Alunan
Gali Gongli merambati telingaku.
Kurasa juga sampai di telinganya karena ia bertanya, “Kausuka Iwan Fals?”
Aku
mendongak lalu tersenyum, “Ya. Begitulah.”
“Kenapa
kau menyukainya? Kausuka kritik sosial yang dilontarkannya, ya?”
“Bukan,”
sahutku. “Itu kan kau yang lagi menilai dirimu sendiri.”
“Maksudmu?”
“Ya…
kauanggap tiap orang yang menyukai Iwan Fals suka karena kritik sosial yang
diontarkannya atau lagu cintanya yang nggak menye-menye,
sepertimu.”
“Ah,”
ia tersenyum kecil, “Kalau begitu, kenapa kausuka Iwan Fals?”
“Aku?”
Aku mengulum senyum sebelum melanjutkan, “Aku suka Iwan Fals karena kau
menyukainya.”