Tampilkan postingan dengan label laki-laki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laki-laki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

Komitmen


Kalau bukan kata-kata,
lalu apa yang bisa dipegang dari seseorang?

Komitmen.

Nggak kenal laki-laki atau perempuan,
harusnya komit dengan apa yang telah disepakati sebelumnya.
Kalau nggak berani komit
ya jangan bilang apa-apa
apalagi membuat kesepakatan.
Logikanya kan gitu..

Nah,
kalau sudah membuat kesepakatan,
atau dalam proses pembuatan kesepakatan,
harusnya komit untuk menjalankan kesepakatan itu, dong..
Kalau dirasa nggak sanggup,
atau belum siap,
ya bilang saja
dan jangan buat kesepakatan dulu
apalagi sebagai pihak yang mengajak.

Siapin diri dulu sebelum komitmen.

Komitmen di sini nggak melulu tentang hal-hal besar
Seperti pernikahan..
Tapi dari hal-hal kecil.

Ketika sudah bilang iya
untuk jemput adek misalnya
ya harus komit.
Jemput adek.

Ketika setuju untuk membeli mie di warung
ya harus komit.
Beli mie di warung.

Nah, kalau udah setuju untuk ketemu,
ya harus komit.
Ketemu.
Bukan malah membatalkan karena ada komitmen lain yang dibuat belakangan.
Harusnya kan pake urutan:
Komitmen mana dulu yang dibuat ya itu yang dijalani.
Gitu, kan?



Hujan bunga-bunga


Hujan bunga-bunga
dari istana selapis di bawah langit
dan pangeran turun dari singgasana
hampiri laut mahaluasnya
menyelam menemukan mendapatkan
perempuan nestapa
yang tak terlihat mata manusia.



(6 Januari 2012)




Cermin


Ada sebuah cermin di sana.
Cermin besar yang tingginya 1, 5 x badannya.
Dalam cermin itu tampak seorang pria berkaca mata persegi bingkai hitam.
Ia mengenakan kemeja kotak-kotak hitam putih.
Gitar tersandang di punggungnya.

Dari arah kiri seseorang muncul.
Ia mengatakan kepada lelaki di depan cermin,
“Aih, cantik benar kau dengan rok itu.”

Laki-laki tersebut otomatis bertanya kepada cermin—melalui matanya.
Lalu… Zlap.
 Dalam cermin tersebut kini tiada sang lelaki dengan gitar tersandang.
Terlihat di sana seorang perempuan cantik
berambut panjang bersepatu hak 12 cm.
Ia mengenakan rok rampel selutut dengan renda di bagian tepinya.

Dari arah kanan seseorang muncul.
Ia mengatakan pada perempuan itu,
“Amboi, kamu lucu sekali, Dik.
Pipimu menggemaskan.”

Perempuan tadi otomatis melihat mata cermin,
Lalu… zlap.
Dalam cermin itu tiada lagi sang perempuan.
Yang ada seorang anak kecil dengan pipi gendut menggemaskan.
Pipi itu tampak sangat ranum bagaikan apel yang siap dipetik.
Si orang lewat tadi lantas menjawil pipinya dan berlalu.

Seekor burung hinggap di atas cermin.
Ia berkata kepada si anak kecil,
“Anakku, mari kita mencari makan.
Akan kuajari kau.”

Si anak kecil mengerjapkan matanya
Lalu menatap cermin
dan… zlap.
 Tiada si anak kecil
Dan yang ada hanyalah seekor burung kecil
Berciap-ciap.
Sedetik kemudian ia kepakkan sayapnya.
Terbang.
Mengikuti burung yang hinggap tadi.

Sang cermin pun sendiri.

http://amalianjani.files.wordpress.com/2011/01/cermin-diri150x150-300x272.jpg

(1 November 2011) 

Joni Iskandar

Namanya Joni Iskandar. 
Ia yang namanya diambil dari nama pedangdut terkenal zaman aku SD. 
Ia yang waktu kecil dulu lari terbirit-birit dikejar-kejar adikku yang marah bukan main. 
Ia yang anak ketujuh yang hidup di keluarganya. 
Ia yang beradik Tatang S seperti nama komik petruk. 
Ia yang juga sakit paru2 sebagaimana almarhumah ibunya. 
Ia yang terpuruk lama di rumah sakit. 


