- Anna Fauziah: aduhhhh..ingin membaca tulisan indah Lilis Sayyidah Murniasih dan Ika Fitriana yang resepnya dari surga...share share donk ..tulisan kalian,,biar otak anna juga mikirrr buat cari kata2 mengguncang....· · Bagikan
Lilis Sayyidah Murniasih Aku jg sedang tak mampu berkata2,
Ika Fitriana Huahahahaha..
Benar dugaanku, temu itu candu..
Betapa dari sepotong wajah saja orang dapat melahirkan kata2..
Ika Fitriana Ah, apalagi jika rindu turut di sini?
Ia pasti meracau dan menjungkirbalikkan segala logika hingga kau bersedia melakukan apa saja agar dapat berdiri dan mengetuk pintu rumahnya saat ini..
Ya, kan? :)Kemarin jam 0:51 · · 1
Lilis Sayyidah Murniasih Aku tau temu itu candu,krn ia berdiri sendiri.Coba klo ia bersatu dg lawak,pasti ia tak akan mnjadi candu.:p
Ya benar...dari spotong wajah aku dpt melahirkan kata-kata.Tp wajah itu bukan Zarry,melainkan wajah yg tsimpan dlm hati :)Kemarin jam 5:41 · · 1
Anna Fauziah candu dan racau....adalah sebab dan akibat....seperti aliran listrik dan setrum....begitupun cinta ....ada rasa maka mencintalah...
Huswatie Saputra Ehemm Waduh pembicaraan kelas para pujangga nih.... .... TeOwPe dah buat kalian... Anna Fauziah, Ika Fitriana dan Lilis Sayyidah Murniasih....
Sabtu, 14 Juli 2012
Percakapan kami di efbe :)
Senin, 09 Juli 2012
Efek~
Mungkin efek Sadgenic atau apa, voila, syahdu melanda. Tiba-tiba aku punya banyak stok kata. Serasa kaya, punya pabrik, begitu.
Aku masuk ke dalam diriku. Di tengah jalan aku bertemu rindu. Kucermati rindu di depanku. Menyeruak kataku, "Bukankah rindu itu peluru? Ia akan mencapaimu sebelum kau sempat bilang 'rindu'."
Oh, oh, aku menjelma sebagai rindu yang melesat menujunya: sebuah cerita, sebuah dunia, berjuta warna, berjuta aroma. Samar-samar muncul sosok Tuxedo bertopeng yang blur. Ia berdiri di atas kastil. Jubahnya yang terayun-ayun dibuai angin memanggilku. Kutanyai dia, "Siapa kamu?"
Dia tersenyum lalu mendekatkan mulutnya ke kupingku. Bisiknya, "Kautahu, kita cuma tinggal memetik tanda-tanda yang dikirim semesta."
Mendengar itu ada yang melonjak-lonjak gembira. Ia menatapku heran seolah bertanya, "Itu siapa?"
Sambil tersenyum malu-malu kujawab, "Iya, kupikir itu siapa yang melonjak-lonjak. Ternyata hati, yang tahu kamu akan pulang kepadanya."
Ups.
Kututup mulutku.
Aku takut salah bicara, mengingat.. em, mengingat sebelumnya pernah ada cerita mengenaskan. Cerita itu berjudul "Tiga Anak Kecil yang Dikubur".
.. Yang baru saja dikubur itu tiga anak kecil: "aku", "jatuh", dan "cinta". Kalau kamu bukan perasa, kamu tak kan tahu ada aborsi di sini.
Olala, tanpa sadar lagi-lagi aku berpikir sambil bicara. Kata-kata separagraf tadi itu ternyata kulisankan juga kepadanya. Tahulah dia apa yang terjadi.
Dengan baik hati, ia tersenyum dan berkata, "Tahukah kau, Tuhan selalu memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Buktinya, Ia selalu mengirimkan pagi untuk memulai hari... ."
:))
Aku masuk ke dalam diriku. Di tengah jalan aku bertemu rindu. Kucermati rindu di depanku. Menyeruak kataku, "Bukankah rindu itu peluru? Ia akan mencapaimu sebelum kau sempat bilang 'rindu'."
Oh, oh, aku menjelma sebagai rindu yang melesat menujunya: sebuah cerita, sebuah dunia, berjuta warna, berjuta aroma. Samar-samar muncul sosok Tuxedo bertopeng yang blur. Ia berdiri di atas kastil. Jubahnya yang terayun-ayun dibuai angin memanggilku. Kutanyai dia, "Siapa kamu?"
Dia tersenyum lalu mendekatkan mulutnya ke kupingku. Bisiknya, "Kautahu, kita cuma tinggal memetik tanda-tanda yang dikirim semesta."
Mendengar itu ada yang melonjak-lonjak gembira. Ia menatapku heran seolah bertanya, "Itu siapa?"
Sambil tersenyum malu-malu kujawab, "Iya, kupikir itu siapa yang melonjak-lonjak. Ternyata hati, yang tahu kamu akan pulang kepadanya."
Ups.
Kututup mulutku.
Aku takut salah bicara, mengingat.. em, mengingat sebelumnya pernah ada cerita mengenaskan. Cerita itu berjudul "Tiga Anak Kecil yang Dikubur".
.. Yang baru saja dikubur itu tiga anak kecil: "aku", "jatuh", dan "cinta". Kalau kamu bukan perasa, kamu tak kan tahu ada aborsi di sini.
