Minggu,
5 Juni 2016, aku dan beberapa orang teman kantor ikut program tukang jalan dot com yang “Trip 3
Pulau” (Kelor, Onrust, dan Cipir). Sebenarnya, banyak banget agen yang menawarkan trip ke tiga pulau ini. Harga
bervariasi. Dari yang aku tahu, mulai Rp70.000,00—110.000,00 (entah ya kalau
ada yang lebih dari harga segitu). Kami memilih tukang jalan dot com karena relatif murah. Rp75.000,00 (belum
termasuk uang tip untuk pemandu wisata [di Onrust] dan tip pemimpin
perjalanan).
Aku
akan menceritakan pengalaman kami di tiga pulau ini dalam tiga bagian. Ini
merupakan bagian pertama.
Titik
kumpul kami adalah Muara Kamal di daerah Cengkareng. Menurut bisikan beberapa
orang, perlu waktu 2—3 jam perjalanan untuk mencapai tempat itu. Karena waktu
keberangkatannya adalah pukul 08.30, jadilah kami berangkat pukul 05.00 WIB.
Ternyataaa, kami sampai sana jauh lebih awal: pukul 07.00 WIB (itu pun sudah
dengan nyasar-nya).
Untuk mencapai lokasi, berikut beberapa
opsi transportasi (sudah dicampur antara saran dari tukang jalan dot com dan pengalaman kami):
1.
Kereta api. Turun di Stasiun Rawabuaya.
Dari situ bisa naik kendaraan beraplikasi kali ya. Kalau tukang jalan dot com sih menganjurkan kita naik kereta sampai
Juanda, dari situ naik Transjaka arah Kalideres lalu turun di Rawabuaya. Dari
situ naik Carry sampai Muara Kamal. Ongkos Carry dari/ke stasiun Rp9.000,00.
2.
Transjakarta. Turun di halte Rawabuaya.
Selanjutnya naik Carry. Ongkosnya Rp8.000,00.
3.
Kendaraan beraplikasi. Naik dari rumah
masing-masing. Turun di Muara Kamal. Ingat, mobil hanya bisa sampai tempat
pelelangan ikan. Selebihnya harus jalan kaki. Kalau motor sih, masih bisalah
antre dengan orang-orang yang jalan kaki.
4.
Kendaraan pribadi. Kata kuncinya dermaga Muara Kamal aja. Tempo hari sih
aku nggak lihat tempat penitipan mobil, mungkin di daerah terdekat dengan
tempat pelelangan ikan. Kalau motor, masih bisa lanjut sampai dermaga. Nanti
bisa titip motor di tempat penitipan motor dekat dermaga.
5.
Bus. Naik yang jurusan Kalideres turun
di perempatan Cengkareng. Dari situ naik Carry. Selanjutnya, sama dengan atas.
Transportasi
yang kami pilih ke sana adalah grab car.
Sebelumnya, kami memesan uber X.
Sayangnya, pihak driver membatalkan
tanpa kabar (setelah sebelumnya menelepon dan menanyakan tujuan kami—yang
seharusnya sudah ada di ponselnya). Mungkin dia pikir kejauhan. Kami akhirnya
memilih grab car. Sopir yang
mengandalkan GPS (karena kami juga belum pernah ke sana), sempat salah
menerjemahkan petunjuk keluar tol. Akhirnya, kami malah keluar di pintu tol
Pantai Indah Kapuk (pintu tol Kamal 2). Kami harus masuk tol lagi, lalu berputar
untuk kembali ke pintu tol yang seharusnya: pintu tol Kamal 1. Tak apalah. Buat
pengalaman. Ingat ya, Muara Kamal beda dengan Muara Angke, apalagi Muara
Karang.
Dengan
mobil, kami tidak bisa mencapai dermaga. Kami hanya bisa diantar sampai dengan
tempat pelelangan ikan. Selebihnya, kami harus berjalan kaki menuju dermaga
melalui pasar pelelangan ikan.
Pasar
pelelangan ikan ramai dan becek. Kalau mau pakai sandal jepit ke sana sih ya
nggak apa-apa, cuma risikonya kecepretan aja.
Em, tapi nanti juga bisa dibersihkan. Bawa tisu untuk jaga-jaga juga oke buat
persiapan nggak ketemu air untuk membersihkan kaki.
Jadwal
keberangkatan yang semula dijadwalkan pukul 08.30 WIB harus molor jadi pukul 09.00 karena menanti
empat orang yang belum datang. Sepertinya mereka nyasar.
Peserta
dibagi menjadi dua kapal motor. Aku dan teman-temanku naik kapal 2. Tujuan
pertama kami adalah Pulau Kelor.
![]() |
Tiba di dermaga Pulau Kelor |
Pulau
Kelor, menurut penelusuranku di Google (hehehe… di sana nggak ada penjelasan
tentang pulau ini sih), dahulu bernama Pulau Kherkof. Bangunan khas yang ada di
sana adalah Benteng Martello. Konon, Martello antimeriam. Konon lagi, alasan
pulau ini dinamakan Kelor adalah karena pulau ini kecil banget (jadi kayak daun
kelor itulah).
![]() |
Benteng Martello di Kelor (bukan di Onrust lho ya!) |
![]() |
Kami duga sih Bapak ini penjaga benteng. Ada peraturan untuk tidak menaiki benteng soalnya. |
![]() |
Separuh Benteng Martello, separuh laut |
Pulau
ini tidak berpenghuni. Orang-orang hanya datang dan pergi dari pulau ini.
Ketika kami datang, ada beberapa tenda dipasang. Memang banyak yang menginap.
Pemandangan lain yang kami temukan di pulau ini yaitu banyaknya orang yang
memancing. Kami sih, setelah
berputar-putar dan foto-foto di Benteng Martello, main air di pantai yang
bersih.
Ada bagian pantai yang banyak banget sampahnya. Oh, semoga mereka yang membuang sampah sembarangan diberi rezeki untuk beli tempat sampah atau diberi kemampuan untuk mengolah sampah.
Ada bagian pantai yang banyak banget sampahnya. Oh, semoga mereka yang membuang sampah sembarangan diberi rezeki untuk beli tempat sampah atau diberi kemampuan untuk mengolah sampah.
![]() |
Pemandangan cantik gini sayang dong kalau dikotori dengan sampah. Stop buang sampah di pantai (mana pun)! |
1.
Kalau matahari sedang gembira, pulau
ini panas banget dan hampir tidak ada
tempat berteduh. Jadi bawa payung atau sunblock
atau kacamata hitam atau topi lebar kalau nggak mau kulitmu rusak ya.
2.
Biaya masuk pulau ini sebesar
Rp5.000,00 (ada loketnya).
3.
Semoga pemerintah (pihak yang terkait)
bisa menambahkan papan sejarah Pulau Kelor atau Benteng Martello. Jadi,
wisatawan yang berkunjung bisa tahu sejarahnya cukup dengan membaca tulisan
yang ada di sana, tanpa harus googling.
4.
Tempat sampah sudah banyak tersedia.
Jadi, ketika ke sana, jangan nyampah, ya!
Um, well, sebenarnya di mana pun jangan nyampah, sih. Masa
iya, udah cakep, wangi, tapi masih nyampah?
Oh, ayolah. Beberapa bagian laut (sejak Muara Kamal sih) sudah menghitam dan
bau berkat polusi, masa iya ditambah rusak dengan sampah?![]() |
Bersambung ke pulau berikutnya. Yuk~ |
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusUuuhh.. kok ternyata cakep gitu! :O
BalasHapusiyaaaaa.. kece banget!
Hapus