Rabu, 13 Juni 2012

Tukang Panci

Ini tentang para tukang panci.
Mereka--para tukang panci ini--
mengkreditkan panci pada ibu-ibu yang tergoda kinclongnya pantat panci.
Tak segan-segan, mereka pun mendiskon harga panci.

Yang aku heran,
bukannya bahagia,
tapi si ibu-ibu pemburu panci malah nestapa
karena pancinya dikredit dan didiskon.

Oh, oh, apa yang sebenarnya terjadi?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2_CUH1YCrxDQo5Zb-Dz5_RV3Bk8fNfk4XU8lhv8hhmp3TuKN5rZRwdBkx7Hb0b7JvZMEr26U2fHXyUZSL50Y82DLAQmeuzeyzKPbUhgxTfVVhhG3PRPr7nQZbuzJGF-93yNIS5P0YgjlW/s253/11082010.jpg

Selasa, 12 Juni 2012

Untunglah

          Untung yang bisa bicara cuma manusia, eh, bukan, untung kita dianugerahi cuma bisa dan ngerti bahasa manusia. Pernah kebayang apa jadinya kalau kita diberi kemampuan mengerti bahasa segala entitas semesta ini?

         Kalo itu terjadi, bisa aja, ya, dunia akan jauh.. jauhhhh lebih berisik dari sekarang. Mungkin kayak ada 100 orang dalam satu ruangan dan semuanya menyalakan teve. Em, oke, kalo itu berlebihan, kita kurangi aja jumlah orang di ruangan tadi, jadi 99 orang. Nah, pasti berisik banget!

          Kita nggak bisa jalan melenggang dengan tenang karena bisa aja pas kita melangkah tiba-tiba ada yang berteriak, "Aduh!" Yang berteriak itu bisa siapa/apa aja: semut, rumput, atau aspal. Kalo udah gitu, mau lewat mana, coba?
          Atau, coba kalau bola bisa ngomong, mungkin dia udah marah dan ngadu-ngadu ke Komnashab (komisi nasional hak asasi benda), kali. Dia sendirian, ditendang-tendang 22 orang secara rebutan. Dia pasti menuntut perlindungan dan bukan nggak mungkin menyeret Ozil ke pengadilan. Eh, jangan Ozil, deh. Kasian. Si CR7 aja. Nggak papah. Saya nggak suka.
          Belum lagi si Kokom--sebutan untuk komputer. Dia pasti mengeluh panjang lebar karena dinyalakan terus-menerus tanpa henti. Yang nyentuh juga berbagai macam orang dan berganti-ganti dari orang yang satu ke orang lain.
         Terus, nyamuk. Barangkali nanti kita akan merasa betapa egoisnya kita. Ini kita tahu sejak kita ikutan acara "Andai aku menjadi..." Nyamuk dicipta berumur pendek (eh, bener, nggak?). Kelaparan, dia mati. Kekenyangan, dia mati. Hampir bisa dipastikan takdir kematian mereka di tangan manusia.
          Uh, masih banyak, deh, yang lainnya: pohon yang batuk-batuk karena asap kendaraan bermotor, ransel yang bermuka sabar padahal keberatan isi, boneka masa kecil yang tak lagi diajak cerita, sepatu-sepatu lama yang dibuang ke tempat sampah, dst.

http://images.clipartof.com/small/10473-Clipart-Picture-Of-A-Tree-Mascot-Cartoon-Character-Holding-A-Blank-Sign.jpg

Senin, 11 Juni 2012

"Belum Menemukan Jodoh"

Teman-temanku yang baik,
tanpa mengurangi rasa hormat dan sayangku padamu,
aku mau bicara sesuatu.

Begini,
aku sering menangkap basah beberapa orang darimu
bergalau-galau ria karena belum menemukan "jodoh"-nya.
Bahasa vulgarnya, belum menikah
padahal secara umur sudah sangat pantas menikah
--usia menikahnya kita pake konvensi masyarakat pada umumnya aja, ya..

Jangan salah paham.
Bukan aku mau mendiskreditkan kamu yang galau karena "belum menemukan jodoh".
Aku pikir ya silakan aja kita bergalau karena "belum menemukan jodoh".
Toh, kita masih single yang notabene wajar kalo ngegalau "belum menemukan jodoh".
Kalo udah ganda campuran masa iya galau karena "belum menemukan jodoh"?

Cuma,
kadang aku agak nyesek juga,
saat kawanku meratap di ruang publik
dan menunjukkan seolah betapa malangnya ia karena belum menikah.
Nggak ngelarang atau apa, sih, tapii..
Apa iya harus begitu?

Temanku yang baik,
aku yakin, kok,
segala sesuatunya itu udah diatur. Udah benar.

Barangkali alasan kita belum bertemu jodoh kita karena kita diharapkan mempersiapkan diri kita
dengan lebih baik
sebelum berumah tangga.

Atau, mungkin,
alasan kita belum bertemu jodoh kita karena Allah masih memberi waktu untuk kita menyelesaikan pendidikan tanpa diinterupsi (terutama jika manajemen waktu & pikiran kita masih berantakan).

Atau, mungkin juga,
karena sebenarnya kita sedang diminta menjaga keluarga kita dulu.
Kalo udah rumah tangga kan jelas nggak bisa seintens waktu single saat jaga orang tua.. Ya, kan?

