Sabtu, 06 Oktober 2012

Kalau semua hal terinspirasi dari novel



Kalau semua hal terinspirasi dari novel, barangkali ada penjara namanya "Belenggu (Armijn Pane)"..

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, barangkali ada RSJ "Salah Asuhan"..

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, barangkali ada sosmed namanya "Burung-burung Manyar (YB Mangunwijaya)"

Kalau semua terinspirasi novel, barangkali tulisan di angkot bagian belakang "Perempuan di Titik Nol (Nawal El-Sadawi)". Supirnya ibu-ibu.

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, pantat truk ada gambar perempuan, tulisannya "Ca Bau Kan (Remy Silado)".

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, ada sekolah namanya "Perahu Kertas (Dee)"

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, ada pangkalan ojek namanya "Layar Terkembang"

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, ada stasiun namanya "Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)"

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, ada salon namanya "Pudarnya Pesona Cleopatra (Habiburrahman El-Shirazy)"

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, ada warung nasi uduk namanya "Si Dul Anak Jakarta (Aman Dt Majoindo)"

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, barangkali ada talk show bertitel "Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi)". Isinya orang nyatain sesuatu.

Kalau semua terinspirasi dari buku, ada gedung pameran namanya "Lukisan Kaligrafi (A Mustofa Bisri)"

Kalau semua hal terinspirasi dari novel, ada nama jalan "Sri Sumarah" atau "Bawuk" (Umar Kayam)

Kalau semua terinspirasi dari novel, ada studio tari namanya "Ronggeng Dukuh Paruk (A Tohari)". Ortu pasti protes ;p


Sabtu, 22 September 2012

Kalo lu masih bisa bareng

Kalo lu masih bisa bareng-bareng sama temen-temen lu sekarang ini, bersyukurlah.
Kalo lu bisa ketemuan tiap hari, bersyukurlah.
Percaya sama gw, akan ada saatnya lu nggak bareng temen-temen lu lagi.
Dan yang gw tau, sih, lu akan rindu banget pastinya ma temen-temen lu.

          Adek gw yang masih kuliah pernah bilang kalo dia dan teman-temannya agak susah bikin jadwal jalan bareng. Katanya, “Susah, lho, Mbak, nyesuain dengan jadwal mereka.”
          Denger itu, gw bilang, “Itu aja masih sama-sama kuliah—yang notabene ketemu tiap hari. Coba nanti kalo udah lulus, kalo temen kamu udah ada yang jadi kepala sekolah, terus ada yang jadi supervisor restoran, ditambah udah ada yang punya anak, belom lagi yang sibuk bertapa karena terlalu asyik dengan masalah pribadinya, pasti lebih susah lagi.”
          Yap, untuk ketemuan aja seringkali harus ada yang dikorbanin. Bulan puasa lalu, misalnya, seorang kawan harus merelakan dirinya batal ke dokter—yang padahal bikin janji sama dokter itu sebulan sebelumnya—dan lebih memilih bertemu dengan kami. Subhanallah. Coba ituuuu… . Keren banget, kan, temen gw? Hehehehe… .

Alhamdulillah, terima kasih, terima kasih, terima kasih.

-Jaticempaka, 22 Agustus 2012-

Mari bangun lagi sarangmu!



-Unt. Sutardji Calzoum Bachri dan Teater Zat-

Hai, jiwa mudaku,
ada yang berteriak kepada kita
mempertanyakan tentang telur-telur kita
anak-anak yang lahir dari rahim kita.

Mari kita lihat pada diri kita
apa yang kita punya.

Nah, ya, mari masuk ke diri masing-masing.
Di situ kita temukan
segala keperluan bertelur:
jiwa yang muda,
otak yang muda,
hati yang muda.

Jika kaubilang
tak punya sarang untuk bertelur,
marilah kita bangun lagi sarang
karena di sarang itu, tempat kita bertelur:
bertelur berisik
atau bertelur diam-diam.

-Jaticempaka, 17 Agustus 2012-

Selasa, 18 September 2012

untouchable



       Tiap pulang kerja, saya sering melihat tulisan untouchable dicoret entah siapa di tembok. Untouchable, tak tersentuh. Nggak ngerti gimana cara kerjanya, otak saya langsung membayangkan seorang perempuan matang, mapan, lajang.
          Saya memang pernah berpikir tentang ini. Tentang perempuan matang yang sudah mapan, tetapi masih lajang. Siapa orangnya, lelaki mana kiranya, yang dengan gagah berani mendekatinya?
          Laki-laki mana pun saya pikir akan jiper kalo ketemu perempuan seperti ini. Lantas saya kepikiran dua hal—ah, saya minta maaf, bukankah perempuan suka sekali berasumsi?—yaitu: (1) si laki-laki harus “melebihi” apa yang dipunyai perempuan, atau (2) si perempuan mencari cara agar si lelaki tampak melebihinya. Kenapa saya bilang begitu? Em, ini atas pengamatan suka-suka saya aja, sih, laki-laki nggak suka perempuan melebihi dia. Kalaupun ada lelaki begini, lelaki berhati lapang dan berjidat lapang (maksudnya pikirannya luas gitu karena bisa menerima hal  itu) pasti jaaaraaaaanggg banget. Kalo ada, sini saya ajak salaman.
          Tiap orang punya kelebihannya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu harus digunakan untuk melengkapi kekurangan-kekurangan orang terkasih kita. Kalau semua orang berpikir begini, pasti nggak ada minder, nggak ada rendah diri—terutama yang kaitannya dengan gender.
          Kalo emang si perempuan “lebih” dari laki-laki ya akuin aja, terima. Kalo nggak suka, misalnya karena si perempuan kuliah sedangkan laki-lakinya tidak, ya tinggal kuliah lagi. Semua ada jalan keluarnya, kan? Yaaaa… kecuali emang dasarnya pengecut. Susah. Harusnya kan jangan biarin rasa minder meraja di dirinya.
          Ehm, oke (benerin jilbab), nggak maksud marah-marah sih sayanya, cuma jadi kebawa emosi aja. Maklumlah, darah muda. Btw, buat perempuan-perempuan yang secara kasat mata dianggap “untouchable” tetap semangat, ya! Jiwa yang besar untuk jiwa yang besar pula. Jangan harapkan laki-laki berjiwa sempit. Hih. *eh? Lah?*

Waktu dan aku



dan kautatap waktu
mengharap jawab tentang aku

kauasah sendiri rindu
ibarat peluru
siap kauhunjam ke hatiku

rindumu mendesakku
menggeret waktu
semua jadi buru-buru
aku terbunuh dalam cemburu

oh, waktu, cintaku,
oh, waktu, rinduku,
oh, waktu, cemburuku

asal kau tahu, waktuku,
aku masih di sini
menunggumu bersama hati
yang masih sama dengan sebelumnya.

asal kau tahu, rinduku,
jangan buat waktu ini
mengikatku mati cemburu

asal kau tahu, Tuanku,
bebaskan aku dari rasa rindu
yang memenjaraku

bebaskan aku, bebaskan aku
dari rindu, dari cemburu
hampiri aku, bunuhlah waktu.



-Jaticempaka, 18 Agustus 2012 (00:17)-