Senin, 09 Juni 2014

Ini Buat Abon

Hai, Abon!
          Makasih ya sudah ngasih award ke aku. Ya emang, aku tahu kok aku mirip Dian Sastro. *iyain aja biar cepet*
          Aku sebelumnya sudah pernah dapat Liebster award, tapi waktu itu aku jawab di twitter. Rencananya, untukmu pun kujawab aja gitu di twitter, tapi apalah daya rencana tinggal rencana. Kita manusia cuma bisa berusaha. *apeeu*
          Melalui tulisan ini, aku cuma jawab pertanyaan yang sudah kauajukan di sini aja, ya! A itu berarti Abon, I itu berarti Ikaf. Ngerti ya? Ada pertanyaan?
          Bentar, ada pertanyaan dulu nggak? Jangan sampai menyesal kemudian ini.
          Nggak ada? Yakin? Nanti keluar di ujian lho!
          Bener nggak mau nanya? Eh lah, kamu kan udah nanya di blogmu ya? Aku kan tinggal jawab ya? Bilang dong dari tadi, Bon! Jadi aku nggak ngetik banyak-banyak. Kan pegel juga. Hih. Dasar cowok.

1.     A: Mengenal blog dari mana, sih?
I: Ketemu aja di jalan, terus kami kenalan gitu. Lama-lama akrab, tapi kami nggak jadian kok.

2.    A: Udah berapa kali ganti blog?
I: Blog yang sekarang ini yang kedua. Aku gagal dengan yang pertama. Aku cedih cekali. :(

3.    A: Kalau makan soto pake tangan langsung atau pake sendok?
I: Pake apa pun asalkan sama dia mah asyik aja. Uwuwuwu~
  
4.    A: Punya kenalan cewek yang jomblo nggak? Kenalin bisa kaliiii.
I: Ta, tapi, aku kan cewek… . Em, kamu punya Om ganteng yang jomblo? :B

5.    A: Mmm, enaknya gue ngasih pertanyaan apalagi ya?
I: Duh, soal sulit ini. Bentar ya, aku pikir-pikir. Hmmm, apa ya? Enggg… . Tapi kalau aku kasih usul kamu mau dengerin aku nggak? Apa kamu mau aku kasih pertanyaan? Etapi kan kamu yang pengin bikin pertanyaan. Lah, terus aku harus gimana dong?

6.    A: Oiya, hingga sekarang dapat apa dari ngeblog?
I: Jadi gini, kalau kita selalu mikir “dapat apa”, kita jadi nggak kreatif. Mestinya, kita yang memberikan sesuatu. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Jangan mengharapkan “dapat apa” dari blog, tapi “apa yang bisa kita beri untuk blog”. Gitu. Anak muda itu harus semangat! Kan kata Bung Karno juga gitu. Tahu kan ya kata Bung Karno? Ya gitu. Terus, kamu tahu nggak kalau Bung Karno dan Edward Cullen itu sama-sama lahir tahun 1901? Ya seangkatan gitu sama aku. Kamu ngerti nggak sih maksud aku?

7.    A: Jalan-jalan yuk keliling Indonesia. Mau?
I: TMII maksudnya?

8.    A: Bisa masak nggak?
I: Bisa. Mbak warteg kan?

9.    A: Tipe blog lo itu yang kayak gimana sih?
I: Aku mah nggak macam-macam. Yang penting bisa jadi imam dalam ibadah dan sehari-hari. Terus, setia, penyabar, penyayang, bertanggung jawab. Ganteng mah bisa diatur. Selama akunya cinta mah dia bakal ganteng. Iya, semoga kami bahagia dan saling mencintai “lebih lama dari selamanya” (kalau kata Khrisna Pabichara) dan “sepanjang usia Tuhan” (kalau kata Aan Mansyur). Amin. *usap muka*

10.  A: Menurut lo, blog lo bermanfaat nggak buat orang lain?
I: Lumayanlah. Bisa dikasih award gitu.

11.   A: Mau ngucapin makasih ke gue nggak? Ngasih uang gitu.
I: Oke. Punya kembalian lima puluh ribu? Sini dulu kembaliannya.

          Udah gitu doang pertanyaannya, Bon? Nggak seru ah.


