Kamis, 06 Maret 2014

Kota Inyong

Tanggal 1 - 2 Maret 2014 aku berkunjung ke kota inyong (artinya: saya), Purwokerto. Oh, bukan, bukan, Purwokerto bukan kampungku. Kami ke sana karena ada Saudara yang menikah. Ini kukasih oleh-oleh untukmu:

Ini aku foto dari dalam kereta. Sayang keretanya nggak bisa diam jadi gambarnya goyang, deeh.. :(

Sawahnya kena hama wereng. Beberapa ada yang kebanjiran. :(

Om penghulu mengecek data.

Di bagian sini ada hajatan; di bagian sana ada (entahlah) balapan. Salah satu pagar ayu hajatan (alias aku) malah jadi fotoin balapan. :))

Warga lokal asyik menonton balapan.

Suasana di Stasiun Puwokerto. Bersih dan rapi!

Beberapa orang tampak mengisi data untuk tiket.

Ini fasilitas untuk pemesanan tiket mandiri.

Jatinegara dini hari!

Si Adek gegayaan. Kita anggap saja dia keren, yah? Iyah.

Mecing sama kereta! :))

Ini saudara-saudaraku, yay!

[kiri] aku - [kanan] Piccolo. :))

Tim penerima tamu

Adat Banyumasan. Namanya "begalan".

Pada dasarnya "begalan" mirip jawara di Betawi gitu.

Jawara dari mempelai laki-laki membawa perlengkapan rumah tangga. Semuanya itu ada falsafahnya. Jangan tanya, aku lupa.

Ini masih adat begalan

Bersiap pulang ke Jakarta, yay!

Ini "kondangan" dari warga lokal. Ada yang membawa beras, tempe, mie, dsb.

Mereka menggunakan baskom atau kotak piknik untuk mewadahi beras dan teman-temannya.

Purwokerto itu kota yang bersih. Di pelosok pun disiapkan tempat sampah.

Surat pemberitahuan hajatan yang ditempel di depan rumah.

Ibu-ibu membawa kembali baskom mereka yang sudah diisi oleh tuan rumah sebagai ucapan terima kasih.

PURWOKERTO~ AKU PADAMUH! UYEAH!

Itu sedikit oleh-oleh dari Purwokerto. Kapan-kapan akan kumuat oleh-oleh dari Solo dan Pemalang yang belum sempat kupublikasikan. *dadah-dadah*

Selasa, 04 Maret 2014

Ziarah di Gramedia

          Aku sedang melihat-melihat buku di Gramedia saat ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Cen.
          Di mana?
          Kuketikkan balasan, lantai 2.
          Tak lama ponselku berbunyi lagi. Lantai 2 sebelah mana?
          Aku lantas menuju eskalator—tempat kuduga ia berada—sebagai jawaban pesannya. Benar saja. Ia di sana. Pria berambut gelombang hampir menyentuh bahu yang tergerai berantakan itu menujuku.
          Sebagai pengganti “halo”, aku tersenyum canggung. Tak tahu harus berkata apa, kubilang saja, “Aku lagi lihat buku-buku di sana itu.”
          Aku langsung memunggunginya dan berjalan dengan kikuk. Ia mengikuti saja tanpa berkata apa-apa. Sesampainya di tempat awal aku melihat-lihat buku, kuperhatikan ekspresinya. Sebuah senyum miring terbit di bibirnya. Aku cukup tahu buku-buku ini bukan seleranya, itu sebab tadi kusempatkan memperhatikan reaksinya saat melihat buku-buku di rak sini. Ia tidak bilang apa-apa, tetapi ketika kau buka Twitter nanti kau akan tahu pikirannya. Ia akan menulis: buku-buku macam apa ini. :|
          Aku tersenyum saja lalu melanjutkan pencarian. Kubiarkan ia melihat-lihat—dan barangkali mencaci buku-buku itu dalam pikirannya.

          Teleponku berbunyi. Nama Sarah tertera di sana.
          “Halo,” sapaku.
          “Kaf, lagi di mana?”
          “Gramedia.”
          “Ngapain?”
          “Ziarah.”
          “Hah? Ziarah?”
          “Iya. Menziarahi ingatan waktu pertama kali ketemu Cen. Hahahaha… .”