Olala, tanpa sadar lagi-lagi aku berpikir sambil bicara. Kata-kata separagraf tadi itu ternyata kulisankan juga kepadanya. Tahulah dia apa yang terjadi.
Dengan baik hati, ia tersenyum dan berkata, "Tahukah kau, Tuhan selalu memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Buktinya, Ia selalu mengirimkan pagi untuk memulai hari... ."
:))
Kamis, 05 Juli 2012
Tidak Patah Hati
Ya,
memang. Keajaiban tidak pernah berhenti. Tangan Tuhan selalu bisa mengisi ranah
yang logika saja angkat tangan. Salah satunya pertemuan kami. Aku dan Him.
Seperti
yang sudah diduga, aku bertemu dengannya di satu reuni dalam keadaan dia sudah
memiliki pasangan. Sebelum bertemu, aku sudah berulang kali bilang pada hatiku
untuk bersiap, bilang pada mataku agar menjaga tingkat nanar mata, bilang pada
rangka tubuh untuk tetap berdiri, dan bilang pada kakiku untuk tetap menjejak bumi.
Saat
melihat Him bersama perempuan itu aku bersiap merasa cemburu. Kutunggu rasa itu
muncul. Namun, tidak ada cemburu.
Kupikir,
ini tidak mungkin.
Aku
masuk lebih jauh ke dalam diriku. Mencari rasa cemburu. Mengumpulkan serpih
hati yang patah. Sayangnya, oh... aku dikecewakan, bahkan oleh diriku sendiri.
Tidak
ada patah hati.
Hampa.
Tidak
ada rasa.
Tidak
sedih, tidak kecewa, tidak gembira.
Aku menjelma menjadi
astronot di ruang hampa udara. Namun, kurasa pikiranku pingsan. Alien sudah
mengambil alih diriku.
Ia, perempuan itu,
pasti orang yang sangat beruntung. Ia bersanding dengan Him.
Eh, tidak. Bukankah aku
tidak percaya dengan keberuntungan sepihak?
Lalu kuputuskan
begini, perempuan itu beruntung bersanding dengan Him, Him beruntung
menggandeng perempuan mungil itu, dan aku beruntung bertemu dengan Him
(akhirnya), bertemu keduanya.
Seandainya perempuan
itu bermata segitiga atau berhidung seperti Voldemort, barangkali aku bisa
dengan bebas mencercanya. Sayangnya, Tuhan terlalu sayang padaku dan membuat
aku tidak bisa mengeluarkan makian paling halus sekali pun.
Him begitu rupawan, si
perempuan begitu menawan. Adakah hal lain yang lebih adil dari ini?
Aku kosong.
Tidak, aku tidak patah
hati.
Tidak, tidak patah
hati.
Tidak, patah hati.
Tidak-patah-hati... .
Rabu, 04 Juli 2012
Oh!
Oh!
Aku
terpekik sendiri.
Tiba-tiba
aku menyadari bahwa aku bukanlah aku yang selama ini kukira. Ternyata betapa
aku merupakan bentukan masa lalu. Ternyata karya-karyaku merupakan hasil
terjemahan (dan kurasa bukan cuma itu!) atas karya-karya lain yang aku nikmati.
Ceritanya
begini,
Aku
sedang iseng membaca (kembali) kumpulan cerpen Zat. Ada karya Andryanto Swismo, M Rois Said, Ruslan Ghofur,
Supardal, Wa Ode Wulan Ratna, dan Irsyad Ridho. Terutama pada bagian cerpen Cukuplah Sore Ini Untukku karangan
Andryanto Swismo, betapa aku menyadari bahwa cerpennya telah merasuk jauh ke
dalam diriku melebihi perkiraanku. Ada karyaku yang mirip dengan cerpennya,
ternyata.
Sadarlah
aku.
Ternyata
aku kerasukan karya-karya lain yang pernah aku nikmati—yang kemudian menjelma menjadi
nutrisi pengaya tubuh. Barangkali mereka—karya-karya itu—mengendap-endap masuk
melalui berbagai lubang di tubuhku dan sewaktu-waktu keluar dengan atau tanpa
kusadari.
Selanjutnya
aku berpikir, menghitung, berapa banyak karya yang memengaruhiku? Seberapa besar karya-karya itu merasuk tubuhku?
Oh!
Aku
tak pernah tahu!
Ada
rantai di sini.
Si
orang yang memengaruhiku dipengaruhi orang lain lalu orang lain itu dipengaruhi
orang lainnya lalu orang lainnya dipengaruhi orang lain lagi, dst.
Rantai
menuju masa depan juga terhampar.
Ada
orang lain yang dirasuki tulisanku kemudian aku terperanjat ternyata tulisanku
dan tulisannya telah kawin menjadi pasangan hidup yang berbahagia.
Sampai
di mana,
Aku
tidak tahu pengaruh-memengaruhi ini berakhir.
Selasa, 03 Juli 2012
Di bawah Telapak Kaki Ibu
Saking dimuliakannya
perempuan (baca: ibu), sampai-sampai diibaratkan “surga itu di bawah telapak
kaki ibu”. Secara iseng kulihat kakiku dan kubayangkan ada surga di bawah
telapak kakiku. Hanya saja, berhubung aku belum berkeluarga, belum jadi ibu,
kupikir belum ada surga di sana. Lebih lanjut kubayangkan, barangkali saat ini
sedang ada proyek pembangunan surga di telapak kakiku, berhubung aku masih
menjadi calon ibu, belum jadi ibu yang sebenarnya. Hihihi... .
Langganan:
Postingan (Atom)


