Kamis, 14 Maret 2013

Jemari


          Sebuah akun puisi menantang dengan kata “jemari”. Aku lantas teringat kepadanya. Dia yang dulu pernah mengulurkan tangan kepadaku dua kali. Ya, dua kali. Itu pun aku tak sanggup memandang wajahnya.
          Pertama, saat latihan paskibra. Kala itu kami diminta baris-berbaris di selokan. Dalamnya kira-kira sebetis. Tangannya terulur sewaktu aku membutuhkan bantuan untuk naik ke jalan.
          Tangan-tangan kurus itu menyapa jemariku.
          Kedua, ketika berkeliling Pulau Rambut. Aku sekelompok dengannya. Ah, apa kautahu senangnya aku? Tangannya berperan membantuku melewati hutan bakau yang sedang pasang. Air mencapai pinggul. Kakiku sempat terperosok—saat itulah jemarinya menyapa.
          Mengingatnya, dengan kata kunci “jemari”, aku anggit sebuah puisi:

          Melalui jemari
          segala rasa terulur,
          tersampaikan
          —kita tak perlu bicara apa-apa.

          Kautahu,
          jemariku selalu ingat jejak tanganmu
          —dan mereka sudah tahu,
          tangan itu tak lagi menyapa mereka
          seterusnya. 

Rabu, 13 Maret 2013

Muncul dari Kotak Tisu


Aku bicara ini-itu kepadamu.
Tanganku sibuk memperkuat ceritaku.
Kamu memandangku lekat-lekat
lalu bertanya tanpa aba-aba,
“Dari mana kamu muncul?”

Aku, antara tak acuh, tetapi merasa perlu menjawab,
hanya menyahut,
“Aku muncul dari kotak tisu,
dilahirkan oleh batu.
Semua tahu.
Kamu aja yang belum tahu.”

Berikutnya, kubiarkan kamu ternganga
dan aku melanjutkan ceritaku.

(Rawamangun, 8 Maret 2013)

Senin, 11 Maret 2013

Sepatu Cadangan Cinderella


          Berangkatlah Cinderella menuju pesta di istana. Gaun pink-biru berkrinolonnya bergoyang-goyang ketika ia berjalan. Ia harus buru-buru. Pukul 00.00 nanti tak ada lagi kereta kencana, tak ada lagi gaun cantik, dan tak ada lagi sepatu kacanya. Semuanya akan kembali ke bentuk semula: kereta kencana menjadi labu, gaun cantik menjadi pakaian kumalnya, dan sepatu kaca menjadi sandal jepit. Menyadari hal itu, ia membawa sepatu kaca cadangan yang memang asli, bukan hasil sihiran ibu peri.
          Sesampainya di istana, ia berlaku sebagaimana dituturkan Juru Cerita. Ia tampil memukau, berdansa dengan pangeran, lalu berlari saat jam istana mulai berdentang dua belas kali. Ketika akan mencapai taman, ia berhenti sebentar untuk melakukan rencananya: meninggalkan sepatu kaca cadangan—yang asli, bukan sihiran—di selasar istana. Sebelum berlari kembali, ia memastikan bahwa yang berlari di belakangnya adalah pangeran sendiri.
          Berikutnya, di sanalah ia. Di balik semak. Berbaju dengan banyak ventilasi dan bersandal jepit. Ia tersenyum puas saat melihat pangeran mengambil sepatu itu.
          Kita pun tahu kelanjutan kisah itu.


Surat untuk Mbak Cantik


Bekasi, 8 Maret 2013

Dear Mbak Cantik yang di sana,
      salam kenal.
     Begini, Mbak, apakah Mbak sadar kalau Mbak begitu cantik?
     Saya yakin, selain berwajah cantik, Mbak juga sangat, sangat, sangat baik hati.
     Maksud sampainya surat ini ke mata Mbak tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyatakan rasa kagum saya terhadap kecantikan dan keluhuran budi Mbak. Tahukah, Mbak, dengan kecantikan dan kebaikan Mbak itu, Mbak bisa mendapatkan siapa pun yang Mbak mau. Lelaki mana pun pasti takluk di hadapan Mbak dan mau melakukan apa pun yang Mbak minta. Ya, kan?
     Saya yakin dugaan saya tidak salah. Oleh sebab itu, Mbak, cari saja lelaki tampan seperti pangeran. Nah, biar lelaki Mbak saya yang jaga. Seumur hidup.
     Sekian.


Pengagummu,


saya.


(tulisan ini diikutsertakan dalam #PostcardfictionEdisiValentine yang termasuk dalam dark theme)

Kertas di dalam Tas



     Tahu-tahu tasnya sudah didedel orang. Di tempat dompetnya semula berada, tergeletak secarik kertas.

"Dear penumpang,
maaf, duitnya saya ambil. KTP, SIM, dan kawan-kawannya juga terbawa karena kebetulan ada di dalam dompet. Mereka ada di tempat dan waktu yang salah. Semoga Anda nggak marah dan diberi kelancaran untuk mengurus surat-surat penting itu. Terima kasih.

sincerely,

copetmu."


(tulisan ini diikutsertakan dalam #PostcardfictionEdisiValentine yang termasuk dalam dark theme)