Ia sudah tiada. 
Dengan tiada orang yang menjenguknya 
karena ia anak orang tak punya. 


Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.

Moon over my obscure little town

Salah satu hal tercantik dari dwilogi "Padang Bulan" karangan Andrea Hirata adalah puisinya. Ceritanya, puisi tersebut dibuat oleh Ikal lalu digubah ke dalam bahasa Inggris oleh Enong (dengan bantuan Indri). Puisi dalam bahasa Indonesianya sih biasa, tapi menurut saya, versi Inggrisnya cantik.. 
Ini dia puisinya: 


"Moon over my obscure little town" 


stranger 
stranger 
someone stranger 
standing in a mirror 
I can't believe what I see 
how much love has been taken away from me 


my heart cries out loud 
everytime I feel lonely in the crowd 
getting you out of my mind 
like separating the wind from the cloud 




afraid 
afraid 
I'm so afraid 
of losing someone I never have 
crazy, oh, crazy 
finding reason for my jealousy 


all I can remember 
when you left me alone 
under the moon over my obscure little town 
as long as I can remember 
love has turned to be as cold as December 


the moon over my obscure little town 
the moon over my obscure little town.

Selasa, 07 Juni 2011

ATAS NAMA KEBAHAGIAAN

Perempuan itu tahu sang lelaki menyukainya
dan lelaki itu pun tahu sang perempuan menyukainya.

Suatu kali,
sang lelaki mengetahui ada pihak lain
yang ingin memiliki sang wanita.
Sang lelaki pun lantas membiarkan
—bahkan mendorong—
pihak lain itu untuk mendekati si perempuan.

Menurut sang lelaki,
“Saya rela kamu bersama dia..
Yang penting kamu bahagia.
Ini yang terbaik untuk kamu.”

Perempuan bilang,
“Bodoh!
Dari mana kamu tahu dia yang terbaik atau bukan?
Bagaimana kamu bisa bilang aku akan bahagia dengan dia?
Yang aku inginkan itu kamu!
Kamu pikir aku barang,
yang bisa kamu serahkan kepada pihak lain?
Sejak awal kamu tahu perasaanku
dan aku juga tahu perasaanmu.
Mengapa kita tidak bersama saja?”

“Ini demi kebahagiaan kamu..”

“Omong kosong!
Kebahagiaan bagian mana?
Aku sakit,
Kamu sakit,
Lalu kamu harap aku berbahagia
dengan orang yang jelas-jelas bukan orang yang ingin kubagi hati??
Jangan jadi pengecut!
Kalau kamu suka ya suka.
Mari berjalan bersama.
Bukan malah menjual aku
Pada pihak
Yang—kaubilang—terbaik dan akan membahagiakanku.
Lagipula,
Biar aku yang menentukan
apa yang terbaik bagiku,
apa yang membahagiakanku,
dan dengan siapa aku ingin wujudkan itu.”

(Jaticempaka, 11 April 2011)

Senin, 30 Mei 2011

turun, nih!

Anda perempuan?
sering melakukan aksi "turun, nih!"?
aha.
cekibrotlaahh..


eh, ada yang nggak tau?
oke,
saya jelaskan dulu apa itu aksi "turun, nih!"
aksi "turun, nih!" adalah sebuah aksi simpatik-posesip-prepentip-proaktip-propokatip (halah, ngasal!) 
yang dilakukan oleh perempuan bila kesal terhadap kekasihnya (atau siapanyalah itu) tetapi posisi masih nangkring di atas kendaraan bermotor.


hal yang bikin perempuan kesal hingga ia berniat ingin turun dari kendaraan bermacam-macam.
misalnya,
cowoknya: "Beb, kamu belom mandi, ya?"
ceweknya: "Apa, sih? udahlah. kenapa emang?" (tersinggung)
cowoknya: "kok ada bau nggak sedap, ya?"
ceweknya: "trus, maksudnya yang bau itu PASTI akuuuuu?"


sedetik kemudian..
ceweknya: "udah. turunin aku di sini."


nah, itu contoh aksi "turun, nih!".
pernah?


em, di sini saya akan membantu bagi yang sering melakukan aksi ini.
(uhuk, nggak usah terima kasih).
ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan untuk melakukan aksi ini.


