Jumat, 21 Desember 2012

Untuk Siyah


adik yang tiap sore duduk di jendela itu
tatap mentari belas diberi

“Jangan lekas tarik tali
karena esok masih hari.”

(17 Mei 2004)

Abangku Sayang


Abangku sayang dipunya orang
tetapi tangannya masih merentang
sambut diri yang temaram

Abangku sayang aku dibuang
bilang hanya padahal semua
samarkan satu rasa

Abangku sayang semakin hilang
karena tak ada pesan yang tersimpan
hanya kenang yang disematkan

Abangku sayang pisah di simpangan
dia beranjak abu-abukan alam
maka aku duduk saja.

(17 Mei 2004)

Sabtu, 15 Desember 2012

kasihan dia

kasihan dia.
harus menungguku berhenti bicara
agar dapat berkata-kata.
bukan apa-apa,
ia cuma tak ingin tampak sedang menyimak kata-kataku,
ia malas ketahuan menanggapi
ocehanku
lalu ia hanya diam:
menyahut, membantah,
menyetujui,
dalam diam.

tak lama aku terdiam.
menanti ia berkata-kata.

(13 Desember 2012)

inspirasi

Ketika aku bicara rasa,
barangkali itu aku sedang mengingatnya:
ia yang dulu pernah bersama.

Ketika aku bicara rasa,
barangkali itu aku sedang mengingatnya:
ia yang ingin kutuju.

Ketika aku bicara rasa
tak lain tak bukan
pasti tentang dia

Ketika aku bicara rasa,
kadang aku biarkan entah siapa merasuk dalam diriku:
mereka yang sedang punya rasa. 

(8 Desember 2012)

bertengkar dengan kemalasan

Tiap pagi ia bertengkar
bertengkar dengan kemalasan
kemalasan berangkat kerja.

Entahlah,
apa menjadi dewasa menjadikan orang-
orang sering bertengkar dengan apa saja?

Ya, ia selalu bertengkar dengan malas.
Ya, ia tahu ketika sudah di tempat kerja,
sudah bertemu teman-temannya,
mereka akan menikmati hari
dengan sebungkus gosip sebagai cemilannya.

Jadi, ia lupa tentang pertengkarannya tadi pagi.
Namun, ia kembali ingat pada esok pagi.

(14 Desember 2012)