Kamis, 14 Juni 2012

Seorang kawan, Lilis Sayyidah Murniasih, yang sangat menyukai Rahne Putri menuliskan ulang puisi karya Rahne Putri di https://www.facebook.com/notes/lilis-sayyidah-murniasih/puisi/10150949905722264 . Berikut puisinya:

Ada yang jatuh di hatiku. Sepertinya itu namamu.
Lalu dia pecah, remah huruf hurufnya merebak ke seluruh paru paru.
Meleleh merembes membasahi pori nodi.
Menjalar, melaju menuju kepala
Kemudian membelah diri berjuta-juta.
Masih. Masih membelah diri.
Tak bisa berhenti

Membaca puisi tersebut, aku teringat sebuah puisiku.
kutuliskan dalam kolom komentar:
 
Kubayangkan, si "Amoeba" itu akan bilang:

aku liar rasuki tubuhmu,
beri warna pada tulangmu,
jalari aliran darahmu.
Takkan hilang aku
takkan terhempas.
Rela tidak rela harus kauterima aku
sebagai bagian dari tubuhmu;
bagian otakmu;
inspirasi dalam denting penamu.
Ke mana kau pergi,
aku adalah bayangmu
--yang menghitung jejak nafasmu.
Tidak bisa lepas,
tidak bisa hempas,
tidak bisa tidak.
Hahaha..
Mau ke mana lagi?
Aku hidup dalam tubuhmu.
Never die.



Rabu, 13 Juni 2012

Piring Siapa?

Adek saya diminta mengembalikan piring tetangga.
Jadi, si tetangga pernah memberikan makanan untuk kami.
Nah, sekarang kami ingin mengembalikan itu.

Adek saya: "ini, mo balikin piring.."

tetangga: "lah, tapi ini bukan piring kita, mbak.."

adek saya: "oh? Gitu ya? Ya, udah, tar dulu ya.. Pulang dulu kalo gitu.."

si adek pun pulang sambil bawa2 piring DAN MAKANAN DI ATASNYA.

Yaa.. Tapi akhirnya sih dia balik lagi ke rumah tetangga sambil bawa piring yang bener + makanannya juga biar nggak dianggep pehape.. Hohoho..


makanan, ucapan syukur, kalkun, piring, kartun, burung

Tukang Panci

Ini tentang para tukang panci.
Mereka--para tukang panci ini--
mengkreditkan panci pada ibu-ibu yang tergoda kinclongnya pantat panci.
Tak segan-segan, mereka pun mendiskon harga panci.

Yang aku heran,
bukannya bahagia,
tapi si ibu-ibu pemburu panci malah nestapa
karena pancinya dikredit dan didiskon.

Oh, oh, apa yang sebenarnya terjadi?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2_CUH1YCrxDQo5Zb-Dz5_RV3Bk8fNfk4XU8lhv8hhmp3TuKN5rZRwdBkx7Hb0b7JvZMEr26U2fHXyUZSL50Y82DLAQmeuzeyzKPbUhgxTfVVhhG3PRPr7nQZbuzJGF-93yNIS5P0YgjlW/s253/11082010.jpg

Selasa, 12 Juni 2012

Untunglah

          Untung yang bisa bicara cuma manusia, eh, bukan, untung kita dianugerahi cuma bisa dan ngerti bahasa manusia. Pernah kebayang apa jadinya kalau kita diberi kemampuan mengerti bahasa segala entitas semesta ini?

         Kalo itu terjadi, bisa aja, ya, dunia akan jauh.. jauhhhh lebih berisik dari sekarang. Mungkin kayak ada 100 orang dalam satu ruangan dan semuanya menyalakan teve. Em, oke, kalo itu berlebihan, kita kurangi aja jumlah orang di ruangan tadi, jadi 99 orang. Nah, pasti berisik banget!