1. PASTIKAN kekasih Anda (atau siapalah itu) adalah benar-benar orang yang sayang, atau (paling nggak) baeklaah terhadap Anda. jangan pilih pria yang nggak tahu diri, tegaan, dan cuek kelewatan.
kenapa?
ini penting, sist.
karena bisa-bisa kamu beneran diturunin dan ditinggal pulang.
yang tadinya kesel jadi makin mangkel, kan?


2. taapiii..
kalo emang ditinggalin beneran, ya.. ya, udah.
ini tips selanjutnya.
sebelum berangkat, PASTIKAN tas Anda berisi uang, bukan cuma aksesoris, doang..
jadi, meskipun ditinggal di jalan, Anda bisa naek taksi, naek ojek, atau naek angkot kalo tahu ditinggal di daerah mana.


3. aha.
masih terkait dengan kalimat terakhir tips sebelumnya.
pengetahuan tentang seluk-beluk Jakarta (atau tujuan kita) itu penting, sist.
sebelum bepergian, harusnya kita sudah tahu akan ke mana dan PASTIKAN tahu jalan-jalannya untuk mengantisipasi terjadinya adegan ini.
eng, atau nggak, bawa peta juga nggak papah.. :D


4. em, kalo misalnya Anda benar-benar ditinggal di jalan dan ternyataaaaaaa nggak bawa uang,
ini malapetaka.
eh, tapi tenang.
sejak awal, PASTIKAN dulu hape Anda ada pulsanya.
nah, hubungi tuh dewa-dewa penolong Anda (yang entah siapa lagi itu).
beres.


5. kemungkinan terburuknya,
jika Anda nggak bawa uang,
pulsa nggak ada,
dan beneran ditinggal di jalan,
ya, ya, udah..
jalan kaki ajah.
untuk menjalankan tips ini, PASTIKAN Anda sehat (minimal) secara fisik.
tanamkan sugesti dalam diri Anda bahwa Anda adalah olahragawan tingkat dewa.
*ngebayangin: diturunin di daerah priok tapi rumah di Jatiwaringin.
trus, jalan kaki gitu?
kurang dewa apa, coba?
-_______________-"
  
6. tips terakhir.
PIKIRIN mateng-mateng deh kalo mo ngelakuin aksi ini.
prinsipil atau nggak hal yang kita permasalahkan.
kalo dia hampir membunuh Anda karena Anda menolak dia,
ya itu sih udah kaga pake mikir 2x kaleeee..
cuma kenal satu kata:
TURUN.
hih.
dia pikir dia siapa?

Kamis, 19 Mei 2011

Hati punya logika sendiri

Tiba2 saya teringat dengan karakter permaisuri di film Korea "Princess Hours".
Di film tersebut,
sang permaisuri raja merupakan tokoh taat adat yang terkesan kaku.

Yang menarik perhatian saya,
meskipun terkadang tampak kaku dsb
ia juga merupakan orang yang sangat setia dan sangat mencintai suaminya.

Ya, ia sangat setia
dan sangat mencintai suaminya
walaupun ia tahu benar bahwa
hati suaminya bukan miliknya
tetapi milik orang lain
--dan mungkin seumur hidup begitu.
(dalam cerita tersebut dikisahkan raja mencintai dan menjalin hubungan dengan iparnya).

Sang permaisuri tampak luar biasa
(saya nggak tahu istilah yang tepatnya,
saya pikir "luar biasa" cukup mewakili
ketimbang "aneh", "tidak biasa", atau "bodoh")

ia berpuluh tahun mencintai
dan tinggal bersama orang yang tidak mencintainya.
(terbuat dari apa, ya, hatinya itu?)

Sang raja juga tak terkejar logikanya.
Ia bersikap baik tetapi tetap tak bisa memberi cintanya.
Ia membiarkan hatinya tetap di luar sana.

Benar2 logika yang sulit dicerna.

