... dan sampailah kita pada titik itu.
Aku tidak keberatan.
Sungguh.
Aku merasa sudah siap
(aku harap kau tidak tanyakan sesiap apa).
Kita melanjutkan hidup masing-masing
(yang kita pilih sendiri).
Tidak ada yang meninggalkan
--atau ditinggalkan--
di sini.
Kita sudah memilih, bukan?
Tiap pilihan sudah satu paket dengan konsekuensinya.
Mengenai ditinggalkan,
kupikir itu tentang "merasa"
dan aku tidak merasa ditinggalkan
apalagi meninggalkan
siapa pun.
Bukankah kita hanya berpindah tempat
secara fisik?
Bukankah kita sudah sama-sama tahu bahwa
hati kita sudah berjaya di tempat yang hanya kita yang tahu?
Selalu semangat, kawan.
Hidup ini masih berjalan.
Semoga selamat sampai tujuan. ^^
Kamis, 13 September 2012
Rabu, 05 September 2012
#BagiOrangyangJatuhCinta
Susahnya jatuh cinta kepada orang lain ya karena..
Dia orang lain.
Susahnya jatuh cinta ke saudara ya karena.. Dia
saudara.
Susahnya jatuh cinta ke pasangan orang ya karena..
Dia pasangan orang.
Bagi orang yang jatuh cinta, dari awan sampe
supir metro, semua berwujud wajah kekasihnya; dari batu sampe asap
knalpot, semua berbentuk lope; dari plat kendaraan sampe segala tulisan,
semua menulis namanya dan sang kekasih. Dan, ia percaya, itu semua
tanda dari Tuhan dan semesta bahwa keduanya akan bersama.. Semoga! :)
Senin, 03 September 2012
Tentang kami
Kami telah mengikat diri kami
dalam sebuah jalinan di udara
bahkan mungkin sebelum kami sadari
apa artinya itu.
Kami--dengan cara kami sendiri--
saling mencari lalu menemukan
diri yang lain.
Ah, bukankah kami betul-betul sudah terikat?
Kupikir tak ada nama lain yang lebih tepat dari itu.
Kami berbicara tentang kami yang lain
tanpa menyebut, tentu,
tapi kami mengetahui bahwa
yang dibicarakan itu kami,
yang dicari itu kami,
yang dirindu itu kami.
Dengan cara-cara yang ajaib,
semesta telah mengirim salam-salamku kepadanya
--dan sebaliknya--
hingga saat malam
aku belum terlelap,
dirinyalah yang menari-nari.
Hm, berpikir begitu
aku jadi tersenyum-senyum sendiri,
mungkinkah dia demikian pula?
Atau ini hanya berlaku di anganku saja?
Selanjutnya, seperti yang sudah-sudah,
kami mematikan lampu, meniup lilin, dan mencopot bintang
lalu mengucapkan "Selamat Malam" pada pagi..
dalam sebuah jalinan di udara
bahkan mungkin sebelum kami sadari
apa artinya itu.
Kami--dengan cara kami sendiri--
saling mencari lalu menemukan
diri yang lain.
Ah, bukankah kami betul-betul sudah terikat?
Kupikir tak ada nama lain yang lebih tepat dari itu.
Kami berbicara tentang kami yang lain
tanpa menyebut, tentu,
tapi kami mengetahui bahwa
yang dibicarakan itu kami,
yang dicari itu kami,
yang dirindu itu kami.
Dengan cara-cara yang ajaib,
semesta telah mengirim salam-salamku kepadanya
--dan sebaliknya--
hingga saat malam
aku belum terlelap,
dirinyalah yang menari-nari.
Hm, berpikir begitu
aku jadi tersenyum-senyum sendiri,
mungkinkah dia demikian pula?
Atau ini hanya berlaku di anganku saja?
Selanjutnya, seperti yang sudah-sudah,
kami mematikan lampu, meniup lilin, dan mencopot bintang
lalu mengucapkan "Selamat Malam" pada pagi..
Permintaan penutup hari
Sebagaimana yang sudah kau tahu, aku adalah putri negeri hujan bunga-bunga.
Kali ini sudah kurangkai senarai permintaan sebagai penutup hari.
Kutulis di sini untuk mempermudahmu mengamini dan jika perlu menambahkan (baik tertulis atau hanya dalam hati).
Mari kita mulai..
Kali ini sudah kurangkai senarai permintaan sebagai penutup hari.
Kutulis di sini untuk mempermudahmu mengamini dan jika perlu menambahkan (baik tertulis atau hanya dalam hati).