Atau,
aku curiga--sebagaimana aku yakini sendiri,
sang pangeran itu belum menyadari kalau
tulang rusuknya, bagian dari dirinya, jiwanya,
ada di tubuhku,
padahal bisa aja,
sekarang ini dia baca tulisanku.
:p


Senin, 28 Mei 2012

kacamata: Perahu Kertas


Yippiiii..
Ini dia salah satu novel sepanjang masa gw. Perahu Kertas karangan Dewi Lestari (Dee). Gw rasa, ya, ini novel paling ringannya Dee, tapi ya.. sekaligus asoy banget!
Perahu Kertas isinya cerita cinta. Taaapiiii.. cerita cintanya itu manusiawi dan dewasa banget. Gimana suka banget sama orang tapi biarin dia ma orang lain tapi tetep nggak bisa biarin orang lain masuk  ke diri kita, dst.


Oke, ini catatan gw:
1.      Si Kugy à gila!
Nggak cuma Kugy, sih... . Tokoh-tokoh dalam novel ini kuat banget karakternya. Benang merah dari mereka semua adalah: ngikutin keinginan hati. Betapa pun harusnya Kugy dateng ke ultah Noni, dia lebih memilih nggak dateng daripada hatinya morat-marit. Padahal, dia tahu banget konsekuensinya: persahabatan putus.

2.     Seorang pemimpi, pendongeng, yang jatuh cinta sama pelukis. Bener-bener melengkapi. Yang satu bisanya cerita tapi nggak bisa gambar, yang lainnya kebalikan, nggak bisa gambar tapi nggak bisa buat cerita. Gw suka banget dongeng-dongengnya Kugy: wortelina, Nyi Kunyit, dsb.

3.     Ini manusiawi dan sehari-hari. Contohnya, kalo gw tanya nih ke lu pada, siapa aja yang harus berjalan memutar mengabaikan impiannya sesaat dan menjalankan hal lain dengan pada akhirnya pengen tetep wujudin keinginannya, gw rasa lu bakal nunjuk jari. Ya, kan?
Ketika lu bercita-cita pengen jadi penulis—yang notabene nggak mikir profit banget, tapi lu harus dihadapkan dengan keadaan finansial yang mepet; ketika lu pengen sekolah A tapi orang tua lu pengennya lu ke sekolah B; ketika lu pengen kerja megang duit sendiri tapi harus di rumah setiap hari, dst.

4.    Novel ini ngingetin tiap orang untuk nggak membuang mimpinya. Kalaupun harus memutar, ya tetap harus mewujudkan cita-cita kita. Betapa pengennya Keenan jadi pelukis, tapi ditentang orang tuanya; betapa pengennya Kugy jadi juru dongeng, tapi harus kerja di advertising bagian co-writer (yang secara de facto berarti: office girl), dst.

5.     Kalo baca novel  ini gw kayak apa, ya? Em, pinjem kata-katanya Ojos: “lupa kalo masih di bumi.”

6.     Tentang Keenan, em.. gw rasa tiap perempuan berpikir tentang dia. Oh, oh, bukan “Keenan”-ya, tapi maksud gw, sosoknya. Sang pangeran di atas kastil. Tiap perempuan barangkali mengharapkan pangerannya akan datang. Ah, najong, dah! Keren.  


Sabtu, 26 Mei 2012

kacamata: Botchan


Novel Botchan karangan Natsume Soseki juga salah satu novel yang gw tunda-tunda baca. Udah baca sebagian terus nggak dibaca terus dibaca ulang terus mandeg terus ulang, dan seterusnya. Semula gw pikir dia bakal kayak Totto-chan juga karena di sinopsis diberitahukan bahwa novel Botchan bercerita tentang seorang guru yang melawan sistem desa. Namun, ternyata beda banget!

 Botchan

            Pengertian “Botchan” kalo gw artiin sendiri dalam bahasa Indonesia mungkin sepadan dengan “Den Bagus”. Tokoh botchan dalam novel juga seorang tuan muda. Dia keturunan bangsawan Jepang yang badung. Dia dicap nakal oleh keluarga dan orang lain. Cuma satu yang bilang dia anak baik, yaitu Kiyo, pengasuhnya. Kiyo selalu berpendapat bahwa Botchan sebenarnya anak yang tidak egois, suka berterus terang, dan jujur.

            Oke, ini catatan gw tentang Botchan:
1.         Baca novel ini seolah-olah ada tulisan besar terpampang di muka gw: sastra klasik. Banget. Ya,  novel ini emang jadul banget. Udah dialihbahasakan ke berbagai bahasa dan di Jepang sendiri katanya cerita ini terkenal. Klasik, antik, menarik. Begitulah.
2.       Botchan sangat manusiawi. Guru yang manusiawi, bukan guru yang selalu sadar “Gw ini guru” atau apa. Kita—oke, gw deh—dibawa seolah-olah gw ini adalah Botchan yang impulsif. Lebih sering emosional. Ya, guru yang emosional tapi berhati lurus. Keliatan kasar tapi benar, tidak berpura-pura atau mengada-ada. Sementara itu, orang-orang di sekitarnya digambarkan sebagai orang-orang yang halus tetapi  menikam.
3.        Murid-murid Botchan baduuuuung. Nyebelih. Ih. (Loh, ini kenapa gw yang emosi gini? ß ngerasa jadi Botchan)