Kenapa si suami tidak mencintai istrinya yang mencintainya saja?

Kenapa juga si istri tetap mencintai suami yang jelas2 tidak mencintainya dan lebih memilih memberi hatinya kepada orang lain itu?

Benar2 hati memiliki logikanya sendiri..

Kamis, 31 Maret 2011

Bukan orang hebat..

Kamu bukan pemain silat
yang kuat setiap saat

Kamu bukan pemain akrobat

yang pandai meloncat

Kamu itu lelaki biasa

dengan gitar di pangkuan
dan rokok di tangan

Kamu itu orang biasa

yang bisa merasa luka..

Senin, 28 Maret 2011

merebut

Apa Anda percaya dengan konsep “merebut pasangan orang”?

Gara-gara ngomongin tentang Aa Gym, Teh Nini, dan Teh Rini,
pembicaraan melebar ke arah teori “merebut”.

Seorang teman bertanya,
“Apa Teh Rini itu bisa dibilang merebut Aa Gym?”

Ah.
Iya, ya.
Apa Teh Rini itu merebut?
Apa ada konsep “merebut pasangan orang lain” dalam persoalan hati?

Dalam kata “merebut” terkandung unsur keterpaksaan
(“merebut” itu mengambil dengan paksa, bukan?).
Ada salah satu—atau lebih—pihak yang terpaksa.
Kalo dibilang A merebut si B,
Berarti si B seharusnya terpaksa, dong?
Nah, kalo si B-nya juga demen,
Apa bisa dikategorikan “merebut”?

Intinya, sih,
Kalo menurut saya,
Tidak ada keterpaksaan dalam persoalan hati.
Suka sama si A ya suka aja.
Mengenai kebersamaan
(mereka akhirnya bersama atau tidak)
Itu pilihan.
Gitu aja.

Mas.. Mas, ''dia'', bukan?

suatu kali saya naik bus bernomor 43 jurusan Tanjung priok.
Ketika itu saya menuju kosan seorang kawan di utan kayu.

Di bus itu saya duduk di belakang, di sebelah seorang lelaki.
Emm..
Tidak jelas benar mukanya,
tapi secara sekilas saya pikir teman saya.
Karena malu dan takut salah,
saya putuskan untuk tidak melihat wajahnya, apalagi bertanya langsung.

Saya lantas mencari cara untuk mengetes mas2 itu teman saya atau bukan, tanpa bertanya tentunya..

Aha.
Terlintas sebuah ide abbriillian saat itu:
buka situs si kawan.
Kalau orang di sebelah saya itu adalah ''dia'',
pasti dia bereaksi, dong, liat situsnya dibuka?
Ya, kan, ya, kaan?

Dengan sengaja saya arahkan hp saya biar orang itu bisa lihat apa yang saya buka.
(ehm, kecuali matanya seliwer)

saya pencet sana-sini.
Saya (pura2) baca ini-itu.
Tapi mas2 itu tidak bereaksi
padahal saya merasakan matanya ke arah saya, eh, hape saya (sambil berdoa moga2 bukan copet..)
saya makin penasaran.
Ah, ini DIA bukan, sih? Pikir saya.

Saya buka fb.
Saya buka profil kawan yang saya kira menjelma dalam mas2 sebelah saya.
Lagi2 tidak ada reaksi.

''Ah, masa, sih?''

dengan penasaran yang tak kunjung selesai, saya justru menyadari sebentar lagi harus turun.

Saya lantas berencana pasang aksi akan turun
yang sekiranya akan bisa melihat wajah orang di samping saya dengan jelas
tanpa harus terang2an.
Ah, sungguh ide ini abbrillian, menurut saya.

Saya bangun dari tempat duduk,
saya beranjak ke depan,
saya pura2 meluruskan kabel earphone yang menyumpal dua kuping saya..
Tapi,
eh, tapiiii..
Kabel earphone-nya malah nyangkut beneran di tas ibu2.

Alhasil,
bukannya berhasil lihat wajah mas2 itu,
saya malah sibook dengan earphone yang nyangkut itu..

Kepanikan pun memuncak dengar si kenek bilang:
''utan kayu, utan kayu..''
whoaaaaa..
Dengan gerakan ngaco tidak beraturan,
saya melepas belitan earphone dan turun dari bus.