          Kita nggak bisa jalan melenggang dengan tenang karena bisa aja pas kita melangkah tiba-tiba ada yang berteriak, "Aduh!" Yang berteriak itu bisa siapa/apa aja: semut, rumput, atau aspal. Kalo udah gitu, mau lewat mana, coba?
          Atau, coba kalau bola bisa ngomong, mungkin dia udah marah dan ngadu-ngadu ke Komnashab (komisi nasional hak asasi benda), kali. Dia sendirian, ditendang-tendang 22 orang secara rebutan. Dia pasti menuntut perlindungan dan bukan nggak mungkin menyeret Ozil ke pengadilan. Eh, jangan Ozil, deh. Kasian. Si CR7 aja. Nggak papah. Saya nggak suka.
          Belum lagi si Kokom--sebutan untuk komputer. Dia pasti mengeluh panjang lebar karena dinyalakan terus-menerus tanpa henti. Yang nyentuh juga berbagai macam orang dan berganti-ganti dari orang yang satu ke orang lain.
         Terus, nyamuk. Barangkali nanti kita akan merasa betapa egoisnya kita. Ini kita tahu sejak kita ikutan acara "Andai aku menjadi..." Nyamuk dicipta berumur pendek (eh, bener, nggak?). Kelaparan, dia mati. Kekenyangan, dia mati. Hampir bisa dipastikan takdir kematian mereka di tangan manusia.
          Uh, masih banyak, deh, yang lainnya: pohon yang batuk-batuk karena asap kendaraan bermotor, ransel yang bermuka sabar padahal keberatan isi, boneka masa kecil yang tak lagi diajak cerita, sepatu-sepatu lama yang dibuang ke tempat sampah, dst.

http://images.clipartof.com/small/10473-Clipart-Picture-Of-A-Tree-Mascot-Cartoon-Character-Holding-A-Blank-Sign.jpg

Senin, 11 Juni 2012

"Belum Menemukan Jodoh"

Teman-temanku yang baik,
tanpa mengurangi rasa hormat dan sayangku padamu,
aku mau bicara sesuatu.

Begini,
aku sering menangkap basah beberapa orang darimu
bergalau-galau ria karena belum menemukan "jodoh"-nya.
Bahasa vulgarnya, belum menikah
padahal secara umur sudah sangat pantas menikah
--usia menikahnya kita pake konvensi masyarakat pada umumnya aja, ya..

Jangan salah paham.
Bukan aku mau mendiskreditkan kamu yang galau karena "belum menemukan jodoh".
Aku pikir ya silakan aja kita bergalau karena "belum menemukan jodoh".
Toh, kita masih single yang notabene wajar kalo ngegalau "belum menemukan jodoh".
Kalo udah ganda campuran masa iya galau karena "belum menemukan jodoh"?

Cuma,
kadang aku agak nyesek juga,
saat kawanku meratap di ruang publik
dan menunjukkan seolah betapa malangnya ia karena belum menikah.
Nggak ngelarang atau apa, sih, tapii..
Apa iya harus begitu?

Temanku yang baik,
aku yakin, kok,
segala sesuatunya itu udah diatur. Udah benar.

Barangkali alasan kita belum bertemu jodoh kita karena kita diharapkan mempersiapkan diri kita
dengan lebih baik
sebelum berumah tangga.

Atau, mungkin,
alasan kita belum bertemu jodoh kita karena Allah masih memberi waktu untuk kita menyelesaikan pendidikan tanpa diinterupsi (terutama jika manajemen waktu & pikiran kita masih berantakan).

Atau, mungkin juga,
karena sebenarnya kita sedang diminta menjaga keluarga kita dulu.
Kalo udah rumah tangga kan jelas nggak bisa seintens waktu single saat jaga orang tua.. Ya, kan?

Atau,
aku curiga--sebagaimana aku yakini sendiri,
sang pangeran itu belum menyadari kalau
tulang rusuknya, bagian dari dirinya, jiwanya,
ada di tubuhku,
padahal bisa aja,
sekarang ini dia baca tulisanku.
:p