Minggu, 18 September 2016

Perihal Merasa Dihargai

          Perihal merasa dihargai. Ketika Ribang datang untuk Kingkin, kekasihnya, lalu yang ia dapat adalah marah dan pengusiran, Ribang merasa tidak dihargai. Ia akan bercerita kepada orang tuanya mengenai tidak berharganya ia di mata Kingkin.
          Ketika Ribang lagi-lagi “hanya” melakukan kunjungan rutin, bukan melanjutkan pertemuan komitmen dua keluarga, Kingkin merasa dirinya tidak cukup berharga bagi Ribang dan keluarga. Sudah cukup lama mereka menjalin kasih, sudah banyak mulut orang membicarakan mereka. Kingkin pikir Ribang tidak memperjuangkan mereka sekuat ia bisa.
          Ribang merasa tidak perlu sekuat itu memperjuangkan Kingkin. Bahkan ia bertanya-tanya sendiri, apa mereka bisa cukup untuk satu sama lain?

(18 September 2016)


Sabtu, 03 September 2016

Gerimis dan Hujan Besar

Gerimis itu
anak-anak hujan yang
dibiarkan mamanya main
ke Bumi dan menyapa tanah.

Hujan besar itu
sebetulnya klub Mama Hujan
yang datang ke Bumi untuk mencari
anaknya yang main dan nggak pulang-pulang.

(Jumat, 9 Oktober 2015)


Minggu, 21 Agustus 2016

Fragmen: Debu dan Bayang-bayang

          Entah bagaimana ini bermula: aku patah hati sebelum akhirnya jatuh cinta lagi dengan orang yang sama. Mau kau kuceritakan? Sini, mendekat kepadaku dan beri aku kupingmu.
          Ia lelaki dengan api semangat yang cantik. Kubayangkan ada kobaran di matanya saat mengatakan, “Kautahu, Matari! Kau-tahu! Dan aku tidak tahu kalau Chairil itu plagiat! Krawang-Bekasi! Oh.”
          “Ya, aku tahu. Ada dosenku bilang begitu ketika kuliah,” sahutku santai, cenderung heran. Informasi itu bagiku bukanlah hal yang istimewa.
          Tidak baginya yang penyuka Chairil. Kekecewaan melandanya.
          Aku, tanpa berusaha menghibur, semata menganalisis, berkata lirih karena dia memilih diam, “Apa dia benar-benar plagiat? Maksudku, kita kan tahu konon Chairil itu bisa langsung hafal sebuah puisi hanya dari sekali membaca. Ya kan? Apa tidak ada kemungkinan bahwa puisi itu—Krawang-Bekasi itu—merupakan hasil pembacaan ulangnya terhadap ‘The Dead Young Soldiers’ karya Archibald MacLeish?”
          Terdengar tarikan napas di seberang telepon lalu dengan suara enggan dia menyahut, “Entahlah.”
          Begitu. Kami menghabiskan banyak malam untuk berdiskusi hal-hal semacam itu. Terkadang membahas tulisanku—em, hal yang sebenarnya lebih sering kuamini saja. Aku lebih sering tidak mengusik tulisanku sendiri, terlebih puisi. Menurutku, biar saja orang membaca lalu menangkap hal-hal yang bisa ia tangkap dari tulisanku.
          Lain waktu ia akan membacakan puisi karya orang yang tidak kukenal hingga memberikan pengetahuan baru bagiku; terkadang sekadar menyanyikan lagu yang terlintas di benaknya. Itu selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Diam-diam aku menutup mataku dan meminta kepada-Nya agar bisa selalu mendengarkan pembacaan puisinya atau nyanyiannya menjelang tidur. Aku merasa ada yang terbang. Entah aku, entah doa.
          Aku merasa terbuai dengan segala yang ia berikan hingga malam itu datang. Ia menelepon dan dengan suara terburu-buru ia bilang, “Matari, Matari, kalau pacarku meneleponmu nanti, bilang saja kita tidak pernah kontak selama ini. Tolong ya, Matari!”

          Tidak-pernah-ada-kontak.
          Kautahu, aku merasa terluka. Terluka sekali. Seperti yang aku yakini sendiri, aku menjelma debu dan bayang-bayang.



(tulisan yang (tidak sempat) diikutsertakan dalam give away Aprie yang ini)

Rabu, 20 Juli 2016

Lelaki dan Perahu (2)

Setelah ceritaku di sini, Lelaki tetap pergi dengan perahu. Namun, perahu yang memang sudah tak bisa bepergian lagi itu putus umur. Lelaki kembali ke tepi.
          Aku senang. Lelaki tetap di tepi. Ia menjalankan hari-hari bersamaku. Banyak orang pergi-pulang di tempatku. Lelaki tetap bersamaku. Sampai saat itu.
          Ia kembali berperahu.
          Kupikir akan selamanya ia di tepi bersamaku. Selama ini kupikir ia begitu ingin bersamaku, mengalahkan keinginan berperahunya. Aku heran, bila benar-benar ingin berperahu, mengapa dulu ia tak lantas membuat saja perahu?
          Kini ia berperahu menjauh.
          Sudahlah. Mau bilang apa. Hidupnya miliknya. Aku hanya bisa relakan dan aku baik-baik saja*.


*tentu saja aku bohong (lagi). Mana bisa kau baik-baik saja ketika orang terkasihmu pergi?

Selasa, 19 Juli 2016

(Mempertahankan) Genggaman

:fragmen

          Tidaklah kami di tepi kanal di Leiden saat senja belum dipotong Seno atau bermandi cahaya kapal di Bremen kala malam membungkus. Ruang tunggu sebuah agen travel Jakarta dan kota tetangga. Sampah dan tembok dekil menjadi pemandangan yang tidak romantis.
          Jenggot dua lembar yang ia bangga-banggakan bergerak-gerak ketika bicara. Rasanya ingin kupotong dengan gunting yang selalu sedia di tempat pensil. Namun, seharusnya itu tidak kulakukan. Ada yang lebih penting daripada menggunting jenggotnya: mempertahankan genggamannya yang sebentar lagi akan mengendur dan menjauh.


(25 April 2016)