Akhirnyaa,
dengan malu yang nggak udah2 dan penasaran yang tak terjawab,
saya harus rela 43 itu pergi dan memunggungi saya..


P.s. Buat mas2 yang waktu itu:
kalau Anda baca catatan ini,
tolong jawab pertanyaan saya:
'' apakah Anda adalah 'dia'?''

Sabtu, 12 Maret 2011

SAMA!

Di jalan,
perempuan tua menadahkan tangan
laki-laki buta menadahkan tangan
laki-laki tak berkaki menadahkan tangan
ibu muda membawa bayi menadahkan tangan
anak kecil menadahkan tangan..
Apa-apaan orang-orang itu?
Muak aku melihat mereka.
Serombongan orang tak berketerampilan yang menjual wajah luka kepada orang lewat..

Di rumah,
kepada ibu kutadahkan tangan
kepada bapak kutadahkan tangan
kepada adik kutadahkan tangan
kepada teman kutadahkan tangan
kepada pujaan kutadahkan tangan
apalagi
kepada Tuhan selalu kutadahkan tangan..
Ah.
Lalu apa bedanya aku dengan orangorang di jalan yang berharap pada orang lewat itu?
Menyedihkan. Akut.

Setiasetiasetia..

Saya terusik dengan pertanyaan seorang teman di statusnya:
"apa kesetiaan seseorang dapat diukur, yaa?"

ya,
gimana cara seseorang mengukur kesetiaan?
(dalam artian kesetiannya sendiri terhadap pihak lain
atau kesetiaan pihak lain kepadanya).

Setia.
Satu kata abstrak yang nggak punya rujukan jelas seperti "meja".
"meja" bisa kita gunakan untuk menunjuk sebuah
benda yang (umumnya) terbuat dari kayu, (biasanya) berkaki empat, dan berpasangan dengan bangku..
bahkan Anda bisa membayangkan bendanya.

Lah, kalau "setia"?
Punya rujukan?
Bisa bayangkan?

Lalu,
apa dengan bilang "setia" berarti sudah pasti saya setia?
Apa dengan tidak bilang berarti saya tidak setia?
Atau,
apa dengan tidak bilang justru berarti saya setia?

Apa dengan mengukuhkan hati kepada seseorang
itu tanda saya setia?
Sekalipun orang itu bukan milik saya?
Sekalipun orang itu sudah berpunya?
Ah, yang benar saja.

Saya ingin menjadi tidak setia saja kalau begitu,
kalau menjadi setia itu begitu menyakitkan.

Saya ingin gampang mencinta saja..
Siapa pun bisa saya cinta..

Ah, ah, mati rasa itu namanya.

perempuanperempuan

perempuan bisa jadi kehilangan nama setelah ia menikah.
bisa jadi, tidak ada tetangga yang mengenal "Ika Fitriana".
bisa jadi orang-orang akan lebih mengenal nyonya Anu atau mama Anu.

meskipun demikian,
jadi perempuan itu asyik.
zus menikah dengan dokter, zus dipanggil bu dokter tanpa harus berpendidikan sebagai dokter..
zus menikah dengan haji, zus dipanggil bu haji sebelum pergi haji beneran..
zus menikah dengan guru, zus dipanggil bu guru..
zus menikah dengan RT, dipanggil bu RT..
asyik, kan? 

nah, keseruan yang lain adalah ..
ehm, entah ini keseruan atau bukan.. 
tapi buat saya menarik.
perempuan menjadi segala sumber.
maksudnya begini,
segala hal yang diputuskan atau dilakukan lelaki, 
di baliknya pasti ada perempuan
(perempuan di sini tidak selalu berwujud pasangan, 
bisa jadi berwujud ibu atau adik atau siapalah itu..)

lelaki yang jujur,
bisa jadi di belakangnya ada perempuan yang jujur..
lelaki yang korup,
bisa jadi di belakangnya ada wanita yang menginginkan banyak hal yang bukan milik (sah) lelakinya.

