Selasa, 15 Januari 2013

Untuk Zarry Hendrik

Jatiwaringin, 15 Januari 2013
Dear Zarry,
            Apa kabar, Zarry? Masih gantengkah? Ah, pasti begitu. Tak perlu kautanya, aku akan memberi tahu bahwa aku masih cantik seperti sebelumnya.
            Kamu pasti lama banget, ya, nunggu surat dari aku? Habis, mau gimana? Ketika aku ingin mengirim surat ke kamu, aku terpukau ketampananmu, ternganga begitu lama. Sadar-sadar sudah tahun 2013. Ah, kurasa kau tak perlu tahu itu, Zar.
            Melalui surat ini aku ingin membalas puisimu tempo hari, Zar. Yang “Astaga, Gue Ganteng Banget!” itu. Aku begitu terkagum-kagum melihatmu. Pasti berat bagimu mengakui ketampanan tanpa membuat laki-laki lain iri begitu. Ah, ah, aku kebanyakan bicara. Ini puisiku untukmu:

Et Dah, Zarry, Elu Ganteng Banget!

Et dah, Zarry,
elu ganteng banget!
Tadinya kodok jalannya lurus,
tapi pas liat gantengnya elu,
dia melompat-lompat kegirangan dan lupa caranya jalan lurus.

Et dah, Zarry,
elu… elu ganteng banget!
Debu-debu itu tadinya satu makhluk.
Mereka melumer, meluruh, memencar
gara-gara gantengnya elu, Zar!

Et dah, et dah, Zarry,
elu ganteng banget!
Deket elu rasanya gue naek bajaj:
gemetar!

Et, dah, eh bujug, Zarry,
elu ganteng banget!
Pikiran awal gue, foto lu foto editan:
apa iya ada orang ganteng ampe sebegitunya?

Teori gue tentang foto editan bubar jalan
pas pertama kali gue liat elu di Langsat,
peluncuran Sadgenic-nya Rahne Putri.
Gue inget, lu ngobrol sama Dini Budiayu.
Dari pertama kali liat, gue tau itu elu.
Sayangnya, lu pura-pura nggak kenal gue.
Gue ngerti, kok, karena ada Rahne dan Dini, kan?
Lu nggak mau kan, mereka sadar ada orang yang lebih cantik daripada mereka?

Aih, Zarry,
elu bidadara yang sayapnya rontok saat jatuh ke tanah!

Zarry, Zarry, Zarry,
et dah, elu ganteng banget!
Bekasi yang tadinya satu
memecah jadi dua:
kota dan kabupaten.

Enggg..
kalau yang ini bukan karena gantengnya elu, Jep.

Ya, udahlah,
yang penting elu ganteng banget, Zarry!
*ngelempar kertas ke udara*


Senin, 14 Januari 2013

untuk Mbak Cantik



Kolong Langit, 14 Januari 2013
Dear mbak-mbak cantik yang di sana,
            Salam kenal.
            Begini, Mbak, apakah Mbak sadar kalau Mbak begitu cantik?
            Saya yakin, selain berwajah sangat cantik, Mbak juga sangat-sangat baik hati. Ya, kan?
       Maksud sampainya surat ini ke mata Mbak tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyatakan rasa kagum saya terhadap kecantikan dan keluhuran budi Mbak.
          Tahukah, Mbak, dengan kecantikan dan kebaikan hati Mbak itu, Mbak bisa mendapatkan siapa pun yang Mbak mau. Lelaki mana pun pasti takluk di hadapan Mbak dan rela melakukan apa pun yang Mbak minta. Ya, kan?
            Saya yakin dugaan saya tidak salah.
            Oleh sebab itu, Mbak, cari saja lelaki tampan, mapan, dan menawan seperti pangeran. Nah, biar lelaki Mbak saya yang jaga. Saya rela, kok, jadi penjaga hatinya seumur hidup. seumur hidup.
            Sekian dulu surat ini. Semoga Mbak cantik berkenan dengan kata-kata saya. Empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat tak perlu dibalas.Burung Irian burung cendrawasih, cukup sekian terima kasih.


Yang mengagumimu,

saya

Rabu, 09 Januari 2013

Lelaki Tanpa Nama


Lelaki tanpa nama berdiri diam di depan gerbang
Wajahnya terdiri dari beragam tanda tanya
Dari yang kecil hingga yang besar

Semua pada dirinya hitam;
Kukira semula ia hanya bayang-bayang
Ah, tetapi barangkali benar ia terdiri dari bayang-bayang
Tetapi barangkali juga gabungan bayang-bayang dengan yang lain.

Ia tetap bergeming di depan gerbang
Tak membunyikan bel atau kentongan
Tak membuat kegaduhan
Lama baru aku tersadar
Lelaki tanpa nama itu menanti
Menanti kami membuat kenangan.

