Kamis, 07 Maret 2013

Kuliah Bu Sakura

Kuliah Bu Sakura
hari Selasa
memberiku banyak mata
untuk melihat segala
dan kini aku sedang bercanda
dengan kertas dan pena
menulis apa-apa
tentang seorang Sephia

(31 Mei 2005)

Selasa, 05 Maret 2013

Boks Telepon Tua

Seorang wanita berjalan tanpa rencana
ke arah boks telepon merah yang sudah tua
“Yah, memang, semua menua.
Kamu, boks telepon, menua.
Pun, rasaku. Menua.”
Ia melangkah masuk ke dalam boks telepon itu
lalu mengangkat gagangnya.
Sambil menekan nomor tertentu
yang tampak sudah dihafalnya,
pikirannya berkelana.

(Jaticempaka, 27 Februari 2013) 

Senin, 04 Maret 2013

Ruangan Merah Muda


          Kamu-kamu-kamu-kamu-kamu-kamu.
          Ada suara lamat-lamat kudengar.
          Kamu-kamu-kamu-kamu-kamu-kamu.
          Kuduga suara bersumber dari ruangan itu. Ruang merah muda di sudut itu. Aku berjalan mendekat.
          Kamu-kamu-kamu-kamu-kamu-kamu.
          Suara itu terdengar makin jelas. Ini memperkuat dugaanku. Sumber suara pasti dari ruangan ini.
          Kubuka perlahan pintu ruangan. Ternyata tidak dikunci. Bunyi berkeriut terdengar saat aku mendorong daun pintu ke dalam. Barangkali lama tidak dibuka.
          Ia di sana. Pria bertubuh kurus, tinggi, alis separuh, dan kuyakin ada tahi lalat di leher bagian belakangnya. Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
          Aku melihat ke arah tangan itu sejenak. Tangan kurus dengan jari panjang yang cenderung lentik dengan urat-urat menonjol di beberapa bagian punggung tangan. Tangan yang kusuka. Aku menyambut uluran tangan tersebut. Ia menjabat dengan erat, seperti biasa. Jabat erat yang katanya menandakan si empunya tangan merupakan orang yang hangat dan akrab. Memang demikianlah ia yang kukenal:
hangat
dan
akrab.

          Kamu-kamu-kamu-kamu-kamu-kamu.
          Suara tadi terdengar lagi. Lebih pelan, tetapi lebih intens. Suara itu seperti mengelilingi tempat kami berdiri. Kepalaku bergerak-gerak liar mengikuti si suara. “Suara siapa itu?” tanyaku mendesak.
          “Suaramu,” jawabnya tenang.
          Aku terkejut. “Suaraku?” Aku mencari kebenaran dari matanya. “Bagaimana bisa?”
          Ia tersenyum seolah memaklumi. “Ya, itu suaramu. Yang begitu kuat memanggil aku. Yang begitu kuat menarikmu kembali ke ruangan ini. Ruanganku.”
          Mataku melebar. Ruangannya? Apalagi ini?
          Seolah bisa membaca yang berkecamuk dalam hatiku, ia menyahut, “Ya, ruanganku. Ruangan merah muda yang kaubikin buatku. Ruang tempat kita bertemu saat merindu.” Ia memberi jeda sebelum melanjutkan lagi dengan kata-kata bernada lembut, tetapi tegas, “Ya, perempuan. Masih ada aku. Pun masih sering kamu berkunjung ke sini. Mencari aku.”

(Rawamangun, 26 Februari 2013)  

Teruntuk Lilis Sayyidah Murniasih


Jakarta, eh, Bekasi, 5 Februari 2013

Jeng Lilis,
          Tempo hari ketika saya bagikan beberapa surat saya di facebook, Jeng minta dibuatkan surat, ya?
          Melalui tulisan ini saya ingin meminta maaf kepada Jeng Lis karena belum bisa memenuhi keinginan Jeng Lis: menuliskan surat kepada Jeng Lis. Menurut saya, belum ada hal yang perlu saya sampaikan kepada Jeng. Jika saya tetap menuliskan surat padahal saya tidak ingin, saya takut nanti hasilnya malah tidak bagus. Ya, kan?
          Sekian tulisan saya. Sekali lagi maaf saya belum bisa menuliskan surat untuk Jeng Lis, ya! Pesan saya untuk Jeng: pertahankan prestasimu, gapai cita dan cintamu, bukukan kisahmu, dan tetap menjadi guru yang terbaik. Atas perhatian dari Jeng Lis, saya ucapkan terima kasih.

Salam hormat,

Ika Fitriana  

Jumat, 01 Maret 2013

Yang diinjak-injak

Dear kerikil,
              sabar ya diinjak-injak melulu. Sering-sering berdoa aja. Doa makhluk yang tertindas kan didengar Allah. Doa yang baik-baik ya. 


Salam, 


aku.