kekuatan pengaruh perempuan itu luar biasa.
bisa bayangkan, misalnya istri bilang,
"Aku bosan makan batu terus.
aku nggak mau tahu, aku ingin aku dan anak-anakku makan makanan bergizi"
apa yang dilakukan suaminya?
tentu ia akan berusaha memenuhi keinginan sang istri 
karena se-ndhablek-ndhableknya pria, 
ia tidak akan rela melihat orang yang disayanginya menderita.
maka ia pun berusaha mencari cara untuk membahagiakannya.
dengan segala cara, malah.
jadi, tidak heran, kalau selanjutnya banyak maling bergentayangan.
oia, bisa jadi keputusan perempuan itu bahkan menjadi keputusan politik.
ya, intinya, sih,
kalau perempuan sadar dengan kekuatannya,
hehehehe..
gimana, yaaaa...

yang jelas,
yang mendampingi lelaki luar biasa
pastilah perempuan sangaaaaaaaaaaaaaaaaatttt luar biasa.
^^

Jumat, 11 Maret 2011

Pembelaan Sitti Noerbaja

Saya tidak suka kata-kata Anda.
Anda bilang, "Emangnya ini zaman Sitti Noerbaja, saya bisa dijodohin?
saya bisa dikawin paksa?
Udah bukan zamannya Sitti Noerbaja... ."

Hei, apa maksud Anda?
Asal Anda tahu, ya,
menikah itu pilihan.
Tidak menikah itu pilihan.
Anda menikah dengan si A itu pilihan.
Menikah dengan si B itu pilihan.
tidak pernah ada keterpaksaan.
seharusnya.
Karena itu konsekuensi pilihan.

Saya menerima Datuk Meringgih itu pilihan.
Meski orang tua saya berhutang padanya,
tetap saja keputusan saya adalah pilihan saya.
saya tidak dijodohkan.
saya juga bukan korban kawin paksa.
Ayah saya tidak pernah memaksa saya.
Nasib yang memberi pilihan.
dan saya terima.

Tolong jangan gunakan nama saya sebagai kambing hitam.
oke, saya tahu itu pilihan Anda.
Tapi, jika saja alasan Anda sama dengan alasan saya,
silakan Anda mengibaratkan diri Anda dengan saya.
kalau tidak mengerti saya, tak perlulah bawa nama saya.

Saya tidak menyesal menerima Datuk Meringgih.
Sekali lagi, itu pilihan saya dan saya siap
menerima konsekuensinya.
Ia memiliki sudut lain selain katanyakatanya orang-orang itu.
Setidaknya ia tetap Indonesia,
tidak berpihak pada bangsa lain yang notabene menjajah kita.

Tidak, saya bukan sedang menyesali hubungan dengan Sam.
Ia seorang lelaki yang baik dan kami memang tidak bisa bersama.
Ia memang menjadi serdadu Belanda tapi itu pilihannya.
Silakan saja.

Dengan tidak bersama Sam bukan berarti saya kehilangan cinta.
tidak bersama bukan berarti tidak punya cinta, begitu?
Justru karena mempertahankan cinta makanya kami tidak bersama.
Mungkin, jika bersama, kami akan saling menyakiti
dan itu justru hanya merusak cinta kami.

Yang saya minta dari Anda sekarang,
jika Anda akan mengambil keputusan
pilihan menerima lelaki lain
selain cinta Anda yang selama ini berjalan dengan Anda,
jangan bawa nama saya.
pahami saja diri Anda sendiri dulu.
Setelah itu tentukan pilihan Anda.
Jika nantinya ada pihak yang merasa tersakiti karena Anda,
itu konsekuensi yang harus Anda terima.
Itu saja.

Selamat memilih.
^^

Senin, 07 Maret 2011

"buaya" dan roti buaya..

semua berawal dari:
"kenapa harus buaya yang dijadikan simbol dalam pernikahan Betawi?"


ya,
kenapa harus buaya yang dijadikan simbol
padahal konotasi yang melekat pada "buaya" itu negatif.


herman felani, alias heraaaaaaaaaaaaannnn,
saya tanya ke tante Wiki dan om Gugel..
katanya :
"Buaya adalah hewan yang paling setia dengan pasangannya.
Buaya hanya kawin sekali dalam seumur hidupnya.

