Kamis, 07 Februari 2013

cincin

Dear cincin,
          Beragam melodi rindu kusenandungkan untukmu. Berbotol-botol rasa kularung dari tepi bengawan itu. Berkarung-karung surat cinta kuikatkan pada kaki merpati; ditujukan kepadamu. Adakah surat-surat itu tiba di pangkuanmu?

Dear cincin,
          Penaku melolong tiap malam tanpa menunggu purnama: memanggil dirimu. Dirimu belum juga menampakkan diri di situ, di pintu itu.

Dear cincin,
          Aku ingin bertemu denganmu. Sangat ingin. Sangat ingin kamu melingkariku. Membalut aku. Memadu. Menikmati waktu. Apa itu terlalu berlebihan? Ah, apakah ada hal yang berlebihan jika itu menyangkut tentangmu?

Salam,

Jari manis

Rabu, 06 Februari 2013

Kertas di dalam Tas



          Tahu-tahu tasnya sudah didedel orang. Di tempat dompetnya semula berada tergeletak secarik kertas. Isinya begini:



dear penumpang,
       Maaf, duitnya saya ambil. KTP, SIM, dan kawan-kawannya juga terbawa   karena          kebetulan ada di dalam dompet. Mereka ada di tempat dan waktu yang salah. Semoga Anda nggak marah dan diberi kelancaran untuk mengurus surat- surat penting itu. Terima kasih.
         
Sincerely,


Copetmu”

Senin, 04 Februari 2013

Candy-candy, lu cengeng banget!


Dear Candy-candy,
          Sumpah, ya, lu tuh cengeng banget! Bentar-bentar nangis, bentar-bentar nangis. Kayak nggak ada adegan lain aja. Jadi cewek nggak gitu-gitu amat kali, Can. Kayak Lady Oscar, noh, mending. Sori, ya, gue nggak suka nonton elu. Remi yang tegar aja jarang-jarang gue tonton, apalagi elu yang nangis mulu.
          Secengeng-cengengnya Usagi mah mending. Dia ada kerennya pas berubah jadi Sailormoon atau Princess Serenity. Lah, elu? Gue ngomong gini bukan karena gue itu sebenarnya Usagi yang menyamar untuk cari Mas Mamoru, lho, ya... .
          Gue, sih, berharap hati dan jiwa lu lebih kuat jadi nggak perlu bentar-bentar nangis. Gue yang cewek aja malay bet apalagi kaum planet Mars itu?
          Gitu aja, sih, Can. Ubah air mata kesedihan lu jadi air mata kebahagiaan (cah elah!). Yang bisa buat diri lu bahagia ya cuma diri lu. Nikmati proses hidup lu. Nangis boleh, tapi abis itu ketawa lagi. Oke, Can-can (gilak, sok akrab gitu, gue manggil lu Can-can)? Oke. Sip. Semangat!

Dengan senyum,

gue

Sabtu, 02 Februari 2013

Sarung dan Autan untuk Putri Salju


Teruntuk Putri Salju
Di buku cerita

Putri Salju yang baik,
          Barangkali kamu tak tahu tentang aku sebagaimana aku tak tahu tentang salju. Ah, tetapi aku lebih mending karena aku pernah mendengar tentang salju sedangkan kamu tak pernah mendengar tentang aku. Ya, ‘kan? Pasti.
         
Putri Salju yang baik,
          Aku cuma kasihan kepadamu. Aku memikirkanmu, tahu—em, sebetulnya aku dan salah satu siswa privatku: Lidi. Ketika kamu tidur itu, tidur begitu saja di hutan, aku kasihan kepadamu. Tanpa sarung ( “Nggak ada autan juga!” Lidi menambahkan). Kamu pasti kedinginan (“Pasti dikeroyok nyamuk!”).  Kira-kira, apa itu terlintas di pikiran juru cerita, ya?

Putri Salju yang baik,
          Aku cuma berharap, pangeran yang akan datang nanti membawakanmu sarung dan membalurkan autan. Biar kamu tidak kedinginan. Biar kamu tidak digigit nyamuk. Juga, semoga pangeran yang datang nanti membawa teh manis hangat dan nasi bungkus. Habis tidur panjang begitu kamu pasti haus dan lapar, kan?

          Sekian saja suratku. Semoga kamu cepat bangun dan bertemu pangeranmu.

Salam,

aku (dan Lidi)

p.s.: dear Lidi, kumasukkan namamu tanpa izin, ya… . Hehehe… .

Momen Ibu dan Anak: Cabut Uban


    Cabut uban.
            Itu momen ibu dan anak, Kawan!
            Ketika cabut uban mama, kami biasa bertukar cerita. Mama akan menceritakan hal-hal yang terjadi di rumah selama aku bekerja dan aku akan bercerita tentang kejadian-kejadian di luar rumah. Bukankah tiap orang memiliki peranan yang berbeda-beda?
            Mamaku ibu rumah tangga biasa sedangkan aku tipikal orang yang hobi kerja di luar rumah. Waktu kami berjumpa sedikit sekali. Aku pergi pagi pulang malam. Pulang kerja aku hanya sempat makan malam bersama—mama selalu menunggu aku pulang untuk makan bersama; bisa kaubayangkan jika aku sudah makan di luar dan tidak makan di rumah, maka ia tidak makan. Setelah makan malam, aku biasa menonton televisi sambil bertukar cerita sebentar atau membaca sebelum terlelap.
            Nah, dengan waktu yang minimalis begitu, aku memanfaatkan waktu libur untuk keluargaku—terutama mama. Salah satunya untuk mencabut ubannya. Masa iya, dari satu minggu aku nggak bisa memberi satu hari untuk keluarga?
            Aku bersyukur aku masih bisa mencabut ubannya, bertukar cerita. Itu anugerah, Kawan!
            Terima kasih Allah… . :)

p.s.: berhubung fotoku dan mama yang lagi cabut uban nggak ada, jadi yang aku lampirkan fotoku dan mama di ulang tahunku yang ke-26, tahun 2011. 




Ini tulisanku untuk Mom's Happiest Moment