Mari kita mulai..
Semoga tiap orang tidur dengan perut kenyang malam ini.
*cring* *menaburkan semacam serbuk*
Semoga perasaan hangat menjalari tiap orang malam ini.
*cring* *menaburkan semacam serbuk*
Semoga rasa benci yang menggunuk di hatimu luruh bersama kencing.
*cring* *menaburkan semacam serbuk*
Semoga tiap orang bisa mengatasi gangguan tidurnya hingga bisa tidur dengan nyenyak.
*cring* *menaburkan semacam serbuk*
Semoga kau bangun dengan rasa berbunga-bunga dan siap menyambut hari.
*cring* *menaburkan semacam serbuk*
daaaan..
Semoga.. *sinyal ilang*.. menjadi pendampingku. Hehehe..
*criiiiing* *menaburkan semacam serbuk*
Nah, sekarang, sebelum kau tidur, Tuan dan Nona Bumi yang baik, berterima kasihlah pada Tuhan yang Mahabaik atas hari ini..
Semoga kita merupakan orang yang pandai bersyukur..
Selamat tidur.. :)
Selasa, 07 Agustus 2012
#Dear
Dear garuda lambang negara, nggak capek apa noleh ke sana terus? Salam, aku yang memperhatikanmu.
Dear bedug, apa kabar? Kok udah lama nggak kedengeran suaramu? Salam, fansmu.
Dear toa masjid, sebulan ini kamu kerja keras banget, ya.. Tetap semangat aja deh buat kamu.. Salam, aku.
Dear Bapak-bapak yang bangunin sahur dari masjid, tetap sehat, ya.. Salam, pendengar setiamu.
Dear air di bak mandi, kok kamu malam ini dingin banget? Emang aku salah apa? Salam, aku.
Dear kerikil, sabar ya diinjek-injek melulu. Sering-sering berdoa aja. Doa makhluk yang tertindas kan didengar Allah. Doa yang baik-baik ya. Salam, aku.
Dear pensil adopsiku, di mana kamu? Cepat beri kabar aku. Salam, pemilik angkatmu.
Dear naskah-naskah kuno Indonesia, tetap bertahan dan tunggu aku beli, ya.. Salam, aku.
Dear Leiden, tunggu kedatanganku, ya.. Salam, aku.
Dear tubuhku, tetap semangat, ya! Maaf kalau aku kadang keterlaluan padamu.. Salam, aku.
Dear Ramadan, semoga kita jumpa lagi tahun depan. Salam, aku bukan Ramona.
Dear rindu, aku ingin cepat bertemu denganmu. Salam, pemuja rasa.
Dear tiang listrik di tikungan, yang sabar ya dipukulin terus tiap malam ma tukang ronda. Salam, aku.
Dear pencuri, tolong kembalikan hatiku dan aku kembalikan rusukmu. Salam, pemilik hati yang sah.
Dear bedug, apa kabar? Kok udah lama nggak kedengeran suaramu? Salam, fansmu.
Dear toa masjid, sebulan ini kamu kerja keras banget, ya.. Tetap semangat aja deh buat kamu.. Salam, aku.
Dear Bapak-bapak yang bangunin sahur dari masjid, tetap sehat, ya.. Salam, pendengar setiamu.
Dear air di bak mandi, kok kamu malam ini dingin banget? Emang aku salah apa? Salam, aku.
Dear kerikil, sabar ya diinjek-injek melulu. Sering-sering berdoa aja. Doa makhluk yang tertindas kan didengar Allah. Doa yang baik-baik ya. Salam, aku.
Dear pensil adopsiku, di mana kamu? Cepat beri kabar aku. Salam, pemilik angkatmu.
Dear naskah-naskah kuno Indonesia, tetap bertahan dan tunggu aku beli, ya.. Salam, aku.
Dear Leiden, tunggu kedatanganku, ya.. Salam, aku.
Dear tubuhku, tetap semangat, ya! Maaf kalau aku kadang keterlaluan padamu.. Salam, aku.
Dear Ramadan, semoga kita jumpa lagi tahun depan. Salam, aku bukan Ramona.
Dear rindu, aku ingin cepat bertemu denganmu. Salam, pemuja rasa.
Dear tiang listrik di tikungan, yang sabar ya dipukulin terus tiap malam ma tukang ronda. Salam, aku.
Dear pencuri, tolong kembalikan hatiku dan aku kembalikan rusukmu. Salam, pemilik hati yang sah.
Langganan:
Postingan (Atom)