Jadi Roti Buaya yang dijadikan lambang dalam pernikahan adat Betawi ini membawa makna dan doa agar pasangan yang akan menikah ini akan menjadi pasangan setia seumur hidupnya.
Selain itu buaya termasuk hewan perkasa & hidup di dua alam, ini juga bisa dijadikan perlambang dari harapan agar rumah tangga menjadi tangguh & mampu bertahan hidup di mana aja.
Yang betina ditandai dengan roti buaya kecil yang diletakkan di atas punggungnya atau di samping,
Maknanya adalah kesetiaan berumah tangga sampai beranak cucu.."
seusai pernikahan, biasanya roti buaya ini dibagikan ke orang-orang yang belum menikah agar cepat mengikuti jejak si penganten..
Roti Buaya 1 meter
hmmmm...
bener, nggak, yaaaa?

Kamis, 24 Februari 2011

toko suami..

seperti menjawab catatan saya sebelumnya, ada sebuah pesan masuk ke fb saya.
saya tertarik dengan pesan ini.
oleh sebab itu, saya bagikan ini kepada Anda, para pembaca yang budiman.
berikut kutipannya.


Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di kota New York dimana wanita dapat memilih suami.

Diantara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut. “Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI” Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko... Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari suami..

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 1: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan

Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya. Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini:

Lantai 2: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 3: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan cakep banget. “Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik. Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan

Lantai 4 : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah. “Ya ampun !” Dia berseru, “Aku hampir tak percaya” Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan

seperti ini:

Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini:

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas.

Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda. Demikianlah..sebuah kenyataan wanita yag pada umunya tak pernah puas dan selalu mencari yang lebih dan lebih..ya memang itu sudah kodrat dan rahmat dari Tuhan...

Kesimpulannya adalah : Bersyukur itu indah…..Piss brother…hehehehe (Yoga San)

"Istri" = ...

Perempuan yang sudah bertitel "istri" itu bertutur tentang kecemasan--yang barangkali juga ia sembunyikan di balik bantalnya untuk ia ambil keesokan harinya.
Dia iri dengan kesendirian yang aku dan perempuan "single" lain miliki.
Dia iri dengan kami yang (masih) bisa ke sana-sini tanpa larangan "suami".

Suatu kali di suatu libur kami berencana pergi bersama.
Sayangnya ia tak bisa pergi karena tak diizinkan suami.
Menurut sang suami, hari libur itu hari untuk KELUARGA-- kalaupun mau jalan2 ya harus dengan KELUARGA.
Si istri pun berencana mengajak KELUARGA-nya turut serta.
Namun, sang suami tidak mau diajak serta dalam acara2 yang ingin didatangi istri, apalagi membaur dengan teman istri.

Si istri pun bercerita lagi, ketika pulang kerja nanti--perempuan itu bercerita di satu malam--ia akan dimarahi jika ditemukan sedang bercumbu dengan fb atau dunia maya sejenisnya. Suami akan bilang, "main fb teruuss..".
~_~

Moral (?)

Suatu hari yang biasa,
para siswa saya--siswa SD--memprotes tindakan seorang siswi--yang juga SD--yang duduk mengangkang..
Para siswa itu juga memprotes sang siswi yang katanya kerap membuka roknya..
Tambahan pula, ditengarai siswi tersebut pernah membuka2 bajunya..
Hal tersebut dianggap mengganggu oleh para siswa..

Mereka pun melontarkan protes dan meminta saya menindak siswi tersebut..

Beragam cara protes mereka:
ada yang menutup muka dan mengucap "astaghfirullah" berulang2,
ada yang menyampaikan langsung, "Kak, dia buka2 roknya, tuh.."

tapi, kesan ekspresinya sama:
tidak suka.

Selanjutnya,
para siswa itu memberi contoh cara "duduk perempuan yang seharusnya" kepada sang siswi:
duduk dengan merapatkan kaki
atau menumpu salah satu kaki di atas kaki yang lain..
Siswa yang lain memberi saran kepada sang siswi agar mengenakan celana pendek saat ia memakai rok..


Yang terlintas kemudian adalah:
fenomena apa ini, ya?