(^_^)/
6.    Untuk Akademi Berbagi, semoga tetap bisa berbagi. Terima kasih para relawan, terima kasih para narasumber, terima kasih juga untuk para peserta lain.
           

Sabtu, 29 Desember 2012

#PostcardFiction: Kelahiran boekoe



Itoe moeka entah tampak matjam apa. Di hadapnja ada rak boekoe jang djika Toean dan Nona lihat betoel-betoel tjuma milik satoe nama. Ikafff. Itoe nama milik si perempoean jang berdiri itoe. Barangkali dia terlaloenja bahagia, hingga kata telah mati kiranja. Ach, betapa kita terlaloe banjak berasoemsi.
Tak lama nanti kita akan tahoe bachwa boekoe itoe adalach anak kedoeanja; jang pertama ia seboet dengan skripsi. Ja, ja, kaoe bolehlach tertawa (oentoek alasan apa poen ataoe tak poenja alasan sekalipoen). Ia memang menjeboet semoea karja jang lachir dari dirinja adalach anaknja (jang tidak perloe menoenggoe boelan ke sembilan tentoenja).
Dengan berdirinja ia di sitoe, di depan rak boekoe seboeah toko boekoe itoe, ia lagi mengadakan perajaan; jang dihadiri oleh ia, karjanya, seloeroeh dirinja berkoempoel sempoerna. Ia sjahdu menikmati waktoe.
“Sjoekoerlach, akoe melahirkan normal, boekan sesar, boekan prematoer.”
Kita laloe merasa kita tak perloe mengerti benar apa artinja. Biarkan sadja ia dan boekoenja dan dirinja dan waktoenja. Biarkan sadja dia anggap kita poenja pemikiran mengerti logikanja. Begitoe lebich baik kiranja.
“Terima kasich soedah berkenan lahir dari rahimkoe, soedah maoe djadi bagian dari dirikoe.”
Lagi-lagi ia bermonolog. Mari kita pasang kita poenja telinga. Tak perloelah lebich dari itoe.
“Maaf, akoe tak poenja kata jang tjoekoep oentoek menjamboetmoe, anakkoe. Jang djelas, jang perloe kiranja kaoe tahoe, akoe bangga memilikimoe.”
Angin menjapa lemboet ia poenja roepa.
“Kaoe tahoe, sedjak moelanja hingga kini, akoe tak pernah tahoe, dari mana kata-kata jang koeradjoet di dalammoe itoe keloear, menetes dan menetas. Tentoelah Toehan memberi kepertjajaan jang sangat besar kepadakoe karena telach membiarkan kata-kata keloear dari benakkoe, dari segala loebang di toeboehkoe.”
Makin entah apa jang dimaksoed. Tak lama setelah itoe, kita tak lagi mendapati perempoean itoe di sitoe. Ia berangsoer mendjaoeh. Bisikan terakhirnja sebeloem ia berandjak adalach: terima kasich.



(Tulisan yang dirangkai dalam rangka #PostcardFiction yang diadakan oleh Kampung Fiksi   dan Smartfren).

#PostcardFiction: Satu Selebrasi



          Belum-belum aku sudah seperti nano-nano. Beragam rasa. Seperti banyak bola-bola rasa bertuliskan: senang, sedih, haru, bahagia, dan kawan-kawan yang mengudara di kamarku. Mereka muncul dari benak, dari hati, dari mata, dari kuping, dari segala lubang, dari segala pori di tubuhku.
          Mungkin kamu bertanya-tanya, seberapa istimewanya peristiwa itu sampai-sampai berbagai rasa memenuhi udara. Ya, kan?!
          Mmm… Dia itu disebut: WISUDA (kuberi huruf kapital biar matamu bisa membesar dan berbinar. Hehe…). Menurutku itu satu pencapaian. Bukan cuma pencapaianku, melainkan juga pencapaian keluargaku dan orang-orang di sekitarku.     
          Awalnya kuliahku lancar. Aku bisa mengambil SKS lebih banyak dibanding kebanyakan teman dan bisa semester pendek dengan tujuan percepatan (bukan perbaikan). Tahun 2003 aku masuk kuliah dan tahun 2006 semua mata kuliah selesai. Tiga tahun. Tinggallah skripsi. 
          Namun, Allah berkehendak lain. Rencanaku bubar jalan. Berbagai konflik seperti terasa kelereng setruk dijatuhkan dari langit ke kepalaku. Mulanya masalah ekonomi, berimbas ke masalah keluarga, berimbas ke masalah internal diriku, dst.
          Aku kesulitan konsentrasi. Pikiranku pecah ke mana-mana. Bolehlah kau tahu, aku baru kembali ke kampus tahun 2010 (sejak tahun 2007 awal). Sebelumnya, aku ke kampus hanya untuk bayaran, tanpa kuliah, tanpa konsul, tanpa aktivitas apa pun—temanku selalu bilang: “Ika Fitriana sedang bertapa di gunung”.
          Beruntungnya aku memiliki orang-orang yang peduli padaku. Mana bisa aku melupakan nama-nama seperti: Imas Uliyah, Indah Bakti, Nuniek Nurbayani, Anandia Eka Kencanawati, Wati yunita, Wahyu Nur Indah Kurniasari, Siti Asiyah, dan sederet nama lain yang kalau dituliskan serasa kata pengantar skripsiku pindah ke sini. Mereka memberi dukungan dengan caranya sendiri-sendiri. Kurasa, mereka sempat hampir patah semangat membangun semangat dan percaya diriku yang mati suri.
          Hal lain yang membuatku makin gentar menghadapi skripsi adalah pembimbingku yang idealis. Tapi ya… itu. Waktu beliau terbatas. Harus sering bolak-balik Jakarta-Jember. Pernah konsulku dibatalkan sampai 3 atau 4 kali baru bisa bertemu. Aku bersyukur, paling maksimal cuma disuruh konsul di bandara—ada yang pernah harus ke Jember menyusul beliau. Ya. Aku ke bandara hanya untuk konsul. Jangan kaubayangkan kami akan duduk dan membahas skripsiku di salah satu bangku di sana. Kami membahas skripsi sambil berdesakan antre masuk terminal!
           Kini aku seperti langit.
Merdeka.
Alhamdulillah.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih… .
*salim*

