Sabtu, 05 September 2015

Yang Mungkin dan Yang Mustahil

          Yang Mungkin berjalan pongah di depan Yang Mustahil. Dia bergaun merah merasa paling cantik sejagat raya. Yang Mustahil menepi memberi jalan.
          Yang Mungkin berjalan congkak dengan tas kecil di tangan. Kalau saja kautahu, isi tas kecilnya adalah segunung rendah diri aneka rupa.
          Sudahlah, ini rahasia kecil antara kita saja.

(17 April 2014)


Jumat, 04 September 2015

Lelaki yang Mendengkur di Pangkuan

          Ini sebuah kemewahan bagiku. Wajahnya yang tertidur pulas di pangkuanku. Tanganku tidak tahan tidak membelai rambutnya.
                    Tak lelo lelo lelo ledung
                    Cep menenga aja pijer nangis
          Di tengah pipinya yang lapang, kudaratkan sebuah kecupan. Entah bagaimana, ciuman itu mengundang senyum. Seolah aku berhasil menjadi juara satu lomba lari.
          Dadanya yang penuh membentang menghadap langit. Kubayangkan aku berumah di sana. Dengan jari kutuliskan namaku di dada itu.
                    Tak gadang bisa urip mulyo
                    Dadiyo priyo kang utomo
          Mulutku masih bersenandung sambil pelan-pelan kutempelkan lagi bibirku ke pipinya. Dengan tiba-tiba, bibirnya melumat bibirku. Sejenak aku terpana, sisanya kubalas memagut bibirnya dengan tak kalah rakus.
          “Gimana aku bisa tidur kalau gini caranya, ha?” protesnya.
          Aku nyengir.
          Berikutnya, bibirnya sudah menghabisi jejak-jejak lipstikku dan tangannya sudah bermain di taman lingkar putingku.

(27 Agustus 2015)


Kamis, 03 September 2015

Malam Bulan Gendut

Malam, Bulan Gendut.
          Begini, aku sedang resah. Ya, kau pasti tahu itu. Kalau tidak, kau tentu heran untuk apa aku menulis. Ya, ya, pasti begitu.
          Pernah aku begitu semangat menyambut malam bahkan aku tak sabar menanti malam. Malam begitu menyenangkan. Malam berarti bertemu dengannya. Malam berarti kepala kami akan saling bersandar lalu bercerita omong kosong dengan perasaan senang.
          Sementara itu, sekarang, keadaannya berbalik. Aku makin takut bertemu malam. Malam berarti sepi. Hilang api. Malam menjadi angkuh. Malam tidak mau berteman. Aku lari mencari matahari. Percuma. Karena ini malam. Matahari mana yang begitu bodoh muncul pada malam hari? Bisa habis dia.

(28 Agustus 2015)


Rabu, 02 September 2015

Hilangnya Para Pulpen

          Aku heran sekali. Pulpen di kantorku sering hilang. Seperti hari ini. Pulpen Kak Faras dan Kak Afri hilang.
          Kami cari di kolong meja, cari di meja-meja tetangga, cari di gang-gang sempit antara meja, cari di belakang lemari. Nihil.
          Kemarin pulpen Kak Nur yang raib. Pernah juga pulpen Kak Evi. Aku jadi terheran-heran, ke mana para pulpen itu pergi, ya? Apa ada yang mengadopsi mereka secara ilegal? Apa yang mereka lakukan selama menghilang itu?
          Mendadak aku curiga ada yang menganggap para pulpen itu sebagai ancaman lalu bertekad menculik para pulpen bahkan membinasakan dari muka bumi. Bila tidak ada pulpen, akan bagaimana manusia mencatat hidup? Ya kan?

(28 Agustus 2015)


Selasa, 01 September 2015

Bagaimana Bila Kita

Bagaimana bila kita hidup dengan seseorang yang tidak mencintai kita?

          Aku sedang bersamanya. Mendengarkannya bernyanyi tentang lagu patah hati. Pedih. Pedih sekali. Seolah akulah yang sedang patah hati.
          Kuberi tahu sebuah rahasia, sebetulnya aku berharap ia menyanyikan lagu jatuh cinta ketika bersamaku, bukan patah hati. Aku jadi bertanya-tanya sendiri, apa waktu seperti itu akan datang?
          Apa yang harus kulakukan? Tetap mendampinginya hingga ia jatuh hati betul kepadaku atau membiarkan dia dengan patah hatinya dan aku menjauh?

(21 Mei 2015)