Jumat, 11 Oktober 2013

Karepmu Kepiye?

Karepmu kepiye?
Bukanne lungo malah manggon ning njero dodo.

Aku kudu kepiye
nek kowe malah ngendon ning kono?

Kowe sopo
aku yo ra tau
Sing nggenah
yo aku ra ngerti opo-opo
mbuh ning dodo kene
mbuh ning otak kene
mbuh ning mripat kene

Karepmu kepiye?
Nek lungo yo lungo wae kono
ojo nggowo atiku

Nek atiku kowe gowo,
aku urip kepiye?


(6 Oktober 2013)

Kamis, 10 Oktober 2013

Rabu, 09 Oktober 2013

Apa Kau Bisa Melebihi Bapakku?

Apa kau bisa melebihi bapakku?
Kalau tidak,
Mati kau!
Mati kau!
Mati kau!

Mati aku.

Mana bisa mereka mempercayakan
anak dan cucu mereka
kepada suami dan ayah macam kau?

Cepat temukan caranya!
Aku di sampingmu.


(5 Oktober 2013)

Selasa, 08 Oktober 2013

Perihal Duduk Bertiga

: tanggapan untuk tulisan Momo yang berjudul “Satu Bertiga

          Dear Momo,
          Ingatan pertamaku saat membaca tulisanmu adalah tempat dudukku ketika SMP. Aku duduk bertiga dengan temanku! Hahahaha… .
          Sekolah kami sekolah biasa saja. Di kelas kami ada beberapa orang yang duduk bertiga di bangku panjang. Salah satunya ya aku dan dua temanku. Nama mereka Nur Hasanah dan Nur Hidayati. Aku begitu senang di tengah-tengah dua cahaya (nur = cahaya) dan berada di antara kebaikan (hasanah = kebaikan) dan petunjuk (hidayat = petunjuk). Ah, ya, aku makhluk antara. XD
          Ketika itu kami senang-senang saja duduk bertiga. Tidak merasa sedih atau apa meski barangkali orang lain yang melihat kami akan jatuh iba atau bagaimana. Kami merasa wajar.
          Sekolahku sekolah biasa saja. Aku juga anak biasa saja. Sama seperti mereka yang kaupotret dan kautulis di blogmu itu.
          Momo yang baik,
          titip salamku untuk mereka, ya! Bilang kepada mereka untuk selalu semangat belajar. Beri tahu mereka bahwa hidup itu berjalan di atas roda bernama semangat dan harapan. Oh, ya, dan cinta. Itu tentu.

(6 Oktober 2013)


Senin, 07 Oktober 2013

Perihal Kampungan

: Tanggapan untuk Fadhli Amir dalam tulisan "Tidak Semua Orang Kampung Kampungan"

          Hai, Fad, ini adalah tulisan ulangku tentang “kampungan”. Sebagaimana yang sudah kuceritakan kepadamu, tulisan awalku rusak file-nya. Nggak bisa dibuka. Nggak ngerti kenapa. Barangkali memang dia nggak mau dimunculkan. Halah.
          Gini, Fad, aku nggak kepengen kata kampungan dihilangkan dari kamus seperti usulmu itu. Kenapa? Ya, kenapa emang dengannya sampai dia dihapus?
          Jika ada nilai rasa yang melekat dalam sebuah kata, menurutku, ya tanggung jawab masyarakat (alias kita), bukan malah dibebankan kepada kata.
          Membaca tulisanmu aku teringat dengan pembantu rumah tangga. Kupikir ia mendapat nasib yang serupa dengan kampungan. Atas dasar survei “selewat dan suka-suka”-ku, ada kesan hina banget di sana. Orang-orang lantas memperhalus dengan “si mbak” , dsb. Pertanyaanku: emang perlu banget begitu?
          Pada perkembangannya malah ada yang mengganti pembantu rumah tangga dengan asisten rumah tangga. Ini malah menghina, menurutku. Ya, udah, sih, pembantu rumah tangga saja. Toh, di mataku, pembantu rumah tangga sama saja dengan pembantu rektor atau bank cabang pembantu. Eh, aku curiga, deh, orang-orang yang menyebut asisten rumah tangga itu akan mengganti dengan asisten rektor atau bank cabang asisten. XD
          Fad, kautahu, tulisanmu itu kurang ajar betul. Ia mengingatkanku dengan beberapa ingatan dan opini pribadiku tentangnya. Ya, selain ingatan tentang pembantu rumah tangga, aku juga teringat dengan baby sitter. Masih di ranah yang sama dengan pembantu, sih. Gini ceritanya.
          Pada suatu hari yang cerah matahari bersinar meriah (halah!). Aku dan kawan-kawan kuliahku berkumpul di sebuah mal di Jakarta Utara yang (katanya) elit. Aku terganggu dengan perempuan-perempuan berseragam yang menunduk-nunduk dan hilir mudik mengikuti juragan kecilnya. Inferior yang diharuskan. Aku nggak suka.
          Aku lantas nyeletuk, “Kenapa, sih, baby sitter itu harus pake seragam pas ke mal gini? Kayaknya gimana banget gitu.”
          Em, maksudku, keciri banget mereka baby sitter. Kenapa nggak baju bebas aja gitu? Kan jadi sama kayak orang-orang yang lain. Aku dan teman-temanku membicarakan hal ini sambil mengunyah makanan. Pembahasan di meja makan. Aku curiga yang kami makan adalah nasib orang, bukan makanan. Duh.
          Bentar, aku minum dulu.
          … .
          Oke. Lanjut.
          Tentang baby sitter itu, berikutnya kami menemukan yang tidak berseragam, tapi ya tetap saja keciri kalau ia baby sitter. Mungkin nggak kalau yang jalan di depan dengan tangan kosong tanpa belanjaan tanpa anak sambil mengangkat dagu itu baby sitter? Huft~
          Jadi, inti cerita tentang baby sitter ini apa, ya?
          Ah, tauklah. Mungkin aku kangen sama teman kampusku. Mari kita kembali ke fokusmu saja: kampungan.
          Aku menyoroti kampungan bukan pada “seharusnya kata itu dihilangkan (eh, babu masih ada atau arkaik? Eh, maap, fokus!)”, melainkan kepada sikap kita terhadap kata itu. Konsep di pikiran. Aku setuju kalau ada upaya penetralan terhadap nilai rasa negatif pada kata itu. Aku sendiri bukan orang yang selalu bisa menetralkan nilai rasa, sih, masih harus banyak belajaaaar… .
          Udah. Gitu aja.

p.s.:
pernah ada siswa yang heran bukan main setelah tahu aku dipanggil “Mbak” di rumah. Ngerti, kan, konteks “Mbak” yang mereka tahu itu “pembantu”.

(5 Oktober 2013)