 
(bersama orang-orang paling berharga di momen berharga) 

(Catatan ini diikutsertakan dalam #Postcardfiction yang diadakan oleh Kampung Fiksi dan Smartfren).

Selasa, 11 Desember 2012

Roman Picisan

Pasti pernah denger "roman picisan", ya? Nah, yang saya tahu tentang itu begini.. 

Roman dibedakan dengan novel. Roman itu menceritakan tokoh hingga ia mati.

Dulu, Indonesia mengenal satuan mata uang "picis". Kalau dibanding sekarang, setara dengan, emm.. Pokoknya murahlah.

Dulu, 1 rupiah aja udah mahal, lho.. *katanya*

Nah, itu roman yang harganya satu picis (baca: murah, kadang dimaknai: murahan).

Sampul biasanya dibuat mencolok agar orang-orang tertarik. Ia pun mudah dimengerti, tanpa mengerutkan dahi.

Pada masa sekarang, kita bisa melihat itu sebagai bagian dari sastra populer.

Sabtu, 01 Desember 2012

Dear Diary: Pameran Kebudayaan Belanda

 : Museum Mandiri di kawasan Kota Tua hari ini (25 November 2012) mengadakan pameran kebudayaan Belanda

 : onbijk koek (semoga tulisannya bener) adalah kue yang mirip kue yang kita kenal dengan brownies. Cuma rasanya agak beda.

 : menurut istri penjual onbijk koek, kue ini dulu sering dimakan utk menemani minum teh *bayangin jadi noni Belanda pas makan :b

: kue profertjes beda lagi. Kue ini mirip, em, kue apa ya? Pokoknya kalau liat, pasti tau, deh.. Kue ini pake cetakan bulet kecil. Kayak gini, nih:



: Profertjes beraroma manis. Rasanya? Beuuuh.. Mangstab. Meski beraroma manis, rasanya tidak manis berlebihan. Pas.

: ada oma-oma mirip Bu Sakura (anggep aja kenal Bu Sakura) ngobrolin bahan-bahan kue dengan bapak penjual pake bahasa Belanda

: sayangnya, di pameran kebudayaan Belanda tadi nggak sempet coba baju orang sana :/

Kamis, 08 November 2012

Selamat ulang tahun



"Selamat ulang tahun" menjadi kata yang ia ulang-ulang tiap tahun, tanpa pernah kami bertemu.

Ulang tahunmu menjadi harimu sedunia, tiada kamu yang lain di hari itu.

Selamat ulang tahun, aku.. Semoga tahun depan ada kamu..

Sms-ku tiba di ponselmu. "pengingat: hari ini ulang tahunmu".

"Selamat ulang tahun, kamu..," bisikku pada kado yang harusnya buatmu 2 tahun lalu.

angin



Ada yang mengetuk jendelaku dengan tergesa. Ternyata angin. Ia membawa sekarung surat cinta.

Angin pulang padaku dengan wajah lesu. "Ia tak butuh salammu".

Angin mengantar bau ke hidung, pun mengantar rasa ke kamu.

Pernah aku tulis namanya di tisu. Ulah anginlah hingga ia tahu.

Kuyakin, sebagaimana juga aku, banyak orang yang menitipkan salam melalui angin.