Jumat, 06 Juni 2014

[Prompt #52]: Roema

Sumber

Dear June,
          Yang paling tidak rela kutinggalkan sendirian adalah buku. Kau bisa lihat pada foto yang kucantumkan di atas: koleksi buku yang kususun sedemikian rupa. Ke mana pun aku pergi, mereka selalu harus kubawa. Di sana pula aku tinggal.
          Em, sebenarnya itu kontainer bekas yang sudah tidak terpakai. Kubeli dari sebuah situs di internet. Mereka memang banyak menjual kontainer yang sudah tidak lagi dipakai. Kufungsikan saja sebagai rumah. Aku menyebutnya: Roema.
          Tempat tidurku di bagian belakang—yang ada tangga kayu itu, kaulihat?
          Foto ini kuambil kala aku sedang dalam perjalanan menuju kota Kita. Aku tempelkan Roema di bawah rel kereta C-Express. Lihat saja langit-langit Roema. Kayu-kayu yang ukurannya sama itu bagian rel kereta. Jadi ke mana kereta melaju, ke situ aku menuju.
          Ketika melewati track yang tidak stabil, lampu Roema bergoyang-goyang, mengingatkanaku pada tarian hula-hula. Ya, mereka—lampu-lampu itu—memang meniatkan begitu. Menari hula-hula, maksudku. Kalau sudah begitu, Shah Rukh Khan yang tinggal di loker India akan melongok sebentar lalu kembali asyik di dalam buku—barangkali sedang bicara dengan Gandhi. Aku memilih duduk di pangkuan Grace, sofa biru pudar yang kuletakkan di sudut. Dengan lembut Grace akan berbisik, “Tenang, tidak apa-apa. Guncangan ini hanya sebentar lalu reda.” Kupikir kelembutannya seperti nenekku, kautahu, nenekku yang dari ibuku.
          Ah, cukup, cukup. Itu saja, June. Aku tak mau bicara terlalu banyak kepadamu tentang Roema. Aku tak mau terlalu banyak orang yang menjenguk ke kolong kereta sebelum menaikinya hanya untuk memastikan ada aku di situ atau tidak. Sudahlah, June, kau jadi manusia biasa saja yang tidak bisa melihat apa-apa.

Rabu, 04 Juni 2014

Hai!

          Sudah beberapa minggu Hai hilang. Ia dicari-cari banyak orang—dengan berbagai cara. Ada yang bikin poster/pamflet kehilangan lalu ditempel di tiang listrik. Ada yang lapor polisi kemudian polisi dengan mobil bersirine tinuninut berkeliling kota. Mereka pula pakai pelantang, “Hai, di mana kamu?”
          Ada yang mencarinya secara manual. Cari di kolong meja. Cari di saku celana. Cari di selipan buku. Cari di mana saja. Em, bahkan ada yang berencana membedah dirinya karena berpikir jangan-jangan ada Hai di dalam tubuhnya, diam-diam menggerogoti dari dalam. 
          Semua cemas. Di mana Hai?
          Televisi ramai menyiarkan. Kata berita, “Pemirsa, di Monas telah ditemukan Hai. Mari kita saksikan langsung… .” Ah ya, blablabla. Ternyata bukan Hai. Hanya mirip saja.
          Di mal petugas keamanan memperkuat pengawasan. Tiap orang digeledah barang bawaannya. Di bandara pula demikian. Semua orang mesti berputar di depan petugas dan rela disuruh membuka pakaian; kalau-kalau Hai disembunyikan di selipan BH atau kantung kecil di celana dalam.
          Oh, Hai, di mana kamu berada?

(19 Mei 2014)


Rabu, 28 Mei 2014

Truk Sampah dan Mobil Polisi

          Si Lelaki sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang belum fasih bicara. Anak  kecil itu memegang truk berwarna oranye dan sedan hitam-putih. Ia mencoba mengakrabi si anak kecil dengan memulai, “Ini mobil apa, Mas?”
          Si anak kecil memandang truk oranye yang ditunjuknya. “Mobil campah, Om.”
          “Mobil sampah? Oh... .” Ia mengangguk-angguk. “Mobil sampah ini untuk apa?”
          “Untuk ngambil campah.”
          Ia mengangguk-angguk lagi. Berikutnya ia menunjuk mobil sedan berwarna hitam-putih. “Kalau yang ini?”
          “Mobil polici.”
          “Wah, mobil polisi? Kalau mobil sampah untuk ngambil sampah, terus mobil polisi ini untuk apa?”
          “Untuk jagain campah, Om.”

(17 April 2014)


Senin, 26 Mei 2014

Tidak Ada Friksi

tidak ada friksi
ini tentang manisnya reuni kecil
yang menggelantung di udara

ya,
aku akan menemuimu
melalui reuni malam hari.

(10 November 2013)