Jumat, 10 Mei 2013

Mataku Menjelma Telaga


          Aku ingat pagi tadi. Aku bangun dengan sungai mengalir di pipi. Mataku menjelma telaga. Kuingat-ingat lagi, apa penyebabnya?
          Insyaflah aku.
          Aku bermimpi. Tentang seorang putri. Ya, kupikir ia putriku sendiri. Gadis cilik dengan gembil pipi dan gemulai jemari.
          Ia berusia anak sekolah dasar. Melukis ia gemar. Pada berbagai wahana ia menggambar.
          Ada kala aku tersadar sudah waktunya aku berpulang. Aku sudah diberi peringatan. Aku tak punya waktu luang. Sebentar lagi aku hanya berupa ingatan.
          Aku merasa sangat sedih. Menatap gadis kecilku yang gembira dengan mata yang pedih. Namun, sudah kuputuskan untuk berdiri dengan hati yang gigih.
          Ia sedang mewarnai tembok. Warna-warni khas anak-anak: mencolok. Semakin menyadari waktu kian habis, aku tertohok. Tak lama, di sanalah aku teronggok.

Mataku menjelma telaga.
Aku sudah ingat sebabnya.
Aku kehilangan cinta.
Aku mati di hadapan rasa.

(9 Mei 2013)

Rabu, 08 Mei 2013

Ada Sepasang Mata yang Rindu

Ada sepasang mata yang rindu
Merontokkan selembar bulu mata
Ia mengerjap
Agar si bulu mata bergeser ke bawah mata

Dua buah bola mata yang rindu
Melihat ke arah jam
(jam dan menit yang kembar)
Kini ia tahu tentang siapa

Selasa, 07 Mei 2013

Harapan yang Membengkak

yang membengkak dari tubuhku ini
selain kaki
selain mata
selain rindu
: harapan.

Jumat, 03 Mei 2013

Jangan Biarkan Dirimu Tersinggung


Jangan biarkan dirimu tersinggung, Sayang.
Kalau kau tersinggung,
kata-kata yang jelek berebut keluar
dari bibir tebalmu.

Jangan biarkan dirimu tersinggung, Sayang.
Doakan mereka
Doakan mereka

Jangan biarkan dirimu tersinggung, Sayang,
apalagi karena kata-katamu sendiri.

(12 April 2013)

Rabu, 01 Mei 2013

Menghitung Perjalanan


Orang biasa menghitung perjalanannya
sesampainya di tempat tujuan.
Ia akan berkata,
“Wah, lumayan jauh, ya,
tadi dari rumah jam 10
eh, sampai sini jam 12.
Dua jam.”

Jika ia berdua,
maka yang satunya akan menimpali,
“Iya. Pantat sampai kesemutan.”

Mereka, bersama Tuan Rumah, lantas tertawa.

Aku jadi bertanya-tanya,
apa nanti begitu juga,
ketika akhirnya kau tiba.
Apa kau akan cerita perjalananmu juga, Tuan?