(22 Oktober 2013)


Senin, 03 Maret 2014

Perihal Makan

June tidak sarapan pagi ini
semalam ia pula tidak makan malam
perutnya keroncongan
ia jempalitan

makan,
baginya,
merupakan kebiasaan:
sebuah kegiatan mengisi waktu luang

ia yang tidak lapar menjadi lapar
karena adanya waktu makan
ia yang tidak menanti jadi menanti
karena tahu perutnya akan diisi

June berniat mengubah kebiasaan
ia ingin membiasakan tidak makan
agar ia tidak lapar

(22 Februari 2014)


Minggu, 02 Maret 2014

Dari Usagi untuk Sailormoon

Kepada yang berbahagia,
Sailormoon alias Evi Sri Rezeki

Evi yang baik,
          Undanganmu sudah tiba dengan selamat di mataku tanggal 19 Februari 2014 lalu. Ketika kaubaca surat ini, barangkali kau sudah sah menjadi istri Kang Isna, imammu.



Evi yang cantik,
          Melalui surat ini aku ingin minta maaf karena aku tak bisa hadir dalam acara bahagiamu. Hari pernikahanmu jatuh tepat bersamaan dengan pernikahan saudaraku yang tinggal di Purwokerto. Ya, Evi. Bisa jadi saat kaubaca surat ini aku sedang di Purwokerto atau malah di kereta dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Eh, em, Bekasi.

Evi yang berbahagia,
          Melalui surat ini pula kusampaikan selamat atas pernikahanmu. Semoga keluargamu menjadi keluarga yang samara. Amin.

Evi Sri Rezeki,
          Huwaaaaaaaaaaa~
          Sekali lagi selamat, yaaaa~
          Semoga selalu berbahagia, berbahagia, berbahagia!
          Barakallahu lakuma!



Peluk dan kecup jauh,


Usagi alias Ika Fitriana


p.s.: Sebagaimana aku yakini sendiri, Usagi itu aku dan Sailormoon itu Evi. Udah, gitu aja. Nggak nerima komplain. Bwek. :b

Sabtu, 01 Maret 2014

Yem

Yem,
          Waktu aku ke Pemalang bulan Juli tahun 2013, aku melihat beberapa orang lelaki berdiri di bagian belakang sebuah truk. Mereka arep ngetan kethoke[1]. Aku bersama teman-temanku berada persis di belakang truk mereka yang sedang melaju.

Yem,
          Entah kenapa, aku merasa sedih, haru, dan bangga sekaligus melihat mereka. Aku teringat Bapakku, Yem.

Yem,
          Wong lanang ning truk kae bojone sopo?[2] Opo bojomu? [3]

Yem,
          Ngiris ning ati rasane, ndhelok wong lanang kae.[4] Baju mereka bocel-bocel dan kotor penuh tanah. Aku menduga mereka dari Jakarta (atau sekenanya) yang kerja menggali saluran PLN atau saluran apa itu di pinggir jalan. Aku menduga merekalah si Penantang Matahari yang di tengah terik bertelanjang dada demi mencari nafkah.

Yem,
          Kuwi pak’e sopo?[5]

Yem,
          Apa betul Jakarta lebih menjanjikan? Mereka bela-belain datang dari kampung, beberapa hari di Jakarta cuma dengan tujuan membuat saluran di pinggir jalan. Mereka pulang menumpang di truk kena angin malam apa tidak kedinginan, ya, Yem? Lha kalau aku enak, duduk anteng di mobil temanku. Kalaupun dingin, dingin AC. Mereka?

Yem,
          Aku sangat berharap, bila salah satu lelaki itu suamimu, sambut mereka dengan senyum dan terima kasih saat pulang nanti. Aku juga berharap, semoga anak-anak mereka sadar betul apa yang dibela para bapak itu.

Yem,
          Sebut aku tidak tahu diri karena banyak berharap, tetapi benar aku berharap semoga mereka—yang bekerja betul demi mereka dan keluarga—dilindungi Tuhan. Amin.





[1] Mereka sepertinya akan pulang ke kampung.
[2] Lelaki yang ada di truk itu suaminya siapa?
[3] Apa suamimu?
[4] Hatiku seperti diiris rasanya melihat lelaki itu.
[5] (Lelaki) itu bapaknya siapa?