(Rawamangun, 15 Desember 2012)

Senin, 07 Januari 2013

#Magical2013 Day 3: Hal yang Paling Kuinginkan Tahun ini


Yang paling kuinginkan tahun 2013 ini?
Adikku lulus dan wisuda.
Semoga Allah memberi berkah dan memberi kelancaran untuk niat itu.
Semangat, Sist!
Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Oleh-oleh dari Akademi Berbagi: Guru Ketiga

 “Keterbatasan tidak membuat kita terbelenggu.”
          Mataku yang semula sayup-sayup rebah, mulai menemukan kekuatannya. Aku menatap pria yang rambut dan alisnya sudah memutih yang berdiri di depan itu. Namanya Dian Kelana—atau begitulah orang mengenalnya. Bagiku, ia guru ketiga yang hadir membagi ilmu selain narasumber yang memang sudah sengaja dihadirkan: Pak Wijaya Kusumah dan Pak Amril Taufik Gobel.
          Mulanya Pak Dian Kelana itu tampak “hanya” wara-wiri membawa kamera dan memotret sana-sini. Ketika Om Jay—sapaan untuk Pak Wijaya Kusumah—menjawab beberapa pertanyaan dari peserta, tanpa diduga ia mengundang Pak Dian yang sedang bersender di tembok belakang. Dengan langkah lugas dan senyum khas Pak Dian maju dan bicara di depan.
          Om Jay memaparkan bahwa Pak Dian merupakan lulusan SD, tetapi telah melahirkan banyak tulisan. Pak Dian membenarkan hal itu dan menegaskan kembali bahwa ia memang lulusan SD—drop out SMP. Ia cerita, ia tinggal di sebuah panti asuhan yang tak memungkinkan untuk memberinya uang guna membeli buku wajib dari sekolah—kala itu ia sekolah di SLB.
          Kisah itu bermula saat ia diwajibkan membeli buku oleh pihak sekolah. Ia menerima buku yang disodorkan gurunya lalu ia bawa pulang. Seorang temannya yang bersekolah di tempat lain meminjam buku tersebut. Temannya itu meminjamkan lagi kepada temannya yang lain. Singkatnya, buku wajib yang belum dibayar itu hilang. Tentu ia dimarahi gurunya. Tak lama sejak itu ia memutuskan untuk mengambil jalan lain yang bukan menuju sekolahnya. Sebuah langkah besar baginya—dan kupikir juga bagi siapa pun.
          Cerita yang membuatku menganga. Ia berhenti sekolah, tetapi—yang kita tahu sekarang—ia tidak berhenti belajar. Buktinya, ia melahirkan banyak tulisan. Mana ada orang yang berhenti belajar mau dan bisa menulis?
          Selain tentang Pak Dian Kelana, ini oleh-oleh yang bisa kubagikan kepadamu dari Akademi Berbagi yang aku ikuti di ruang 201 Gedung H Unisma, Bekasi, tanggal 5 Januari 2013:
1.      Dari Om Jay aku mengetahui bahwa penulis buku teks (sekaligus penggambar) “ini Budi, ini ibu Budi, ini Bapak Budi, ini wati” masih ada. Namanya Ibu Siti Rohmani Rauf. Usianya 93 tahun. Karier terakhirnya sebagai kepala sekolah. Om Jay cerita, ketika Bu Siti mengetahui bahwa Om Jay akan datang, ia sangat bersemangat akan membuatkan Om Jay rendang hingga ia terpeleset di depan kamar mandi. Kejadian tersebut membuat Bu Siti harus dirawat di rumah sakit. Om Jay menayangkan foto beliau saat dirawat. Tampak sangat bahagia, membuatnya berusia lebih muda dari yang seharusnya. Oh, akhirnya rasa penasaran siapa pengarang “ini Budi” terpuaskan sudah. Semoga Bu Siti dianugerahi keberkahan dan kesehatan.
2.    Ada seorang laki-laki, peserta, yang berbagi cerita bahwa istrinya gemar menulis bahkan menjadikan buku sebagai suvenir pernikahan mereka. Ini membuatku tersenyum diam-diam. Itu, suvenir buku, juga merupakan niatku. Bersyukurnya mereka bisa mewujudkan keinginan mereka itu. Semoga aku juga dapat (calon) suami yang sevisi dan semisi.
3.    Tempat pertemuan yang merupakan ruang kuliah membuatku rindu kuliah. Sesekali aku membiarkan konsentrasiku pecah dan mengelilingi ruangan. Niat untuk S-2 semakin tak tahu diri, apalagi itu ruang pascasarjana. Semoga niatku diridhoi Allah.
4.    Kedua narasumber, Om Jay dan Pak Amril, dengan gayanya masing-masing memotivasi peserta untuk menulis. Salah satunya dengan motivasi materi. Om Jay yang sering menjuarai lomba nonfiksi pernah mendapatkan 25 juta rupiah sebulan karena memenangkan dua lomba sedangkan Pak Amril yang lebih banyak menulis untuk media luar pernah mendapatkan 500-600 dollar sebulan bahkan pernah diundang ke Disneyland Hongkong dengan fasilitas nomor satu karena menulis. Semoga ide-ide mereka tetap mengalir hingga tidak berhenti menulis dan tetap bisa berbagi.
5.    Aku sendiri, makin semangat menulis dan menerbitkan buku! Semoga terkabul. Yeah! \(^_^)/
6.    Untuk Akademi Berbagi, semoga tetap bisa berbagi. Terima kasih para relawan, terima kasih para narasumber, terima kasih juga untuk para peserta lain.