Setelah trip ke Pulau Kelor, pulau
kedua yang kami kunjungi yaitu Pulau Onrust. Di pulau ini, ada pemandu wisata
yang memaparkan sejarah singkat tentang Pulau Onrust. Nama pemandu kami adalah
Pak Irsyad, tapi papan nama di dadanya bertuliskan “Rosadi”. Jadi yah, cuma dia
dan Tuhan yang tahu siapa nama aslinya. Yang penting ada yang menjelaskan
sejarah pulau. Yeah.
Sebelum
berkeliling pulau, kami makan siang. Di pulau ini ada beberapa warung yang
menyediakan makan siang sederhana. Karena kami membawa bekal, kami hanya
membeli kelapa muda. Kelapa mudanya segar sekali, lho! Ada es batu yang
berenang di kelapa muda kami. Harganya Rp15.000,00 per buah.
Onrust,
Pak Irsyad menjelaskan, berarti sibuk,
tanpa berhenti. Ya, memang, dari tiga pulau yang menjadi destinasi kami
ini, aku lebih banyak tahu tentang onrust. Onrust dahulu menjadi pulau yang
sangat sibuk. Orang datang dan pergi dari pulau ini. Konon, sebelum dan setelah
pergi haji, orang dikarantina di Onrust. Well,
dulu pergi haji melalui laut. Kenapa mereka harus dikarantina?
Katanya
sih, bukan kata Pak Irsyad, tapi dari sejarah yang pernah kubaca di internet
sebelumnya, pribumi yang akan pergi dan pulang dari luar negeri (dalam hal ini
pergi haji ke Mekkah) akan ditandai dan diawasi tingkah lakunya selama beberapa
lama sampai mereka dinilai “aman” (dalam artian tidak memiliki dan menyebarkan
konsep merdeka yang membuat pribumi memberontak terhadap Belanda).
Penyebutan
“haji” dan “hajah” juga tanda. Tanda bahwa mereka pernah ke Mekkah sehingga
lebih mudah diawasi. Emm, tapi kalau sekarang, makna “haji” dan “hajah” agak
bergeser ya, jadi simbol kebanggaan bahwa seseorang pernah menunaikan rukun
Islam yang kelima, bahkan marah kalau gelar tersebut tidak dicantumkan pada
nama.
Orang-orang
yang dianggap berbahaya oleh Belanda, dipenjarakan di Onrust. Sebenarnya,
Onrust, Kelor, dan Cipir punya sejarah yang kurang lebih sama. Menjadi tempat
karantina, tempat perawatan orang sakit, tempat eksekusi orang yang dianggap
pemberontak, dan kuburan.
Di
sisi lain Onrust terdapat kompleks pemakaman orang Belanda. Menurut Pak Irsyad,
kebanyakan mereka meninggal karena penyakit khusus yang ada di daerah tropis.
Mereka yang berasal dari daerah empat musim tidak dapat menyesuaikan diri di
sini. Kuburan tersebut berupa gundukan berbentuk segitiga. Ada paling nggak
tiga makam yang khusus. Makam tersebut ditutup dengan batu dengan berukir puisi
berbahasa Belanda.
Melanjutkan
perjalanan, nanti kita akan melihat makam pribumi. Makam para pribumi tidak
berada dalam kompleks yang sama dengan wong
Londho. Mereka terbuka begitu saja. Memang sih, ada tiga makam yang
dikeramatkan. Ketiga makam tersebut dibuatkan “rumah”. Aku nggak foto
makam-makam ini, takut mereka terganggu. Hehehe. Kalau mau tahu, googling aja ya. Em, atau, ya datang
langsung saja ke Onrust!
Sebagian
besar bangunan di Onrust hanya tinggal pondasi atau sisa-sisa bangunan. Ini
disebabkan oleh tsunami karena meletusnya Gunung Krakatau. Onrust lalu mati dan
dibiarkan liar begitu saja sampai akhirnya dikelola oleh pemerintah. Menurut
Pak Irsyad, ketika dibuka (kembali), Onrust menjadi hutan liar lengkap dengan
hewan buas semisal ular.
Nih, aku bagikan hasil jepretanku
selama di sana!
![]() |
Memasuki salah satu rumah karantina. Yang panjang dan hitam di depan itu meriam, lho! |
![]() |
Bagian dalam rumah karantina. Ada ruang-ruang periksa dan taman. |
![]() |
Toilet yang digunakan dahulu |
![]() |
Bentuk lain toilet |
![]() |
Sisa-sisa bangunan |
![]() |
Di dalamnya semacam sumur gitu |
![]() |
Kalau tonggak-tonggak itu adalah sisa bale (tempat tidur), bisa bayangin nggak dulu bale-nya kayak apa? |
![]() |
Info sejarah Pulau Onrust. |
![]() |
(Dahulunya) Pagar antitikus. Nggak kebayang! |
![]() |
Ya, sesepi ini Onrust. Berpagar putih krem di sebelah kanan itu merupakan kompleks pemakaman orang Belanda zaman dulu. Kuburan pribumi masih lurus ke depan ikuti jalan ini. |
![]() |
Habis berkeliling, eh nemu ayunaaaannn. Mana bisa dibiarkan? |
![]() |
Yuk ah, lanjut ke pulau berikutnya! |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar